Gempabumi Merusak Kabupaten Sumenep Pada H-2 Idul Fitri, Pvmbg Terjunkan Tim Tanggap Darurat

Kejadian gempa bumi memang tidak pernah mengenal waktu, bisa terjadi kapan saja, tanpa bisa dicegah maupun dihindari. Seperti halnya gempa bumi di Pulau Madura, Jawa Timur, yang terjadi pada tanggal 13 Juni 2018 atau dua hari sebelum hari raya Idul Fitri 1439 H. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa bumi tersebut berpusat di darat, tepatnya di wilayah Kabupaten Sumenep bagian timur laut, pada kedalaman 12 km dengan kekuatan M 4,8 (disebut Gempa bumi Seumenep). Gempa bumi Sumenep terjadi pada pukul 20:06 WIB tersebut menyebabkan kerusakan serta menimbulkan kepanikan masyarakat di wilayah Kabupaten Sumenep. Tanpa mengenal waktu pula, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep segera terjun ke lapangan guna melakukan pemeriksaan dan upaya penanggulangan bencana termasuk pendirika Posko bencana. Begitu pula dengan Badan Geologi KESDM yang mengirimkan Tim Tanggap Darurat (TD) dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tepat pada hari Raya Idul Fitri, guna melakukan pemeriksaan serta kajian geologi terkait gempa merusak tersebut.

Setibanya di lokasi bencana, Tim TD PVMBG yang dikepalai Athanasius Cipta melakukan koordinasi dan bertukar informasi dengan BPBD Kabupaten Sumenep (Gambar 1). Berdasarkan pendataan BPBD Kabupaten Sumenep, gempa bumi mengakibatkan 37 rumah mengalami kerusakan berat, 93 rumah rusak ringan, 2 mesjid rusak berat, 1 mushola dan 1 pondok pesantren mengalami kerusakan ringan, serta mengakibatkan tiga orang luka-luka. Kerusakan berat terjadi di Desa Bula’an dan Desa Sergang, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Sumenep. Di lokasi bencana, Tim TD PVMBG juga melakukan pemeriksaan dampak gempa bumi, pengukuran mikrotremor, serta sosialisasi langsung kepada masyarakat dan relawan (gambar 1).

Gempa sumenep 1 (280618)

Gambar 1. Kegiatan Tim Tanggap Darurat PVMBG di lokasi bencana Gempa bumi Sumenep 13 Juni 2018

Hasil Survey Tim TD PVMBG

Berdasarkan katalog gempa bumi merusak dan didukung oleh informasi dari masyarakat sekitar, tidak ada sejarah kejadian gempa bumi merusak di wilayah Pulau Madura yang tercatat sebelum kejadian 13 Juni 2018. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa gempa bumi dengan kekuatan serupa pernah juga terjadi pada jaman dahulu kala. Secara Tektonik, sebagian besar Pulau Madura merupakan bagian dari Rembang—Madura-Kangean-Sakala Fault Zone (RMKS) yang tercermin dari pebukitan rendah yang memanjang berarah barat-timur. Pusat gempa bumi 13 Juni 2018 berada pada RMKS. Beberapa gempa bumi sebelumnya juga berpusat di zona RMKS, hal ini menunjukkan bahwa zona sesar ini masih aktif dan dapat mengancam Pulau Madura (Gambar 2). Beberapa sesar normal berlokasi di selatan Pulau Madura, membentuk suatu depresi  yang dikenal sebagai Selat Madura, yang menerus mulai dari depresi Kendeng di Jawa Tengah dan menerus hingga Lombok. Zona sesar Kendeng ini berpotensi menghasilkan gempa bumi yang mengancam Pulau Madura dari sebelah selatan (Gambar 2).

Berdasarkan pemeriksaan Tim TD PVMBG, guncangan gempa bumi dirasakan dengan intensitas maksimum sebesar VI-VII MMI (Modified Mercalli Intensity) di Dusun Banno I dan Dusun Bajur di Desa Bulla‘an serta Desa Sergang (Kecamatan Batu Putih), V-VI MMI di Desa Manjingan (Kecamatan Batuputih) dan Desa Dasuk Timur (Kecamatan Dasuk). Sedangkan di Kota Sumenep, guncangan gempa bumi terasa pada intensitas II-III MMI (Gambar 2). Hasil pengukuran dan pengolahan data mikrotremor mengindikasikan adanya faktor penguatan gelombang gempa bumi yang hanya berkontribusi sedikit pada kerusakan bangunan, khususnya di Desa Bajur dan Desa Sergang. Sebagian besar faktor penyebab kerusakan adalah kondisi bangunan yang buruk yang tidak mengikuti kaidah bangunan tahan gempa bumi (gambar 3). Struktur dinding bangunan di lokasi terdampak pada umumnya menggunakan adonan perekat (campuran tanahliat dan bubuk gamping) yang lebih tebal dibanding bata. Struktur seperti ini menyebabkan tembok rentan terhadap guncangan lateral. Di Desa Bajur, mesjid yang konstruksinya jauh lebih baik daripada bangunan lain di sekitarnya, juga mengalami kerusakan. Amplifikasi gelombang gempa bumi di desa ini menyebabkan tanah timbunan tempat mesjid berdiri mengalami amblesan dan pada gilirannya merusak bangunan mesjid ini.

Gempa sumenep 2 (280618)

Gambar 2. Peta struktur Pulau Madura dan sekitarnya (kiri) dan peta intensitas guncangan Gempa bumi Sumenep

 

Gempa sumenep 3 (280618)

Gambar 3. Foto-Foto kerusakan akibat Gempa bumi Sumenep

Rekomendasi

Gempa Bumi Sumenep 13 Juni 2018 membuktikan bahwa zona patahan yang melalui Pulau Madura tersebut aktif dan dengan demikian Pulau Madura termasuk wilayah yang rawan bencana gempa bumi, untuk itu upaya mitigasi bencana gempa bumi perlu dilakukan dan ditingkatkan di wilayah Pulau Madura. Upaya mitigasi bencana gempa bumi dapat dilakukan dengan melakukan upaya pengurangan kerentanan terhadap gempa bumi serta dengan meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemerintah daerah. Kerusakan rumah terutama disebabkan oleh konstruksi rumah yang lemah, yang dibangun dari potongan batugamping klastik yang direkatkan dengan campuran tanah liat dan serbuk gamping, tanpa tanpa rangka besi, atau rangka besi utama tidak terkunci dengan rangka besi horizontal. Oleh karena itu, disarankan untuk membangun rumah dengan konstruksi yang memenuhi kaidah tahan gempa.