Badan Geologi Turunkan Tim Tanggap Darurat Gempa Bumi Ke Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua

1. Latar Belakang

Pada hari hari Jumat tanggal 15 Juni 2018, pukul 07:57:15 WIB bertepatan dengan hari raya Idul Fitri tahun 1439 H (Hijriah), telah terjadi gempa bumi tektonik di daerah Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua. Menurut informasi BMKG lokasi pusat gempa bumi terletak di darat pada koordinat 1,97°LS dan 138,93°BT, berjarak sekitar 23 km tenggara kota Sarmi, dengan kedalaman 10 km dan kekuatan/ magnitudo 5,7 SR (Skala Richter). Kejadian gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami karena lokasi pusat gempa bumi terletak di darat, namun telah mengakibatkan terjadinya bencana di Kabupaten Sarmi. Wilayah Kabupaten Sarmi ditempuh melalui jalan darat dari Kota Jayapura dengan waktu tempuh selama 8 jam. Kondisi jalan cukup bagus, namun di beberapa tempat masih berupa jalan tanah. Sebagian besar jembatan di daerah Sarmi masih terbuat dari kayu, dan di beberapa lokasi masih tanpa jembatan, sehingga kendaraan harus melewati sungai.

Dampak dari kejadian gempa bumi Sarmi tanggal 15 Juni 2018 tersebut sempat menimbulkan polemik. BNPB pada berita on line menyatakan bahwa kejadian gempa bumi tersebut telah mengakibatkan 3 orang luka berat dan 118 bangunan mengalami kerusakan, namun Bupati Sarmi melalui berita on line pada tanggal 17 Juni 2018 menyatakan bahwa semuanya baik – baik saja setelah kejadian gempa bumi tersebut.

 

2. Tim Tanggap Darurat Badan Geologi

Sehubungan dengan kejadian tersebut dan untuk memverifikasi dampak dari kejadian gempa bumi Sarmi tanggal 15 Juni 2018, maka Badan Geologi (BG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menurunkan Tim Tanggap Darurat (TTD) ke lokasi bencana, yaitu : Drs. Cecep Sulaiman sebagai kepala tim dengan anggota Dr. Supartoyo dan Fadlianto Nurfalah. TTD BG melaksanakan tugas dari tanggal 18 hingga 24 Juni 2018, pada saat masih cuti bersama. Pada pelaksanaan survei lapangan, TTD BG didampingi oleh Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sarmi yang terdiri-dari : Yan Luwunaung, SIP, M.Si (Kepala BPBD Kabupaten Sarmi), Adithia Irfan Ramandey, Amd Tek, Melkias Luwunaung, Ham Marbo, Deky Komboi, Amd Tek).

TTD BG bertugas untuk melakukan koordinasi dengan instansi terkait penanggulangan bencana, pemeriksaan dampak gempa bumi dan kondisi geologi setempat, melakukan pengukuran mikrotremor untuk mengetahui karakteristik tanah setempat, identifikasi sumber gempa bumi, dan melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat dan aparat pemerintah setempat tentang gempa bumi dan bencana geologi. TTD BG nantinya akan memberikan rekomendasi teknis terkait upaya mitigasi gempa bumi kepada Gubernur Papua, Bupati Sarmi dan instansi terkait lainnya di Provinsi Papua dan Kabupaten Sarmi berkaitan kejadian gempa bumi tanggal 15 Juni 2018.

 

3. Hasil Sementara

Berdasarkan posisi lokasi pusat gempa bumi dan dampaknya, maka kejadian gempa bumi tersebut diakibatkan oleh sesar aktif. Data mekanisme sumber dari GFZ Jerman memperlihatkan penyebab gempa bumi tersebut adalah sesar normal. Kejadian gempa bumi tersebut diikuti oleh kejadian gempa bumi susulan setelah kejadian gempa bumi utama.

Daerah Distrik Fee’en, Kabupaten Sarmi merupakan daerah yang terletak dekat dengan lokasi pusat gempa bumi. Daerah tersebut merupakan dataran yang berbatasan dengan perbukitan terjal pada bagian selatan. Berdasarkan peta geologi lembar Sarmi dan Bufareh yang diterbitkan oleh Pusat Survei Geologi, Badan Geologi tahun 1995 dan pengamatan lapangan, dataran tersebut merupakan dataran pantai yang tersusun oleh endapan Kuarter berupa endapan aluvial yaitu aluvial pantai, aluvial sungai dan endapan rawa. Endapan Kuarter tersebut bersifat urai, lepas, belum kompak, memperkuat efek goncangan/amplifikasi, sehingga rawan terhadap goncangan gempa bumi.

Berdasarkan pendataan lapangan kejadian gempa bumi tersebut mengakibatkan bencana berupa korban luka-luka dan kerusakan bangunan pada 2 distrik, yaitu Distrik Sarmi Kota dan Fee’en. Di Distrik Sarmi Kota 2 orang luka – luka, 12 bangunan rusak ringan, dan tembok pagar roboh. Di Distrik Fee’en 1 bangunan rusak sedang, 32 bangunan rusak ringan. Korban luka-luka terjadi akibat tertimpa runtuhan bangunan. Bangunan rusak sedang terdapat di Kampung Moarator, Distrik Fee’en berupa lepasnya tembok pada bagian sudut rumah dari ikatan tiang dan balok. Adapun bangunan yang mengalami rusak ringan berupa retakan dinding, terkelupasnya plester dinding dan retakan lantai. Pengamatan lapangan memperlihatkan bahwa skala intensitas gempa bumi maksimum terjadi di Distrik Fee’en dan Sarmi Kota pada skala V MMI. Kerusakan bangunan yang terjadi diakibatkan oleh beberapa faktor, yaitu : jarak yang dekat dengan sumber gempa bumi; kondisi bangunan yang tidak mengikuti kaidah bangunan tahan gempa bumi; terletak pada endapan Kuarter yang bersifat urai, lepas, lunak dan belum kompak (unconsolidated).

Berdasarkan hasil wawancara dengan warga di Distrik Sarmi Kota, daerah Sarmi pernah mengalami gempa bumi kuat pada tahun 1967. Kejadian gempa bumi yang diikuti tsunami di Jepang tahun 2012 mencapai pantai barat Sarmi dan mengakibatkan puluhan rumah mengalami kerusakan. Penduduk daerah Sarmi belum sepenuhnya memperoleh informasi tentang antisipasi menghadapi gempa bumi dan tsunami. Mereka belum mendapat kegiatan sosialisasi, simulasi dan wajib latih tentang bencana geologi. Oleh karena daerah Sarmi merupakan daerah rawan gempa bumi yang bersumber dari aktivitas sesar aktif di darat dan zona penunjaman di bagian utara yang terletak di laut, maka harus dilakukan upaya mitigasi untuk mengurangi risiko bencana gempa bumi yang mungkin akan terulang di kemudian hari.

 

4. Parameter gempa bumi

Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, tanggal 15 Juni 2018, pukul 07:57:15 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,97°LS dan 138,93°BT, dengan magnitudo 5,7 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 63 km barat laut Sarmi, Papua.

 

5. Kondisi geologi daerah terdampak gempa bumi

Daerah terdampak gempa bumi yaitu di pesisir pantai di Kabupaten Sarmi. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sarmi dan Bufareh yang dikeluarkan oleh Pusat Survei Geologi, Badan Geologi tahun 1995 dan pengamatan lapangan, wilayah ini umumnya tersusun oleh aluvium berumur Kuarter berupa endapan sungai, endapan pantai dan endapan rawa. Hanya di beberapa tempat  yang tersusun oleh batuan lain dengan sebaran yang sempit seperti di Tanjung Sarmi tersusun oleh batu gamping koral berumur Kuarter, Sawar dan sebagian daerah Maffin oleh Formasi Jayapura (batu gamping terumbu dengan sisipan konglomerat) berumur Kuarter.

 

6. Penyebab gempa bumi

Secara tektonik, wilayah Kabupaten Sarmi, Papua diantaranya dipengaruhi oleh penunjaman lempeng Pasifik di utara, dan sesar di darat. Data mekanisme sumber gempa bumi dari GFZ Jerman memperlihatkan jenis gempa bumi tersebut adalah sesar normal.  Berdasarkan posisi dan kedalamannya serta mekanismenya, gempa bumi tanggal 15 Juni 2018 diperkirakan berhubungan dengan aktivitas sesar aktif di daerah tersebut.

 

7. Dampak gempa bumi

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan bersama BPBD Kabupaten Sarmi, gempa bumi ini mengakibatkan dua orang luka dan 45 bangunan rusak di Distrik Sarmi  Kota dan Fee'en (Tabel 1). Di Distrik Sarmi Kota tercatat 2 orang luka – luka, 12 bangunan rusak ringan. Di Distrik Fee’en tercatat 1 bangunan rusak sedang, 32 bangunan rusak ringan. Korban luka-luka akibat tertimpa runtuhan bangunan. Bangunan yang rusak umumnya berupa retakan kecil di dinding, lantai, dan lapisan semen mengelupas di sudut dinding. Bangunan yang rusak umumnya tersusun dari bata tanpa diperkuat dengan kolom besi. Sementara rumah yang terbuat dari kayu tidak rusak. Kerusakan bangunan diakibatkan oleh beberapa faktor, yaitu : jarak yang dekat dengan sumber gempa bumi, kondisi bangunan yang tidak mengikuti kaidah bangunan tahan gempa bumi, terletak pada endapan Kuarter yang bersifat urai, lepas, lunak dan belum kompak (unconsolidated). Pengamatan lapangan memperlihatkan bahwa skala intensitas gempa bumi maksimum terjadi di Distrik Fee'en dan Sarmi Kota pada skala V MMI.

Tabel 1. Kerusakan bangunan akibat gempa bumi 15 Juni 2018

Sami 1 (290618)

Berdasarkan hasil pengukuran mikrotremor menunjukkan daerah terlanda gempa bumi di Distrik Sarmi Kota dan Fee'en, tanah di daerah ini termasuk ke dalam kategori  kelas tanah lunak yang dicirikan dengan periode dominan lebih besar dari 0,6 detik (Tabel 2). Kelas tanah lunak memiliki karakteristik paling besar memperkuat guncangan gempa bumi.

Tabel 2. Periode dominan mikrotremor daerah terlanda gempa bumi

Sami 2 (290618)

8. Kesimpulan

  • Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 15 Juni 2018 diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif di daerah Kabupaten Sarmi.
  • Gempa bumi susulan masih mungkin terjadi dengan kekuatan (magnitudo) dan jumlah kejadiannya  menurun.
  • Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, kejadian gempa bumi tanggal 15 Juni 2018 telah mengakibatkan dua orang luka dan 45 kerusakan bangunan di Distrik Sarmi Kota dan Fee'en.
  • Skala intensitas gempa bumi maksimum mencapai skala V MMI (Modified Mercally Intensity).
  • Kerusakan bangunan diakibatkan oleh beberapa faktor, yaitu diantaranya jarak yang dekat dengan sumber gempa bumi, konstruksi bangunan yang tidak memenuhi kaidah bangunan tahan gempa bumi, tanah tersusun oleh tanah lunak berupa aluvial.
  • Wilayah Kabupaten Sarmi  merupakan wilayah rawan gempa bumi dengan kategori tinggi yang berpotensi terlanda gempa bumi dengan intensitas lebih dari VIII MMI.

 

9. Rekomendasi

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap  tenang dan mengikuti arahan serta  informasi dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah  dan  Pemerintah setempat serta tidak mudah terpancing oleh isu - isu yang tidak bertanggung jawab mengenai kejadian gempa bumi dan  tsunami.
  • Agar Pemerintah Provinsi Papua/ Kabupaten Sarmi melakukan upaya mitigasi gempabumi, khususnya mitigasi non struktural yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi kejadian gempabumi melalui kegiatan sosialisasi, simulasi dan wajib latih gempa bumi.
  • Agar dalam membangun konstruksi hunian mengikuti kaidah bangunan tahan gempa bumi.
  • Agar menghindari membangun pada tanah urug yang tidak memenuhi persyaratan teknis, karena rawan terhadap goncangan gempa bumi.
  • Agar menghindari membangun di bawah lereng terjal yang berpotensi terjadi gerakan tanah yang dipicu oleh getaran gempa bumi
  • Agar Pemerintah Kabupaten Sarmi merevisi RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dengan mempertimbangkan aspek mitigasi bencana geologi yang tertuang dalam peta kawasan rawan bencana geologi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencakup bencana gunungapi, gempa bumi, tsunami dan gerakan tanah.
  • Agar Pemerintah Kabupaten Sarmi memasukkan materi kebencanaan  geologi (gempa bumi, tsunami, gunungapi, dan gerakan tanah) ke dalam kurikulum pendidikan sebagai muatan lokal atau sebagai salah satu materi dalam kegiatan ekstra kurikuler.

 

Sami 3 (290618)

Gambar 1.Peta pusat gempa bumi tanggal 15 Juni 2018

 

sarmi-1

Gambar 2. Peta intensitas dan pusat gempa bumi tanggal 15 Juni 2018.

 

Sami 4 (290618)

Gambar 3. Peta kawasan rawan bencana gempa bumi Provinsi Papua. Kotak hitam merupakan daerah bencana yang termasuk pada kawasan rawan bencana gempa bumi tinggi dengan intensitas di atas VIII MMI (Sumber : Badan Geologi, 2012).


sarmi-2

Gambar 2. Foto bersama setelah melapor, koordinasi dan diskusi dengan Kepala BPBD Kabupaten Sarmi (Bpk Yan Luwunaung, SIP, M.Si posisi di tengah).


sarmi-3

Gambar 4 Foto bersama TTD dan tim BPBD Kabupaten Sarmi setelah melakukan survei lapangan pada rumah penduduk yang mengalami rusak sedang di Kampung Moarator, Distrik Fee’en.


sarmi-4

Gambar 5. Korban luka-luka akibat tertimpa material bangunan (Sdr Kiat) memperlihatkan tempat dimana tertimpa material bangunan sewaktu terjadi gempa bumi.


sarmi-5

Gambar 6. Pagar roboh milik Bapak Abeng di Kampung Mararena, Distrik Sarmi Kota akibat gempa bumi tanggal 15 Juni 2018.


sarmi-6

Gambar 7. Retakan lantai rumah penduduk di Kampung Nidam, Distrik Sarmi Kota akibat gempa bumi tanggal 15 Juni 2018.


sarmi-7

Gambar 8. Diskusi tentang gempa bumi dengan Kepala Kampung Nikatidi, Distrik Fee’en (Bpk Adrian Yawa, posisi paling kiri).