Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Dan Lahan Relokasi Di Kp. Cipeundeuy – Kp. Cibatu – Kp. Ciguha, Desa Malati, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

Laporan singkat hasil kajian geologi terhadap daerah yang berpotensi terjadi gerakan tanah dan tempat relokasi di Kp. Cibatu RT.02 RW.08; Kp. Ciguha RT.01 RW. 08; Kp. Cipeundeuy RT.03 RW.08; Desa Malati, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat berdasarkan surat No 362/109/BPBD/2017 tentang Permohonan Cek Lokasi dan Kajian Geologi daerah tersebut dan lahan relokasinya. 

Hasil pemeriksaan sebagai berikut: 

A. KAJIAN GEOLOGI PADA DAERAH YANG BERPOTENSI GERAKAN TANAH

1. Lokasi dan Potensi Gerakan Tanah:

Lokasi kajian geologi untuk potensi gerakan tanah terdapat pada:

  1. Kp. Cibatu RT.02 RW.08, Desa Malati dengan koordinat N 107o 20’ 00,1” E dan 07o22’ 59,8” LS, ketinggian 405m dpal dengan jumlah 20 KK. Pada lokasi ini pernah terjadi gerakan tanah berupa jatuhan batu dan aliran bahan rombakan yang menimbulkan kerusakan pada sebuah rumah.
  2. Kp. Ciguha RT.01 RW. 08, Desa Malati dengan koordinat N 107o 20’ 02,8” E dan 07o22’ 43,3” LS, ketinggian 412 m dpal dengan jumlah 42 KK. Pada lokasi ini pada tahun 2014 pernah terjadi gerakan tanah berupa jatuhan batu dan aliran bahan rombakan hingga menyebabkan kerusakan pada sawah dan merusak satu buah rumah.
  3. Kp. Cipeundeuy RT.03 RW.08, Desa Malati dengan koordinat N 107o 19’ 56,2” E dan 07o23’ 18,7” LS, ketinggian 392m dpal dengan jumlah 22 KK. Pada lokasi ini pernah terjadi gerakan tanah berupa jatuhan batu yang mengenai mushola dan aliran bahan rombakan yang mengenai satu rumah hingga rusak.

Pada saat ini lokasi tersebut diatas berupa pemukiman yang berada di lereng Gunung Gedongan.

 

2. Kondisi daerah yang berpotensi terjadi gerakan tanah:

 a. Morfologi

Morfologi kampung yang berpotensi gerakan tanah sebagai berikut:

  • Kp. Cibatu RT.02 RW.08, terletak pada lereng perbukitan terjal dengan kemiringan sekitar 30° - 45°. Lokasi gerakan tanah berada pada ketinggian lebih dari 405 meter diatas permukaan laut.
  • Kp. Ciguha RT.01 RW. 08, terletak pada lereng perbukitan agak terjal – terjal  dengan kemiringan sekitar 25° - 35°. Lokasi gerakan tanah berada pada ketinggian lebih dari 405 meter diatas permukaan laut.
  • Kp. Cipeundeuy RT.03 RW.08, terletak pada lereng perbukitan sangat terjal  dengan kemiringan sekitar > 50°. Lokasi gerakan tanah berada pada ketinggian lebih dari 405 meter diatas permukaan laut.

b. Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindang Barang dan Bandar Waru (M. Koesmono, Kusnama dan N Suwarna, 1996), secara regional batuan penyusun daerah yang berpotensi gerakan tanah merupakan batuan dari Formasi Bentang yang terdiri dari batupasir tufaan, kristal tufa, tufa batuapung dan batulempung globigerina, batulanau, batulempung napalan, breksi andesit, konglomerat, tuflapili dan breksi tufan (Tmb).

Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi, batuan dasar berupa perselingan batupasir tufaan berwarna putih kekuningan dengan batulempung dan batulanau kompak, terdapat juga breksi dengan tanah pelapukan berupa pasir tufaan dengan ketebalan 1 – 3 meter.

c. Keairan

Pada lokasi yang berpotensi gerakan tanah terdapat mata air dari bukit pada saat musim hujan ataupun musim kemarau. Kelerengan juga sangat mempengaruhi keairan dengan munculnya alur-alur kecil yang mengalir ke sungai utama yaitu sungai Cidaun.

d. Tataguna Lahan

Tata guna lahan berupa ladang dan kebun milik warga setempat yang berbatasan langsung dengan PERHUTANI. Pada lereng terjal terdapat pergantian tanaman keras menjadi bambu diatas pemukiman warga, dan sawah dibawah pemukiman warga

e. Kesampaian Daerah

Akses jalan menuju lokasi berupa jalan aspal di Desa Mangunjaya kemudian jalan akses ke Desa Malati berupa cor semen sekitar 200m dan dilanjutkan jalan desa dari batu dan tanah hingga menuju lokasi.

 

3. Kerentanan Gerakan Tanah  

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur (PVMBG, 2013) daerah rencana relokasi termasuk Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah - Tinggi artinya daerah yang mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

4. Rekomendasi

Daerah kajian termasuk kedalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah - tinggi, dan LAYAK untuk di relokasi ditempat yang lebih aman terhadap ancaman kejadian gerakan tanah, akan tetapi jika masih akan digunakan harus memenuhi syarat, sebagai berikut:

  • Bangunan harus berjarak 50 m dari lereng/tebing.
  • Tidak diperbolehkan adanya pemotongan lereng.
  • Tanaman bambu di lereng sebaiknya diganti tanaman yang berakar dalam dan kuat
  • Pembuatan sistem aliran air permukaan (drainase) pada lereng ini agar diupayakan air permukaan mengalir dengan baik, salurannya dibuat kedap air untuk mengurangi resapan air ke dalam tanah, hingga ke sungai Cidaun.
  • Pembangunan infrastruktur mitigasi gerakan tanah seperti dinding penahan, bronjong dsb dan khususnya berupa infrastruktur penahan jatuhan batu.

 

 

B. KAJIAN GEOLOGI PADA LAHAN RELOKASI 

Lokasi kajian geologi untuk tempat relokasi warga di tiga kampung yang terdiri dari 84 KK, berdasarkan permintaan warga dan perangkat desa yaitu di Puncak Seueur, kawasan PERHUTANI, koordinat N 107o 19’ 51,2” E dan 07o22’ 46” LS, dengan ketinggian 593 m dpal.

 1. Kondisi daerah rencana relokasi:

  • Morfologi, Morfologi lahan relokasi merupakan lereng perbukitan agak landai – agak terjal dengan kemiringan sekitar 5° - 15°. Lokasi gerakan tanah berada pada ketinggian lebih dari 500 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindang Barang dan Bandarwaru (M. Koesmono, Kusnama dan N Suwarna, 1996), secara regional batuan penyusun daerah yang berpotensi gerakan tanah merupakan batuan dari Formasi Koleberes yang terdiri dari batupasir tuff, berlapis baik, tuf kristal dengan sisipan tuf, breksi tufan, batuapung dan breksi andesit. Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi calon relokasi, batuan dasar berupa batupasir tufaan berwarna putih kekuningan berlapis baik dan breksi dengan tanah pelapukan tufaan dengan ketebalan 1-2 meter.
  • Keairan, Pada lokasi calon relokasi terdapat alur sungai selalu terisi air pada saat musim hujan ataupun musim kemarau yang berjarak sekitar 50 meter dari lokasi calon relokasi.
  • Tataguna Lahan dan Status Tanah, Tata guna lahan berupa hutan pinus milik PERHUTANI.
  • Kesampaian Daerah, Akses jalan menuju rencana relokasi masih berupa jalan setapak tanah milik PERHUTANI sekitar 200m dari jalan utama kabupaten.

 

2. Kerentanan Gerakan Tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Sukabumi (PVMBG, 2013) daerah rencana relokasi termasuk Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah artinya daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Rekomendasi

Lahan calon relokasi termasuk kedalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah, tetapi CUKUP LAYAK untuk dijadikan sebagai lahan relokasi dengan syarat:

  • Untuk bangunan pemukiman, lahan perlu dibuat berjenjang (terassering). Pemotongan lereng agar dilakukan secara berjenjang/terasiring dengan perbandingan minimal vertikal terhadap horisontal 1 : 2, apabila horizontal lebih besar akan lebih aman. Tidak membuat pemotongan lereng dengan sudut lereng lebih besar dari 400 dengan tinggi lereng lebih dari 1,5 meter.
  • Bangunan yang cocok untuk wilayah ini adalah bangunan yang mempunyai konstruksi ringan seperti bangunan kayu (rumah kayu/rumah panggung),
  • Pondasi Bangunan harus sampai batuan dasar.
  • Pengaturan sistem aliran air permukaan (drainase) pada lahan ini harus sedemikian rupa agar air permukaan mengalir dengan baik, salurannya dibuat kedap air untuk mengurangi resapan air ke dalam tanah,
  • Hindari kemungkinan adanya genangan air di daerah ini, air permukaan maupun limbah rumah tangga agar cepat terbuang ke sungai dengan saluran kedap atau pipa-pipa,
  • Daerah relokasi yang dikupas sebagai dampak dari pembangunan perumahan baru perlu ditanami kembali dengan tanaman penutup untuk mengurangi rembesnya air permukaan ke dalam tanah.
  • Perlu penanaman pohon-pohon keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi mengikat tanah pada lereng, tumbuhan (vegetasi) yang ada disekitar lahan relokasi supaya dipertahankan dan tidak ditebang untuk menjaga daya dukung lingkungan terhadap lahan relokasi.

 

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dari sudut pandang kajian kebencanaan geologi dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pertama :   Kp. Cibatu, Kp. Ciguha, dan Kp. Cipeundeuy RT 01-03 RW 08, LAYAK UNTUK DI RELOKASI ditempat yang lebih aman terhadap ancaman kejadian gerakan tanah, akan tetapi jika masih akan digunakan harus memenuhi syarat seperti dijelaskan diatas.

Kedua :           Sedangkan Lahan calon relokasi di Puncak Seueur milik PERHUTANI CUKUP LAYAK untuk dijadikan sebagai lahan relokasi.

 

 

LAMPIRAN

Cianjur 1 (300317)

Gambar 1. Peta Lokasi Kajian Gerakan Tanah di Desa Malati.

 

Cianjur 2 (300317)

Gambar 2. Peta Geologi Peta Kelerengan di Lokasi Kajian Gerakan Tanah Desa Malati dan sekitarnya.

 

Cianjur 3 (300317)

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah di Lokasi Kajian Desa Malati dan sekitarnya

 

Cianjur 4 (300317)

Gambar 4. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Skala 1: 7500

 

Cianjur 5 (300317)

Cianjur 6 (300317)

Gambar 5. Informasi Peta Prakiraan Gerakan Tanah pada bulan Maret 2017

 

Cianjur 7 (300317)

Gambar 6. Peta Kelerengan di Lokasi Kajian Gerakan Tanah Desa Malati dan sekitarnya

 

Cianjur 8 (300317)

Gambar 7. Peta Situasi Daerah yang berpotensi Longsor dan Area Calon Relokasi

 

Cianjur 9 (300317)

Cianjur 10 (300317)

Cianjur 11 (300317)

Gambar 8. Penampang Gerakan Tanah di area calon relokasi dan di Kp. Ciguha, Kp. Cibatu dan Kp. Cipeundeuy, Desa Malati – Kec. Naringgul.

 

LAMPIRAN FOTO

Cianjur 12 (300317)

Foto 1. Koordinasi dengan aparatur desa bersama tokoh masyarakat.

 

Cianjur 13 (300317)

Foto 2. Jalan desa menuju ke lokasi Kp. Cibatu, Kp. Cipeundeuy dan Kp. Ciguha

 

Cianjur 14 (300317)

Foto 3. Morfologi dan Penggunaan lahan di sekitar lokasi kajian.

 

Cianjur 15 (300317)

Foto 4. Rumah masyarakat yang terletak di lereng yang terjal.

 

Cianjur 16 (300317)

Foto 5. Bekas longsoran yang menyebabkan kerusakan rumah warga

 

Cianjur 17 (300317)

Foto 6. Perubahan tanaman keras menjadi tanaman bambu pada lereng.

 

Cianjur 18 (300317)

Foto 7. Litologi breksi, batupasir tufan yang masuk dalam Formasi Bentang (Tmb)

 

Cianjur 19 (300317)

Foto 8. Struktur patahan atau sesar di lereng barat desa Cipeundeuy

 

Cianjur 20 (300317)

Foto 9. Lokasi lahan calon tempat relokasi Puncak Seueur, status tanah milik PERHUTANI

 

Cianjur 21 (300317)

Foto 10. Lokasi lahan calon tempat relokasi Puncak Seueur, status tanah milik PERHUTANI