Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat

Laporan singkat hasil pemeriksaan tim pemeriksaan bencana gerakan tanah di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat sebagai berikut :

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah :

 Gerakan tanah terjadi pada lapangan sepakbola di daerah pemukiman Kampung Panineungan RT 001 RW 001, Desa Cimaskara, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat 1070 11’ 41,7” BT dan 070 16’ 21” LS. Gerakan tanah terjadi pada 10 Agustus 2016 dan kembali terjadi pada tanggal 2 Oktober 2017.

 

2. Kondisi Bencana dan Dampaknya :

Jenis gerakan tanah adalah rayapan yang dicirikan oleh adanya retakan berarah barat-baratdaya dan terdapat pula longsoran kecil bahan rombakan berarah baratdaya yang memotong lapangan bola. Lebar mahkota longsoran sekitar 15 m dan panjang sekitar 25 m. Retakan terjadi pula di bagian bawah jalan dan daerah pemukiman. Gerakan tanah masih terus berkembang hingga saat pemeriksaan terutama pada saat turun hujan.

Dampak dari gerakan tanah ini menyebabkan :

  • Lapangan bola longsor sepanjang 15 meter dan  sedalam 15 meter
  • 12  rumah terancam.

3. Kondisi Daerah Gerakan Tanah :
  • Morfologi, Secara umum daerah gerakan tanah merupakan perbukitan. Pada bagian lembahnya terdapat anak Sungai Cisalada yang alurnya berarah baratdaya  berbelok ke baratlaut serta berair hanya pada musim hujan. Lokasi gerakan tanah berada pada ketinggian 805 meter di atas permukaan laut. Pada anak Sungai Cisalada tersebut terdapat longsoran kecil.
  • Batuan penyusun, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang yang disusun oleh M. Koesmono dkk (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi 1996), Desa Cimaskara termasuk pada satuan Endapan Piroklastika yang Tidak Terpisahkan yang terdiri dari batuan breksi andesit, breksi tuf dan tuf lapili. Di lapangan batuan yang ditemukan hanya breksi tuf dan dan tuf serta tanah pelapukan berupa lempung pasiran ketebalan 5-10 m bersifat gembur dan rapuh.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan pada lereng bagian atas berupa kebun campuran, pada lereng bagian tengah berupa badan jalan  serta pemukiman dan pada bagian bawah lereng berupa kebun campuran, pesawahan dan pemukiman. Tanah lapangan sepakbola menurut informasi aparat setempat merupakan tanah urugan.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi bencana berupa saluran irigasi yang terletak di lereng dan airnya berasal dari tempat lain yang dimanfaatkan penduduk untuk keperluan sehari-hari. Sumber air lainnya berasal dari air hujan serta aliran sungai Cisalada..

 

4. Kerentanan Gerakan Tanah :

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Cianjur pada bulan Oktober 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Cibinong termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah menengah artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah.

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Lembar Jawa Bagian Barat (PVMBG, 2004), wilayah Desa Cimaskara, Kecamatan Cibinong, dan sekitarnya,  masuk ke dalam Zona Gerakan Tanah Menengah artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terkena gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

5. Faktor Penyebab Gerakan Tanah :

  • Kemiringan lereng yang landai hingga terjal.
  • Tanah pelapukan yang gembur dan mudah retak yang menyebabkan tanah mudah longsor.
  • Adanya perbedaan sifat fisik batuan dasar yang kedap air dengan tanah pelapukan yang gembur.
  • Curah hujan yang tinggi dan lama pada saat dan sebelum terjadinya gerakan tanah
  • Tidak adanya saluran kedap air pada sisi jalan sehingga air hujan langsung melimpas ke badan jalan dan lereng bagian bawah.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Adanya hujan deras dalam waktu lama, membuat limpasan air permukaan melalui daerah rendah, sehingga menggenangi lapangan sepak bola serta sebagian pemukiman. Sebagian air hujan memenuhi selokan menuju anak sungai Cisalada, sebagian lagi meresap ke dalam tanah melalui retakan-retakan dan ruang antar butir, sehingga batuan dan tanah pelapukan menjadi jenuh air serta mengakibatkan bobot masanya bertambah. Tanah pelapukan yang bersifat gembur dan jenuh air ini menjadi tidak stabil dan mudah bergerak dan menyebabkan terjadinya longsor.

  

7. Rekomendasi Teknis :
  • Masyarakat diharapkan lebih waspada dan menjauhi area longsoran, terlebih apabila terjadi hujan lebat dan berlangsung lama, karena diperkirakan masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Penataan drainase di sekitar lokasi longsoran dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan, air agar dialirkan menuju sungai sehingga tidak terlalu banyak melimpas di permukaan dan menggenangi daerah yang relatif datar.
  • Membuat tembok penahan atau bronjong batu di daerah mahkota longsoran agar tanah pelapukan dan batuan tidak mudah longsor.
  • Sebelum pembuatan tembok penahan atau bronjong batu maka diberi pembatas dengan jarak > 5 meter dari tepi mahkota longsor.
  • Jika menemukan retakan baru di sekitar lokasi longsoran maka segera menutup retakan dengan tanah liat (lempung) dan dipadatkan agar air limpasan (air hujan) tidak masuk ke dalam dan menjenuhi tanah.
  • Apabila terjadi retakan-retakan baru dan terus berkembang masyarakat disarankan segera mengungsi dan dilaporkan kepada aparat setempat.
  • Mengganti kawasan pesawahan yang berada di dekat aliran sungai dan lereng lereng lainnya dengan tanaman berakar kuat dan dalam, yang berfungsi menahan lereng
  • Mengeringkan kolam pada daerah dekat longsoran dan di dekat retakan karena akan mempercepat terjadinya gerakan tanah.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Cibinong 1 (121017)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah di Kampung Panineungan, Desa Cimaskara, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur.

 

Cibinong 2 (121017)

Gambar 2. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah pada Bulan Oktober 2017 di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN CIANJUR

PROVINSI JAWA BARAT BULAN OKTOBER 2017

Cibinong 3 (121017)

Keterangan :

Cibinong 4 (121017)

 

Cibinong 5 (121017)

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Bulan Kab. Cianjur, Jawa Barat.

 

Cibinong 6 (121017)

Gambar 4. Peta Geologi Daerah Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur

 

Cibinong 7 (121017)

Gambar 5. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kampung Panineungan, Desa Cimaskara, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur

 

Cibinong 8 (121017)

Gambar 6. Peta Situasi Penampang Gerakan Tanah Penampang A-B di Kampung Panineungan, Desa Cimaskara, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur

 

Cibinong 9 (121017)

Foto 1. Mahkota longsoran pada hulu anak Sungai Cisalada dengan latar belakang pemukiman penduduk pada tahun 2016 (a) dan pada Oktober 2017 (b).

 

Cibinong 10 (121017)

Foto 2. Longsoran pada hulu anak Sungai Cisalada dengan latar belakang pemukiman terancam

 

Cibinong 11 (121017)

Foto 3. Tata guna lahan pada lereng bagian bawah yang berupa lahan persawahan

 

Cibinong 12 (121017)

Foto 4. Pembatas jaring dekat mahkota longsor yang ikut terbawa longsoran pada Oktober 2017.

 

Cibinong 13 (121017)

Foto 5. Kegiatan pemeriksaan dan sosialisasi kepada pihak aparat Desa Cimaskara, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur