Laporan Singkat Bencana Gerakan Tanah Di Desa Togit, Kecamatan Tutuyan,kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara

Tanggapan gerakan tanah di Kecamatan Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara, berdasarkan pengamatan dan pemeriksaan tim Tanggap Darurat Badan Geologi atas permintaan Pemerintah Daerah setempat, adalah sebagai berikut :

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian :

Lokasi gerakan tanah terjadi di Jalan trans Sulawesi menuju Ibukota Kabupaten, Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara , secara geografis terletak pada  koordinat 124° 35' 40,8" BT dan 00° 44’ 04,7" LS dengan ketinggian 101 meter (Lokasi Togit 1).

Tidak jauh dari lokasi tersebut terjadi juga gerakan tanah yang berada pada kordinat  124° 35’ 31” dan 00° 43’ 57,3” dengan ketinggian 153 meter (Lokasi Togit 2). Gerakan tanah tersebut terjadi semenjak beberapa bulan yang lalu.

 2. Jenis dan Dimensi Gerakan Tanah :

Untuk lokasi Togit 1 :

Jenis gerakan tanah berupa longsoran/amblasan dan rayapan pada badan jalan dengan mekanisme rotasi. Dimensi gerakan tanah adalah tinggi +/- 7 meter, lebar +/- 50 meter, panjang aliran +/-150 meter, dengan arah orientasi longsoran N 125o E.

 Untuk lokasi Togit 2 :

Jenis gerakan tanah berupa longsoran/amblasan dan rayapan pada badan jalan dengan mekanisme rotasi. Arah orientasi retakan N 255o E dengan arah orientasi longsoran N 315o E.

3. Dampak Gerakan Tanah :

  • Jalur Jalan trans Sulawesi Jalan Nasional di Desa Bai, Kecamatan Nuangan mengalami penurunan.
  • Lalu lintas pada kedua titik jalan tersebut menjadi terganggu dan dikhawatirkan dapat menimbulkan kecelakaan.
  1. 4. Kondisi daerah bencana :
  • Secara umum morfologi di daerah Togit berupa perbukitan relief sedang sampai kasar dengan kemiringan lereng sekitar 20 -  40o. Lokasi gerakan tanah berada pada ketinggian 100 - 150 meter diatas permukaan laut.
  • Litologi lokasi berupa tufan dan lempung (endapan danau). Berdasarkan Peta Geologi Lembar Kotamobagu, Sulawesi Utara (Apandi & Bachri, 1997) daerah lokasi gerakan tanah oleh batuan dari Batuan Gunungapi Bilungala (Tmbv) yang terdiri dari breksi, tuf dan lava bersusunan andesit, dasit dan riolit. Tuf umumnya bersifat dasitan, agak kompak dan berlapis buruk di beberapa tempat. Di daerah pantai selatan dekat Bilungala, satuan ini didominasi oleh lava dan breksi yang umumnya berkomposisi dasit, dan dicirikan oleh warna alterasi kuning sampai coklat, mineralisasi pirit, perekahan yang intensif, serta banyak dijumpai batuan terobosan diorite. Propilitisasi, kloritisasi dan epidotisasi banyak dijumpai pada lava. Tebal satuan diperkirakan lebih dari 1000 meter, sedang umumnya berdasarkan kandungan fosil dalam sisipan batugamping adalah Miosen Bawah – Miosen Akhir. Nama satuan pertamakali digunakan oleh PT Tropic Endeavour (1972).
  • Tataguna lahan lokasi gerakan tanah adalah berupa ladang dan kebun campuran serta pohon-pohon kayu pada bagian atas.
  • Kondisi keairan menunjukan adanya alur air pada lokasi gerakan tanah
  • Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Provinsi Sulawesi Utara bulan Juli 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Modayag termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 5. Penyebab Gerakan Tanah

 Berdasarkan kajian yang dilakukan, faktor-faktor penyebab terjadinya gerakan tanah adalah :

  • Kemiringan lereng yang terjal, berupa perbukitan berelief kasar.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi sebelum kejadian gerakan tanah.
  • Sistem drainase yang kurang baik sehingga terjadi akumulasi konsentrasi air
  • Litologi batuan yang berada diatas endapan danau (berukuran lempung hingga krakal), pada Togit 2 (endapan danau – lempung sangat tebal)
  • Pembebanan oleh material diatasnya termasuk kendaraan dan beton jembatan
6. Mekanisme Gerakan Tanah

Intensitas hujan yang tinggi dengan lokasi jalan di punggung bukit dan keberadaan endapan danau dapat menyebabkan bobot masa tanah serta kejenuhan tanah meningkat. Keberadaan tanah pelapukan dan jalan diatas batulempung menjadikan batulempung tersebut sebagai bidang gelincir. Dengan adanya bobot massa tanah yang tinggi, kemiringan tebing yang curam, peningkatan tekanan air pori, tidak adanya saluran drainase yang baik dan pembebanan oleh kendaraan berat menyebabkan longsoran/amblasan pada bagian bawah jalan. Adanya gerakan tanah pada bagian bawah lereng tersebut menyebabkan terjadinya tarikan dan retakan sehinggamengakibatkan kerusakan parah pada jalan trans nasional tersebut.

 7. Rekomendasi:

  • Untuk lokasi Togit 1. Memperkuat jalan dengan konstruksi beton dan bagian bawah badan jalan sebaiknya dibuat gorong-gorong untuk saluran air.
  • Untuk lokasi Togit 2 : Menggeser jalan ke arah punggungan  yang posisinya di bagian selatan (lihat gambar Peta Situasi). Jalan tersebut sebaiknya dengan konstruksi beton.
  • Masyarakat pengguna jalan diharapkan lebih waspada dan menjauhi area yang retak-retak, terlebih apabila terjadi hujan lebat dan berlangsung lama, karena akan berpotensi terjadi gerakan tanah;
  • Pemerintah daerah dan masyarakat aktif memantau jika muncul retakan baru, jika retakan bertambah lebar segera mengungsi dan melaporkan institusi yang berwenang.
  • Tidak membuat kolam atau genangan air lainnya pada daerah tersebut karena akan mempercepat terjadinya gerakan tanah.
  • Mengupayakan supaya adanya pembatasan berat kendaraan yang melewati area tersebut.
  • Membuat tanda rawan longsor untuk peningkatan kewaspadaan.
  • Meningkatkan sosialisasi dan dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.

 

 togit 1

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah di Desa Togit, Kec. Tutuyan

 

togil 2

Gambar 2.   Peta geologi lokasi longsor, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Apandi & Bachri, 1997).

 

togit 3

Gambar 3.   Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Djadja & Triana, 2013).

 

togit 4

Gambar 4.   Peta Situasi Gerakan Tanah di Desa Bai, Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur

 

togit 5

Gambar 5.   Penampang Gerakan Tanah A - B

 

togit 6

Gambar 6.   Penampang Gerakan Tanah C - D

 

togit 7

Gambar 6. Peta Prakiraan Potensi Gerakan Tanah Provinsi Sulawesi Utara Bulan Juli 2017 (PVMBG, 2017)


togit 8

togit 9

togit 10

togit 10

togit 11

 

DAFTAR FOTO SURVEI

togit 12

 

togit 13

Foto 1. Koordinasi dan Sosialisasi dengan BPBD Kabupaten

Bolaang Mongondow Timur.

 

LONGSOR 1#

togit 14

Foto 2. Lokasi Longsor dan Potensi di Desa Togit, Kec. Tutuyan

Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. (Barat)

 

togit 15

Foto 3. Lokasi Longsor dan Potensi di Desa Togit, Kec. Tutuyan

Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. (Timur)

togit 16

Foto 4. Gerakan tanah yang menyebabkan jalan selalu amblas 

 

LONSOR 2#

togit 17

Foto 5. Pergerakan tanah di Jalan Desa Togit, Kec. Tutuyan

Kabupaten Bolaang Mongondow Timur

togit 18

Foto 6. Kondisi Longsor yang menyebabkan jalanan retak dan hancur

togit 19

Foto 7. Tarikan yang menyebabkan terjadinya retakan pada badan jalan

togit 20

Foto 8. Litologi lempung dengan tebal +/- 3 meter berada di bawah jalan.