Laporan Singkat Bencana Gerakan Tanah Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Timur

Laporan singkat pemeriksaan tim tanggap darurat bencana gerakan tanah di Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur, berdasarkan surat dari BPBD Kabupaten Pacitan nomor 360/182/408.57/2017 tanggal 17 Mei 2017, sebagai berikut: 

A. Dusun Bulih, Desa Wonoanti, Kecamatan Tulakan 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian

Lokasi bencana terjadi di Dusun Bulih, Desa Wonoanti, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis daerah ini terletak pada koordinat 1110 13’ 59,3’’ BT dan 080 11’ 50’’ LS. Gerakan tanah pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2013 dan 2014 dan terakhir terjadi pada bulan September 2016.

 

2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah berupa rayapan yang dicirikan oleh adanya retakan dan amblesan pada lereng bagian atas dan bagian tengah. Gerakan tanah ini terletak pada areal gerakan tanah lama dengan arah N 2100 E, lebar 50 meter dan panjang 120 meter.

 

3. Dampak gerakan tanah:

Gerakan tanah mengakibatkan:

  • 3 (tiga) rumah rusak berat
  • 1 (satu) rumah rusak ringan
  • Badan jalan mengalami amblesan sedalam 50 cm

 

4. Kondisi daerah Gerakan Tanah:

  • Morfologi, Secara umum morfologi lokasi bencana merupakan lereng dari perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan agak terjal-terjal. Kemiringan lereng pada lokasi bencana sebesar 500 dengan ketinggian 425 - 570 m dpl.
  • Geologi, Berdasarkan peta geologi lembar Pacitan, Jawa (H.  Samodra, S. Gafoer, S. Tjokrosapoetro,1992), daerah bencana tersusun oleh perselingan bresi gunungapi, lava, tuf bersisipan batupasir tufan, lanau dan batulempung (Formasi Mandalika). Berdasarkan pengamatan lapangan bagian atas daerah ini berupa dengan tanah pelapukannya berupa batupasir lempungan dengan tebal 5 meter.
  • Tataguna lahan, Tataguna lahan pada lereng bagian atas daerah bencana berupa kebun campuran, setempat pemukiman dan jalan, pada lereng bagian tengah dan bagian bawah merupakan lahan dengan tanaman keras yang jarang dan kebun campuran yang didominasi oleh bambu.
  • Kondisi Keairan, Kondisi keairan berupa limpasan air permukaan (run off) pada waktu hujan yang sebagian mengalir di permukaan dan sebagian meresap kedalam tanah (menjenuhi tanah). Tidak terdapat mata air pada lokasi bencana. Konsumsi air harian warga berasal dari PDAM.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada bulan Juni 2017 di Kabupaten Pacitan (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) daerah bencana termasuk dalam zona potensi gerakan tanah menengah - tinggi artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

 

5. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan:

  • Pola aliran air pada saat hujan mengalir ke lokasi longsoran
  • Sifat fisik batuan yang kurang kompak dan sarang serta tanah pelapukan yang tebal, bersifat gembur, sarang dan jenuh air saat hujan turun.
  • Kemiringan lereng yang agak terjal-terjal
  • Curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama, sehingga tanah selalu jenuh air.

 

6. Mekanisme terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi mengakibatkan air terakumulasi pada batas tanah lapuk dengan perlapisan batupasir dan batulempung. Pola aliran air yang menuju pada titik/ daerah yang mengalami retakan dan nendatan, sehingga tanah menjadi mudah jenuh air. Keadaan tersebut mengakibatkan bobot masa tanah dan kejenuhan tanah meningkat. Akibatnya bobot massa tanah yang tinggi, karena kemiringan lereng > 15o, serta curah hujan yang tinggi mengakibatkan tahanan lereng lemah kemudian dipacu dengan gaya gravitasi dan sifat dasar batulempung maka terjadilah gerakan tanah tipe rayapan

 

7. Rekomendasi:

Dalam rangka upaya penanggulangan terjadinya gerakan tanah susulan, direkomendasikan hal-hal sebagai berikut, antara lain:

  • Daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan, sehingga masyarakat dilokasi bencana perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama.
  • Pemukiman di sekitar lokasi bencana terutama 3 (tiga) rumah yang rusak berat dan retak, yang terletak dipinggir jalan agar dipindahkan (relokasi) ke lokasi yang aman. Hal ini karena pondasinya sudah terdorong oleh gerakan tanah.
  • Mengendalikan air permukaan pada lereng, agar air tidak masuk ke dalam tanah dan menjenuhi tanah dengan membuat saluran kedap air dan air dibuang (dialirkan) menjauhi lereng.
  • Memberikan rambu peringatan longsor pada badan jalan.
  • Membatasi kendaraan berat yang melewati jalan desa agar tidak menambah beban pada lereng.
  • Untuk meningkatkan stabilitas lereng, maka daerah bagian atas sekitar tebing yang terjal untuk tidak dijadikan lahan pertanian sayuran dan agar ditanami dengan pepohonan yang berakar kuat dan dalam seperti akasia, sengon, lamtoro dan sejenisnya.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

 

B. Dusun Krajan, Desa Gasang, Kecamatan Tulakan 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian

Lokasi bencana terjadi di Dusun Krajan, Desa Gasang, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis daerah ini terletak pada koordinat 1110 14’ 01,7’’ BT dan 080 09’ 02,9’’ LS. Gerakan tanah pertama kali terjadi bulan Maret 2017 dan terus berlanjut pada saat pemeriksaan

 

2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah berupa rayapan dan nendatan. Gerakan tanah ini terletak pada pemukiman dan ladang milik penduduk dengan arah umum pergerakan relatif utara (N 350° E). Lebar retakan 5 – 75 cm, sementara tanah yang mengalami turun berkisar >0 - 150 centimeter

 

3. Dampak gerakan tanah:

Gerakan tanah mengakibatkan:

  • 5 rumah rusak berat dan sudah relokasi secara mandiri dan 2 rumah rusak ringan
  • Badan jalan desa menuju perkampungan ambles, tidak bisa dilewati kendaraan roda empat

 

4. Kondisi daerah Gerakan Tanah:

  • Morfologi, Secara umum morfologi lokasi bencana merupakan lereng dari perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan landai - agak terjal dengan kemiringan , 15°. Dari citra dan interpretasi topografi daerah tersebut merupakan daerah gerakan tanah lama.
  • Geologi, Berdasarkan peta geologi lembar Pacitan, Jawa (H.  Samodra, S. Gafoer, S. Tjokrosapoetro,1992), Daerah bencana masuk kedalam Formasi Jaten yang beranggotakan konglomerat, batupasir konglomerate, batupasir tufan, batulumpur, batulanau, lignit, serpih karbonatan dan tuf setempat berbelerang satuan ini berbatasan dengan Formasi Wuni yang beranggotakan Breksi gunungapi, batupasir tufan batupasir dan batulanau bersisipan lignit dan batugamping, setempat mengandung kayu terkesikan. Berdasrkan penampakan dilapangan batuannya berupa batupasir tufan yang berselingan dengan batu lanau, dengan tanah pelapukan berupa pasir lempungan dengan ketebalan berkisar 3-4 meter, Kehadiran serpih dan batulanau kemungkinan merupakan bidang gelingcir gerakan tanah, namun bidsang gelincir di daerah ini dalam sehingga gerakan tanah yang terjadi tipe lambat.
  • Tataguna lahan, Tataguna lahan pada lereng bagian atas daerah bencana berupa ladang kebun campuran, setempat pemukiman dan jalan, pada lereng bagian tengah dan bagian bawah merupakan lahan dengan tanaman keras yang jarang serta setempat-setempat pemukiman, sedangkan pada lereng bagian bawah beripa ladang dan sawah..
  • Kondisi Keairan, Terdapat mata air dan sumur pada lokasi bencana dengan kedlaman 2 – 4 meter, daerah yang bergerak atau mengalami pergerakan lambat diapit oleh dua alur sungai kecil.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada bulan Juni 2017 di Kabupaten Pacitan (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) daerah bencana termasuk dalam zona potensi gerakan tanah menengah - tinggi artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

 

5. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan:

  • Pola aliran air pada saat hujan mengalir ke lokasi longsoran
  • Sifat fisik batuan yang kurang kompak dan sarang serta tanah pelapukan yang tebal, bersifat gembur yang menumpang di atas batuan dasar.
  • Daerah tersebut merupakan daerah gerakan tanah lama yang aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi
  • Curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama sehinga akumulasi hujan sebagai pemicu gerakan tanah.

 

6. Mekanisme terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi mengakibatkan air terakumulasi pada batas tanah lapuk dengan perlapisan batupasir dan batulempung. Dari foto udara terlihat daerah bencana merupakan daerah gerakan tanah lama. Pola aliran air yang menuju pada titik/ daerah yang mengalami retakan dan nendatan, karena muka air tanah dangkal sehingga tanah menjadi mudah jenuh air. Keadaan tersebut mengakibatkan bobot masa tanah dan kejenuhan tanah meningkat. Akibatnya bobot massa tanah yang tinggi, karena kemiringan lereng > 15o, serta curah hujan yang tinggi mengakibatkan tahanan lereng lemah kemudian dipacu dengan gaya gravitasi dan sifat dasar batulempung maka terjadilah gerakan tanah tipe rayapan

 

7. Rekomendasi:

Dalam rangka upaya penanggulangan dan pengurangan risiko gerakan tanah, direkomendasikan hal-hal sebagai berikut, antara lain:

  • Daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah tipe lambat, namun tidak secepat gerakan sebelumnya, sehingga masyarakat dilokasi bencana perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama.
  • Pemukiman di sekitar lokasi bencana 5 (lima) rumah yang rusak berat telah melakukan relokasi mandiri, namun masih ada 1 (satu) rumah yang di tengah lereng harap waspada jika hujan deras
  • Tipe pergerakan di daerah ini lambat, dan tidak secepat gerakan sebelumnya, jika lokasi tersebut mau ditempati lagi sebaiknya bukan rumah permanen (rumah tembok) dan lebih cocok rumah panggung (rumah kayu)
  • Mengendalikan air permukaan pada lereng, agar air tidak masuk ke dalam retakan tanah dengan membuat saluran kedap air dan air dibuang (dialirkan) menjauhi lereng yang retak.
  • Untuk meningkatkan stabilitas lereng, maka daerah tersebut tidak dijadikan lahan pertanian sayuran, sawah dan agar ditanami dengan pepohonan yang berakar kuat dan dalam seperti akasia, sengon, lamtoro dan sejenisnya.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

C. Dusun Godeg Wetan, Desa Jetak, Kecamatan Tulakan 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian

Lokasi bencana terjadi di Dusun Godeg Wetan, Desa Jetak, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis daerah ini terletak pada koordinat 1110 15’ 03,434’’ BT dan 080 14’ 51,398’’ LS. Gerakan tanah sudah lama terjadi terutama pada jalan dan ketika hujan lebat gerakan tanah terjadi pada lahan dan pemukiman. Gerakan tanah ini masih berlanjut sampai sekarang.

 

2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah berupa rayapan dan nendatan. Gerakan tanah ini terletak pada pemukiman, jalan lintas selatan dan ladang dengan arah umum pergerakan relatif utara (N 195° E). Lebar retakan 2 – 25 cm, sementara tanah dan jalan yang mengalami turun berkisar >0 - 15 centimeter.

 

3. Dampak gerakan tanah:

Gerakan tanah mengakibatkan:

  • 5 rumah rusak berat dan 2 rumah rusak ringan
  • Jalan lintas sselatan mengalami nendatan sekitar 5 cm
  • Ladang milik penduduk retak sepanjang 140 m dan lebar retakan 2 – 25 cm, dan turu skitar 20 cm.

 

4. Kondisi daerah Gerakan Tanah:

  • Morfologi, Secara umum morfologi lokasi bencana merupakan lereng dari perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan landai - agak terjal dengan kemiringan 10 - 15°.
  • Geologi, Berdasarkan pengamatan lapangan daerah bencana tersusun oleh batugamping terumbu, batugamping berlapis, batugamping berkepingan, batugamping pasiran dan napal yang merupakan anggota dari Formasi Wonosari (Tmwl). Lapukannya berupa batupasir lempungan dengan tebal 1 – 1,5 meter. Secara regional daerah ini masuk ke dalam Formasi Wonosari.
  • Tataguna lahan, Tataguna lahan pada lereng bagian atas daerah bencana berupa ladang kebun campuran dan pemukiman dan jalan, pada lereng bagian tengah adalah jalan lintas sumatera, sedangkan pada lereng bagian bawah berupa area persawahan.
  • Kondisi Keairan, Muka air tanah diukur dari sumur yang ada pada lokasi bencana atau pada lereng bagian atas dengan kedalaman 2 – 3 meter, sedangkan pada bagian bawah kedalaman muka air tanah berkisar 8 m. Pada bagian atas mengalami pergerakan lebih cepat dibandingkan lokasi lainnya.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada bulan Juni 2017 di Kabupaten Pacitan (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) daerah bencana termasuk dalam zona potensi gerakan tanah menengah - tinggi artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

 

5. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan:

  • Muka air tanah pada bagian atas sangat dangkal daya dorongnya semakin tinggi
  • Pola aliran air pada saat hujan mengalir ke lokasi longsoran
  • Napal pada Formasi Wonosari menyebabkan mudah hancur jika sangat jenuh sehingga terjadi gerakan tanah tipe lambat
  • Sifat fisik batuan yang kurang kompak dan sarang serta tanah pelapukan yang tebal, bersifat gembur, sarang dan jenuh air saat hujan turun.
  • Curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama sehinga akumulasi hujan sebagai pemicu gerakan tanah.

 

6. Mekanisme terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi mengakibatkan air terakumulasi pada batas tanah lapuk dan napal pada Formasi Wonosari. Dangkalnya muka air tanah menyebabkan daya dorong semakin tinggi dan pola aliran air yang menuju pada titik/ daerah yang mengalami retakan dan nendatan, karena muka air tanah dangkal sehingga tanah menjadi mudah jenuh air. Keadaan tersebut mengakibatkan bobot masa tanah dan kejenuhan tanah meningkat sehingga mengakibatkan tahanan lereng lemah, sifat napal yang kurang kuat jika terkena hujan dan tekanan overburden maka terjadilah gerakan tanah tipe rayapan

 

7. Rekomendasi:

Dalam rangka upaya penanggulangan dan pengurangan risiko gerakan tanah, direkomendasikan hal-hal sebagai berikut, antara lain:

  • Daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah tipe lambat, namun kemungkinan tidak secepat gerakan sebelumnya, sehingga masyarakat dilokasi bencana tidak perlu khawatir, namun perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama.
  • Rumah yang rusak (retak-retak) dindingnya harap segera diperbaiki agar tidak runtuh jika curah hujan tinggi.
  • Pada saat ini belum perlu dilakukan relokasi mengingat kelerengannya juga tidak begitu terjal.
  • Tipe pergerakan di daerah ini lambat, maka cocok rumah panggung (rumah kayu) bukan rumah permanen (rumah tembok) dan lebih
  • Mengendalikan air permukaan pada lereng, agar air tidak masuk ke dalam retakan tanah dengan membuat saluran kedap air dan air dibuang (dialirkan) menjauhi lereng yang retak.
  • Untuk meningkatkan stabilitas lereng, maka daerah tersebut tidak dijadikan lahan pertanian sayuran, sawah dan agar ditanami dengan pepohonan yang berakar kuat dan dalam seperti akasia, sengon, lamtoro dan sejenisnya.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

 

LAMPIRAN

 

Tulakan 1 (070617)

Gambar 1. Peta Petunjuk lokasi bencana gerakan tanah di Desa Jetak, Wonoanti, dan Gasang Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Tulakan 2 (070617)

Gambar 2. Sketsa situasi gerakan tanah Dusun Bulih dan Dusun Nglaran, Desa Wonoanti, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur

 

Tulakan 3 (070617)

Gambar 3 Peta Situasi Gerakan Tanah di Dusun Krajan, Desa Gasang

 

Tulakan 4 (070617)

Gambar 4. Penampang Gerakan Tanah di Dusun Krajan, Desa Gasang

 

Tulakan 5 (070617)

Gambar 5 Peta Situasi Gerakan Tanah di Gedog Wetan, Desa Jetak

 

Tulakan 6 (070617)

Gambar 6. Penampang gerakan tanah di Dsn Gedog Wetan, Desa Jetak

 

Tulakan 7 (070617)

Gambar 7 Penampang gerakan tanah di Dsn Gedog Wetan, Desa Jetak

 

Tulakan 8 (070617)

Gambar 8. Peta Prakiraan Wilayah Potensi Teradi Gerakan Tanah Pada Bulan Juni 2017 Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur.

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN PACITAN

PROVINSI JAWA TIMUR

 BULAN JUNI 2017

Tulakan 9 (070617)

Keterangan :

Tulakan 10 (070617)

 

Tulakan 11 (070617)

Gambar 9 Tim PVMBG, Badan Geologi diterima Bupati Pacitan

 

Tulakan 12 (070617)

Gambar 10 Tim PVMBG, Badan Geologi berkoordinasi dengan BPBD Kab. Pacitan dan diterima oleh Kalak BPBD Kabupaten Pacitan

 

Tulakan 13 (070617)

Gambar 11 Bekas kubangan air yang cepat surut, tepat di bagian bawah (timurlaut) dari lokasi terjadinya retakan di Dusun Bulih, Desa Wonoanti

 

Tulakan 14 (070617)

Gambar 12 Retakan bagian dasar bangunan rumah di Dusun Bulih, Desa Wonoanti, Kecamatan Tulakan, Provinsi Jawa Timur

 

Tulakan 15 (070617)

Gambar 13 Amblesan/nendatan sedalam 1 meter, dan retak selebar 25 – 40 cm di lokasi di Desa Gasang, Kecamatan Tulakan

 

Tulakan 16 (070617)

Gambar 14 Kondisi rumah yang hancur akibat gerakan tanah tipe lambat dan retakan di Desa Gasang

 

Tulakan 17 (070617)

Gambar 15 Sosialisasi dan Press Conference hasil penyelidikan gerakan tanah

 

Tulakan 18 (070617)

Gambar 16. Retakan pada pemukiman dan lahan penduduk di Dusun Gedog Wetan, Desa Jetak

 

Tulakan 19 (070617)

Gambar 17 Rumah retak akibat gerakan tanah lambat di Dusun Gedog Wetan, Desa Jetak

 

Tulakan 20 (070617)

Gambar 18 Peta Geologi Lokasi Bencana Gerakan Tanah (Samodra, dkk, 1992)