Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan

Laporan singkat hasil pemeriksaan tanggap darurat bencana gerakan tanah di Desa Maliwowo, Kecamatan Angkona, Provinsi Sulawesi Selatan  sebagai berikut :

1. Lokasi Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi di Jalur Jalan Raya Sulawesi Poros Tenggara, tepatnya di Dusun Harapan Makmur, Desa Maliwowo, Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan pada hari Jumat 12 Mei 2017 sekitar pukul 05.30 WITA. Lokasi gerakan tanah terletak pada koordinat 020 36” 17.2” LS dan 1200 54” 57,21” BT, ketinggian sekitar 242 meter diatas muka laut. Gerakan tanah terjadi setelah hujan deras semalam, mengakibatkan 7 orang meninggal dunia, 10 orang luka luka, 2 unit kendaraan roda empat, 9 unit kendaraan roda dua, 26 rumah/122 KK yang berada ditepi jalan raya hancur terlanda longsoran, serta lalu lintas terputus selama sehari.

 

2. Kondisi Gerakan Tanah

Disamping gerakan tanah utama terdapat pula beberapa gerakan tanah berada di sekitar lokasi gerakan tanah utama, antara lain :

  • Longsoran bahan rombakan, merupkan longsoran utama terletak pada koordinat 020 36” 17.2” LS dan 1200 54” 57,21” BT, dengan lebar 20 – 40 meter, panjang longsoran 480 meter, kemiringan lereng 450 dan arah umum longsoran N 2200 E
  • Nendatan, terletak pada koordinat 020 35” 59,1” LS dan 1200 54” 59,9” BT, lebar 5 meter, panjang 6 meter, kemiringan lereng 12 - 360, tinggi nendatan 80 cm
  • Longsoran bahan rombakan, terletak pada koordinat 020 36” 05,9” LS dan 1200 55” 00,5” BT, lebar 10 – 15 meter, panjang longsoran 50 meter, kemiringan lereng 450 yang disertai nendatan setinggi 20 – 50 cm, berpotensi berkembang menjadi aliran bahan rombakan,
  • Longsoran bahan rombakan, terletak pada koordinat 020 36” 17,2” LS dan 1200 54” 57,2” BT lebar 4 – 20 meter, panjang longsoran 120 meter, kemiringan lereng 350 arah longsoran N 2900 E disertai retakan lebar 6 – 12 cm, tinggi 30 cm, arah retakan N 3500 E
  • Retakan, terletak pada koordinat 1200 54’ 56” BT dan 020 36’ 13,3”LS ketinggian 230 m dpl, arah retakan N 1600 E, panjang 50 meter dengan arah umum N 2400 E
  • Nendatan disertai retakan, terletak pada koordinat 020 36” 28,2” LS dan 1200 54” 50,7” BT, elevasi 67 meter dpl, panjang nendatan 16 meter, lebar 6 meter, tinggi nendatan 90 cm. Retakan, lebar 5 – 18 cm, kedalaman 5 – 15 cm panjang 17 meter, kemiringan lereng 220, arah umum nendatan N 350 E
  • Nendatan disertai retakan, terletak pada koordinat 020 36” 16,4” LS dan 1200 54” 36,0” BT, elevasi 14 meter dpl, panjang nendatan 140 meter, lebar 6 meter, tinggi nendatan 80 cm. Retakan, lebar 5 – 20 cm, kedalaman 5 – 20 cm panjang 65 meter, kemiringan lereng 15 - 240, arah umum nendatan N 2860E

 

3. Kondisi Umum Daerah Bencana

  • Morfologi, Morfologi daerah bencana dibagi menjadi 2 morfologi, yaitu perbukitan dan dataran. Morfologi perbukitan merupakan bagian dari bukit Maliwowo (345 m), berelief rendah hingga kasar dengan kemiringan lereng antara 10 – 650, adapun lereng yang mengalami longsor berada pada lereng bagian selatan perbukitan ini. Pada bagian atas maupun bawah lereng muncul rembasan air dan diantaranya cukup besar debitnya. Sedangkan morfologi dataran terletak di bagain bawah lereng relatif datar, terletak, ditempati oleh badan jalan raya dengan lebar sekitar 10 meter dan pemukiman di kiri dan kanan badan jalan.
  • Geologi, Batuan penyusun lokasi bencana terdiri dari batuan ultrabasic dan aluvial. Aluvial terdiri dari pasir, kerikil, kerakal hingga boulder terdapat di lereng bagian bawah sekitar jalan raya. Batuan ultrabasic di lereng terjal, berwarna abu abu – abu abu kehitaman, kekerasan sedang, hancur sudah terkekarkan dan telah mengalami pelapukan kuat berupa lempung pasiran berkerikil ukuran halus hingga kerakal tebal 1 – 4 meter.
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan daerah bencana, pada bagian atas lereng umumnya berupa hutan, beberapa bagian telah berubah menjadi kebun rakyat, dengan tanaman berupa aren, cengkeh, kakao, rambutan, mrica, jahe, kemiri, durian, cempaka, jati putih, melinjo, sukun, dengan kerapatan tanaman rapat sampai dengan kurang. Bencana terjadi pada tanaman yang kurang rapat.  Sedangkan pada daerah dataran lahan merupakan jalan raya, pemukiman, sawah dan empang/kolam.
  • Keairan, Beberapa mata air muncul baik di lereng atas atau lereng bawah, diantaranya mempunyai debit kecil (---ml/detik) hingga cukup besar (--ml/detik), baik sebagai rembasan air mata air maupun sudah mengalir menjadi sungai kecil atau membentuk parit dengan lebar 1 meter kedalaman 0,5 meter. Di bagian bawah matar air dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum dan MCK.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan  Mei 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), lokasi gerakan tanah Kabupaten Luwu Timur berada pada zona kerentanan  gerakan tanah rendah - menengah, artinya daerah ini mempunyai potensi rendah - menengah untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

4. Faktor Penyebab Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Kemiringan lereng yang terjal
  • Sifat fisik tanah lapukan yang sarang, tebal dan mudah menyerap air
  • Batuan penyusun ultrabasic basal yang mudah hancur, telah terkekarkan dan tersesarkan
  • Faktor keairan, baik karena curah hujan tinggi berlangsung lama, maupun adanya beberapa mata air dengan debit dan kecepatan aliran cukup tinggi mengalir dari lereng atas membentuk parit sungai
  • Kemungkinan adanya alih fungsi lahan dari hutan menjadi kebun campuran dengan vegetasi yang kurang rapat

 

5. Mekanisme Gerakan Tanah

Longsoran ini bergerak cepat, berawal dari hujan deras tiada henti semalam yang mengakibatkan lereng jenuh air. Air meresap masuk ke dalam tanah lapukan yang tebal, sarang, mudah menyerap air, sehingga bobot masa tanah bertambah dan kestabilan terganggu dan tanah bergerak menjadi longsor besar melalui bidang gelincir antara tanah pelapukan dan batuan penyusun ultra basic. Selanjutnya material longsor ini bercampur air in menerjang badan jalan raya dan beberapa rumah di tepi jalan raya.

 

6. Rekomendasi

Beberapa hal yang perlu direkomendasikan dari hasil pemeriksaan ini adalah :

  • Penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat saluran drainase di atas lereng maupun di sepanjang jalan raya
  • Perlu dibuat penguat lereng tebing
  • Pembersihan material longsoran
  • Perlu ditanam pohon yang kuat untuk menahan lereng pada bekas longsor maupun lokasi yang sedikit vegetasi
  • Hindari penggundulan tanaman keras dan tanaman perdu masih bisa ditanam diantara pohon yang keras/kuat
  • Perlu kontrol di lereng bagian atas, dicegah terjadinya pembendungan atau genangan air yang berpotensi terjadi banjir bandang (longsor ke2)
  • Perlu kewaspadaan masyarakat yang tinggal di sekitar tebing terutama pada saat hujan deras berlangsung lama agar mengungsi
  • Menutup retakan dengan tanah liat yang dipadatkan, jika masih terjadi retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang/ atau dipindahkan
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah susulan, sehingga perlu kewaspadaan bagi pengguna jalan di sekitar lokasi bencana maupun pemukiman disisi tebing yang terjal
  • Merelokasi pemukiman yang terdampak bencana
  • Perlu dipasang rambu-rambu longsor

 

 

LAMPIRAN

 

Angkona 1 (190617)

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah

 

Angkona 2 (190617)

Gambar 2. Peta geologi daerah gerakan tanah

 

Angkona 3 (190617)

Gambar 3. Peta situasi gerakan tanah

 

Angkona 4 (190617)

Gambar 4. Penampang gerakan tanah

 

Angkona 5 (190617)

Gambar 5. Peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah Prov Sulsel

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN LUWU TIMUR BULAN MEI 2017

Angkona 6 (190617)

Keterangan :

Angkona 7 (190617)

 

Angkona 8 (190617)

Mata air membentuk parit sungai yang muncul di lereng terjal

 

Angkona 9 (190617)

Retakan dan nendat yang muncul di lereng bagian atas

 

Angkona 10 (190617)

Longsor di bagian atas lereng yang berpotensi terjadi banjir bandang

 

Angkona 11 (190617)

Salah satu longsoran sepanjang 50 m disertai retakan yang dekat dengan longsoran utama

 

Angkona 12 (190617)

Longsoran utama yang menimbulkan korban jiwa dan merusak rumah warga serta memutus badan jalan raya (difoto dari mahkota longsoran)

 

Angkona 13 (190617)

Vegetasi yang kurang pada lereng bagian atas

 

Angkona 14 (190617)

Foto Longsor keseluruhan dari arah depan (hasil drone)

 

Angkona 15 (190617)

Foto Longsor dari arah depan, tampak mahkota longsoran dan 1 rumah yang masih ada di puncak (hasil drone)

 

Angkona 16 (190617)

Sisa pemukiman terlanda longsor, 7 korban tewas  di lokasi ini