Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kec. Cineam, Kec. Salawu, Dan Kec. Sukahening, Kab. Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim pasca bencana gerakan tanah di wilayah di Kecamatan Cineam,  Kecamatan Salawu dan Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, sebagai berikut:

A. Dusun Ciriri, Desa Cijulang, Kec. Cineam

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Gerakan tanah terjadi di Jalur Jalan Raya Cijulang - Karangjaya di Dusun Ciriri, Desa Cijulang terletak pada koordinat 07o 24’ 41,3” LS dan 108o 21’ 41,1” BT. Gerakan tanah terjadi sejak Januari 2016 dan berlangsung hingga sekarang.

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum morfologi lokasi bencana di jalur jalan Raya Cijulang - Karangjaya dan sekitarnya, merupakan perbukitan bergelombang agak terjal hingga terjal, dengan kemiringan lereng antara 16 - 40°. Lokasi bencana berada pada lereng yang terjal dengan kemiringan > 40o dan ketinggian antara 270 - 310 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tasikmalaya, Jawa (Budhitrisna, dkk., Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1986), batuan penyusun di daerah bencana berupa batupasir tufaan, batupasir, batupasir gampingan, konglomerat, breksi gunungapi, tufa,  batulempung tufaan, breksi tufa, breksi gampingan, batugamping,  batulempung, sisipan lignit (Formasi Bentang, Tmpb). Berdasarkan pengamatan lapangan tanah pelapukan berupa pasir tufaan berwarna coklat kekuningan sampai coklat kemerahan dengan ketebalan di atas 3 - 6 meter, yang kontak langsung dengan batulempung di bawahnya sebagai bidang gelincir.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan saat dilakukan pemeriksaan relatif cukup tinggi dikarenakan musim hujan masih berlangsung. Terdapat mata air yang mengalir dari tebing bekas longsoran.
  • Tata guna lahan: Tata lahan di sekitar lokasi bencana pada lereng atas berupa kebun campuran dan pemukiman, pada lereng bagian tengah berupa jalur jalan, sedangkan lereng bawah berupa perkebunan salak dan sebagian kecil kelapa.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Tasikmalaya (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk ke zona kerentanan gerakan tanah Menengah artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Badan Jalan Raya Cijulang - Karangjaya mengalami longsoran bahan rombakan dengan ketinggian 2,8 meter, sepanjang kurang lebih 23 meter. Mahkota longsoran berbentuk tapal kuda yang membentang relatif ke arah barat daya. Arah gerakan tanah umumnya N 45º E.

Dampak Gerakan Tanah:

  • Badan jalan rusak berat dan menghambat lalu lintas.

 

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Tanah pelapukan yang tebal dan bersifat poros dan jenuh air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga air hujan terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana sehingga mempercepat berkembangnya longsor.
  • Kemiringan lereng yang agak terjal sampai sangat terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.

 

5.  Rekomendasi:

Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak (longsoran, nendatan, retakan dan amblasan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama. Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Pengguna jalan harus waspada bila melalui jalur jalan ini karena daerahnya termasuk daerah rawan longsor tinggi, terutama pada waktu hujan.
  • Sebelum ada perbaikan permanen maka sebaiknya membatasi jumlah muatan kendaraan bermotor yang melewati jalur jalan tersebut.
  • Membangun kembali jalan dengan mengikuti kaidah teknik yang sesuai kondisi geologi setempat dan memperhitungkan beban kendaraan yang melintasi jalur jalan tersebut.
  • Pengendalian air permukaan, bagian permukaan tanah timbunan pada kiri kanan badan jalan agar di semen (kedap), agar air permukaan tidak masuk ke dalam tanah timbunan/badan jalan.
  • Membuat dinding penahan (retaining wall) pada tebing jalan yang longsor dengan pondasi menembus batuan dasar dengan pondasi tiang pancang.
  • Guna meningkatkan kewaspadaan pengguna jalur jalan ini, Pemerintah Kabupaten (BPBD dan pemda setempat) hendaknya memasang rambu peringatan rawan longsor yang permanen, karena jalur ini rawan longsor tinggi. Juga menyiapkan peralatan berat jika sewaktu-waktu terjadi longsor dapat digunakan untuk membersihkan material longsoran.

 

B. Kampung Cinehel, Desa Tanjungsari, Kec. Salawu

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Bencana gerakan tanah terjadi di Kampung Cinehel, Desa Tanjungsari, Kec. Salawu, Kab. Tasikmalaya, dengan koordinat gerakan tanah 07o 21’ 52, 3” LS dan 107o 58’ 43,3” BT. Bencana gerakan tanah kerap terjadi di daerah ini setiap musim hujan, namun mulai secara intensif berkembang sejak November 2016 setelah turun hujan dengan intensitas tinggi. Pada saat pemeriksaan, gerakan tanah masih berlangsung.

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum morfologi lokasi bencana di Kampung Cinehel dan sekitarnya, merupakan perbukitan bergelombang agak terjal hingga terjal, dengan kemiringan lereng antara 10 - 45°, ketinggian antara 675 - 750 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tasikmalaya, Jawa (Budhitrisna, dkk., Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1986), kondisi geologi daerah bencana dan sekitarnya disusun atas Hasil Gunungapi Tua (QTvk) berupa breksi gunungapi, breksi aliran, tufa, dan lava bersusunan andesit sampai basal.   Berdasarkan pengamatan lapangan tingkat pelapukan sedang, tanah pelapukan berupa pasir lempungan berwarna coklat tua sampai coklat kemerahan dengan ketebalan di atas 0,5 - 2 meter.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan saat dilakukan pemeriksaan, relatif cukup tinggi dengan adanya sekitar 68 titik mata air dari Bukit Ciherang yang mengalir baik di musim hujan maupun pada musim kemarau. Mata air dimanfaatkan sebagai sumber air rumah tangga dan untuk pertanian (pesawahan).
  • Tata guna lahan: Lahan di lokasi gerakan tanah dimanfaatkan umumnya sebagai kebun campuran dan pemukiman di bagian lereng bagian atas sampai lereng tengah, sedangkan lereng bagian bawah berupa pesawahan dengan pemukiman setempat-setempat.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Tasikmalaya (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk ke zona kerentanan gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Jenis gerakan tanah adalah rayapan (creeping) yang ditunjukkan dengan retakan-retakan, nendatan, dan amblasan pada tanah dan rumah penduduk. Retakan tersebar dari lereng bagian atas hingga bagian bawahnya. Arah retakan relatif seragam dengan kisaran N 65° E sampai N 80° E, ke arah tenggara.

Dampak bencana:

  • 6 (enam) rumah permanen rusak berat
  • 6 (enam) rumah non permanen rusak berat
  • 8 (delapan) rumah permanen rusak sedang
  • 39 rumah non permanen rusak sedang
  • Total 64 KK, 207 penduduk terancam gerakan tanah susulan

 

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Tanah pelapukan yang bersifat poros dan jenuh air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Di lain pihak daya dukung tanah berkurang akibat tingginya kandungan air di dalam tanah, hal ini dikarenakan sistem drainase permukaan yang kurang baik dimana seluruh air permukaan baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke dalam tanah dan mempercepat berkembangnya longsor
  • Kemiringan lereng yang agak terjal sampai sangat terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.

 

6.  Rekomendasi:

Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak (longsoran tipe cepat, nendatan, retakan dan amblasan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama. Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

Jangka Pendek:

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan. Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, segera mengungsi ke tempat yang lebih lama.
  • Selalu memantau perkembangan retakan/amblasan yang ada pada lereng atas yang digunakan lahan kebun campuran (lihat foto 4) dan jika terjadi perkembangan yang cepat atau jika pada tekuk lereng muncul rembesan/mata air keruh dan lumpur maka rumah-rumah yang berada di bawah lereng tersebut segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang (BPBD dan pemda setempat) untuk menyampaikan peringatan kepada penduduk yang beraktivitas di sekitar bencana, untuk antisipasi jika terjadi longsoran tipe cepat.
  • Retakan-retakan di sekitar pemukiman dan yang muncul di lereng atas, segera dilakukan penutupan dengan tanah lempung/liat dan dipadatkan untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

Jangka Menengah dan Panjang:

  • Pemukiman yang terkena rayapan di Kampung Cinehel, Desa Tanjungsari masih layak huni, jika pemukiman dipertahankan maka dengan syarat:
  • Pengarahan aliran air (air hujan, air limbah rumah tangga, dan mata air) menjauh dari retakan, langsung dari lereng bukit atas ke lereng bawah/ lembah/arah sungai.
  • Penataan drainase di sekitar pemukiman dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan, untuk menghindari peresapan air secara cepat yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Mengganti rumah permanen dengan bangunan yang cocok untuk wilayah ini yaitu bangunan yang mempunyai konstruksi ringan seperti rumah kayu sehingga tidak memberi beban terlalu besar terhadap lahan (foto 3).
  • Menampung mata air atau genangan air lainnya di kolam kedap air dan dialirkan secara teratur ke lereng bawah/ lembah/arah sungai, disalurkan melalui pipa-pipa/paralon yang kedap air. Kolam-kolam ini sebaiknya dibangun di lereng bagian bawah, jangan terlalu dekat dengan pemukiman atau di lereng atas (foto 5).
  • Hindari berdirinya bangunan (baik permanen maupun non permanen) di antara pesawahan basah (foto 6).
  • Jangka Panjang: jika laju gerakan tanah berkembang dengan cepat maka rumah-rumah permanen yang rusak berat dan sudah tidak layak huni direlokasi ke tempat yang aman dari ancaman gerakan tanah.

 

C. Kampung Buntar, Desa Banyuresmi, Kec. Sukahening

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Bencana gerakan tanah terjadi di Kampung Buntar, Desa Banyuresmi, Kec. Sukahening, Kab. Tasikmalaya, dengan koordinat gerakan tanah 07o 13’ 11, 8” LS dan 108o 09’ 24,9” BT. Bencana gerakan tanah kerap terjadi di daerah, namun mulai secara intensif berkembang sejak tahun 2015-2016 setelah turun hujan dengan intensitas tinggi. Pada saat pemeriksaan, gerakan tanah masih berlangsung. Daerah ini pun sering mengalami dampak/kerusakan akibat gempa bumi.

 

2.   Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi: Secara umum morfologi lokasi bencana di Kampung Buntar dan sekitarnya, merupakan perbukitan bergelombang agak terjal hingga terjal, dengan kemiringan lereng antara 5 - 35°, ketinggian antara 570 - 600 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tasikmalaya, Jawa (Budhitrisna, dkk., Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1986), kondisi geologi daerah bencana dan sekitarnya disusun atas Endapan Gunungapi muda G. Galunggung (Qvt) berupa breksi gunungapi, tufa, dan lava.  Berdasarkan pengamatan lapangan tanah pelapukan berupa pasir lempungan berwarna coklat tua dengan ketebalan di atas 0,5 - 2 meter.
  • Keairan: Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan saat dilakukan pemeriksaan, sumber air berupa air tanah dan air hujan yang dimanfaatkan sebagai sumber air rumah tangga dan untuk pertanian (pesawahan) serta kolam-kolam ikan.
  • Tata guna lahan: Lahan di lokasi gerakan tanah dari lereng atas sampai lereng bawah dimanfaatkan umumnya sebagai pemukiman,  sawah tadah hujan, kolam-kolam ikan yang umumnya ada di setiap rumah dan kebun campuran setempat-setempat.
  • Kerentanan gerakan tanah: Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Tasikmalaya (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk ke zona kerentanan gerakan tanah Rendah - Menengah artinya pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah, dapat terjadi gerakan tanah jika lereng mengalami gangguan dengan curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan.

 

3. Kondisi gerakan tanah dan akibat yang ditimbulkan:

Jenis gerakan tanah adalah rayapan (creeping) yang ditunjukkan dengan retakan-retakan pada tanah dan rumah penduduk. Retakan tersebar dari lereng bagian atas hingga bagian bawahnya. Arah retakan relatif seragam dengan kisaran N 40° E, ke arah timur.

Dampak bencana:

  • 10 (sepuluh) rumah permanen rusak berat
  • 35 rumah permanen rusak ringan

 

4.  Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah:  

Secara umum gerakan tanah disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  • Curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Tanah pelapukan yang bersifat poros dan jenuh air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Daya dukung tanah berkurang akibat tingginya kandungan air di dalam tanah, hal ini dikarenakan sistem drainase permukaan yang kurang baik di mana seluruh air permukaan baik air hujan maupun air limbah rumah tangga terakumulasi dan terkonsentrasi ke dalam tanah. Keberadaan pemukiman yang padat dan berdekatan dengan pertanian lahan basah (sawah) dan kolam-kolam ikan menambah beban tanah dan dan mempercepat berkembangnya rayapan.

 

5.  Rekomendasi:

Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak (longsoran tipe lambat/rayapan berupa nendatan, retakan dan amblasan) terutama pada waktu terjadi hujan lebat dalam waktu lama. Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

Jangka Pendek:

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Retakan-retakan di sekitar pemukiman, segera dilakukan penutupan dengan tanah lempung/liat dan dipadatkan untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

Jangka Menengah dan Panjang:

  • Pemukiman yang terkena rayapan di Kampung Buntar, Desa Banyuresmi masih layak huni, jika pemukiman dipertahankan maka dengan syarat:
  • Pengarahan aliran air (air hujan, air limbah rumah tangga, dan mata air) menjauh dari retakan, langsung dari lereng bukit atas ke lereng bawah/ lembah/arah sungai melalui saluran yang kedap air.
  • Penataan drainase di sekitar pemukiman dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan, untuk menghindari peresapan air secara cepat yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Mengganti rumah permanen dengan bangunan yang cocok untuk wilayah ini yaitu bangunan yang mempunyai konstruksi ringan/non permanen seperti rumah kayu untuk mengurangi pembebanan, atau dibangun permanen dengan mengikuti kaidah – kaidah bangunan sesuai dengan daya dukung tanah.
  • Untuk mengurangi beban tanah dan memperkuat daya dukung tanah, disarankan agar di sekitar daerah pemukiman, pesawahan, dan kolam air juga diselingi dengan penanaman tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng.
  • Jika wilayah ini pernah terkena dampak gempa bumi, besar kemungkinan akan terlanda kejadian gempa bumi lagi, namun kapan dan berapa besarnya belum bisa diprediksi. Untuk itu, sebagai upaya mitigasi, bangunan tempat tinggal dan tempat beraktivitas harus tahan gempa bumi sesuai dengan daya dukung tanah.

 

LAMPIRAN

 

Tasik 1 (170317)

Gambar 1. Peta Lokasi Bencana Gerakan Tanah Kec. Cineam,  Kec. Salawu dan Kec. Sukahening, Kab. Tasikmalaya, .Jawa Barat

 

Tasik 2 (170317)

Gambar 2. Peta Geologi Bencana Gerakan Tanah di Kec. Cineam,  Kec. Salawu dan Kec. Sukahening, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat

 

Tasik 3 (170317)

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Tasikmalaya

 

Tasik 4 (170317)

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah di Dusun Ciriri, Desa Cijulang, Kec. Cineam,  Kab. Tasikmalaya

 

Tasik 5 (170317)

Gambar 5. Penampang situasi gerakan tanah di Dusun Ciriri, Desa Cijulang, Kec. Cineam

 

Tasik 6 (170317)

Gambar 6. Peta Situasi gerakan tanah di Kampung Cinehel, Desa Tanjungsari, Kec. Salawu

 

Tasik 7 (170317)

Gambar 7. Penampang Situasi gerakan tanah di Kampung Cinehel, Desa Tanjungsari, Kec. Salawu

 

Tasik 8 (170317)

Gambar 8. Peta situasi gerakan tanah di Kampung Buntar, Desa Banyuresmi, Kec. Sukahening, Kab. Tasikmalaya

 

Tasik 9 (170317)

Gambar 9. Penampang Situasi di Kampung Buntar, Desa Banyuresmi, Kec. Sukahening

 

Tasik 10 (170317)

Foto 1. Kondisi badan Jalan Raya Cijulang - Karangjaya di Dusun Ciriri, Desa Cijulang yang mengalami longsoran bahan rombakan.

 

Tasik 11 (170317)

Foto 2. Menunjukkan retakan pada tanah di bawah rumah penduduk yang non permanen/bangunan kayu di Kampung Cinehel, Desa Tanjungsari. Segera dilakukan penutupan dengan tanah lempung/liat dan dipadatkan untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut.

 

Tasik 12 (170317)

Foto 3. Menunjukkan retakan pada lantai dan dinding rumah penduduk yang permanen di Kampung Cinehel, Desa Tanjungsari.

 

Tasik 13 (170317)

Foto 4. Menunjukkan retakan/amblasan yang ada pada lereng atas yang digunakan lahan kebun campuran (foto kanan) dan pemukiman (10 rumah non permanen) yang berada di bawah lereng bukit tersebut terancam longsoran tipe cepat (foto kiri) di Kampung Cinehel, Desa Tanjungsari.

 

Tasik 14 (170317)

Foto 5. Menunjukkan salah satu kolam penampungan mata air di Kampung Cinehel, Desa Tanjungsari.

 

Tasik 15 (170317)

Foto 6. Menunjukkan rumah-rumah yang berada di antara lahan pertanian basah di Kampung Cinehel, Desa Tanjungsari.

 

Tasik 16 (170317)

Foto 7. Menunjukkan retakan pada lantai dan dinding rumah penduduk yang permanen di Kampung Buntar, Desa Banyuresmi, Kec. Sukahening.

 

Tasik 17 (170317)

Foto 8. Menunjukkan rumah yang berdekatan dengan pertanian lahan basah dan kolam ikan yang merupakan hal umum di Kampung Buntar, Desa Banyuresmi, Kec. Sukahening. Tata lahan seperti ini yang bisa mempercepat perkembangan gerakan tanah tipe lambat di daerah ini.

 

Tasik 18 (170317)

Foto 9. Menunjukkan retakan pada lereng atas Bukit Bambu (foto kanan) agar dipantau perkembangannya karena mengancam pemukiman yang berada di bawahnya di Kampung Buntar 2, Desa Banyuresmi, Kec. Sukahening (foto kiri).

 

Tasik 19 (170317)

Foto 10. Kegiatan pemeriksaan dan sosialisasi gerakan tanah yang dilakukan petugas Badan Geologi bekerja sama dengan pihak BPBD Kab. Tasikmalaya kepada warga dan pemerintah setempat.