Laporan Singkat Tanggap Darurat Bencana Gerakan Tanah Di Kec. Cikatomas Dan Kec. Salopa, Kab. Tasikmalaya, Prov. Jawa Barat

Laporan singkat hasil pemeriksaan tanggap darurat bencana gerakan tanah di Kec. Cikatomas dan Kec. Salopa, Kab. Tasikmalaya,  Prov. Jawa Barat, sebagai berikut :

A. JALUR JALAN RAYA TASIKMALAYA – CIKATOMAS, KEC. SALOPA DAN KEC. CIKATOMAS, KAB. TASIKMALAYA :

1. Lokasi dan Waktu Kejadian

Lokasi gerakan tanah terletak di 3 (tiga) lokasi pada jalur jalan raya Tasikmalaya – Cikatomas yaitu di :

  1. Jalur jalan raya di Desa Loyak Barang, Kec. Cikatomas; pada koordinat 070 34’ 36,5” LS dan 1080 16’ 53,7” BT
  2. Jalur jalan raya di Desa Karya Mandala, Kec. Salopa; pada koordinat 070 33’ 21,6” LS dan 1080 16’ 49,4” BT
  3. Jalur jalan raya di Desa Salopa, Kec. Salopa;  pada koordinat 080 08’ 37,36” LS dan 1120 26’ 23,41” BT
2. Kondisi Gerakan Tanah dan Dampaknya
a. Gerakan tanah di jalur jalan raya Desa Loyak Barang, Kec. Cikatomas
  • Jenis Jenis gerakan tanah adalah Nendatan disertai dengan Amblesan dan Retakan. Tinggi nendatan/amblesan 20 – 60 cm, lebar retakan 15 cm panjang amblesan/retakan 75 m, lebar 70 m, dengan arah umum gerakan tanah N 950 E. Gerakantanah ini bergerak pada lereng dengan kemiringan 38 - 600 dengan ujung lereng di lembah S. Cikatomas
  • Akibat gerakan tanah, setengah badan jalan raya sepanjang 125 meter tidak bisa digunakan dan lalu lintas terganggu.

b. Gerakan Tanah di Jalur jalan raya Desa Karya Mandala, Kec. Salopa
  • Jenis gerakan tanah adalah Nendatan disertai dengan Amblesan dan Retakan, Tinggi amblesan 20 cm – 0,80 cm, panjang areal nendatan 60 m, lebar 90 m, arah umum gerakan tanah N 2680E. Gerakantanah ini bergerak pada lereng dengan kemiringan 220 ujung lereng di pemukiman
  • Akibat gerakan tanah, Jalan raya sepanjang 90 meter mengalami retak dan amblas setengah badan jalan terkena gerakan tanah serta lalu lintas terganggu.  

c. Gerakan tanah di jalur jalan raya Desa Salopa, Kec. Salopa
  • Jenis gerakan tanah adalah Longsoran bahan rombakan. Arah umum gerakan tanah N 660 E, panjang 105 m mencapai lembah sungai di bawah lereng, lebar 82 m, tinggi tebing longsoran 10 – 18 m.
  • Akibat gerakan tanah, Jalan raya sepanjang 82 m mengalami longsor, 4 rumah penduduk rusak, 4 rumah lainnya terancam serta setengah badan jalan hanya bisa dilalui dengan sangat hati-hati serta lalu lintas terhambat.
3. Kondisi Daerah Pemeriksaan
a. Morfologi

Morfologi ke 3 (tiga) daerah bencana terletak pada ketinggian 309 - 347 m diatas muka laut, merupakan daerah perbukitan bergelombang rendah hingga sedang dengan kemiringan lereng bervariasi dari 0 - 200, pada lembah dan tebingnya kemiringan sangat terjal mencapai 450 dimana gerakan tanah terjadi pada lereng terjal ini dan pada bagian lembahnya mengalir sungai dengan lebar 4 hingga 6 m.  Sedangkan lokasi kedua lembahnya relatif landai merupakan pemukiman.

b. Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tasukmalaya (Puslitbang Geologi, 1992) batuan penyusun ke 3 (tiga) daerah bencana adalah batuan breksi tufaan, produk dari batuan Formasi Jampang (Tomj), dimana batuan ini lapuk kuat berupa lempung pasiran, coklat tua, sarang, gembur dan mudah menyerap air, tebal lebih 1 - 3 m. Struktur geologi dijumpai berupa sesar diperkirakan berjarak sekitar 4 km daerah lokasi bencana

c.  Tataguna lahan

Tata guna lahan pada lereng bagian atas umumnya merupakan badan jalan raya dan beberapa pemukiman di ssi jalan ini. Pada lokasi pertama lerengnya merupakan hutan jati milik perhutani, lokasi lainnya umumnya  merupakan pemukiman warga dan kebun campuran terdiri dari pohon kelapa, cengkeh, ketela, bambu dan sayur-sayuran.

d.  Keairan

Air yang melimpas di areal bencana berasal dari sungai kecil Sungai Kletek, lebar sekitar 4 m yang selalu berair baik musim hujan atau kemarau yang digunakan untuk MCK dan bercocok tanam, disamping sumur gali dengan kedalaman sekitar 10 m.

e.   Kerentanan Gerakan Tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Tasikmalaya (PVMBG, Badan Geologi) dan Peta Prakiraan Potensi Terjadinya Gerakan Tanah Jawa Barat Bulan Oktober 2017 daerah pemeriksaan termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah. Artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali terutama akibat curah hujan yang tinggi.

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Penyebab gerakan tanah adalah :

a. Lereng terjal dan
b. Adanya lapisan tuf yg kedap air sebagai bidang gelincir gerakan tanah
c. Tanah lapukan yang sarang dan tebal
d. Dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

5. Mekanisme terjadinya gerakan tanah

Gerakan tanah diawali dengan urah hujan yang tinggi yang langsung diserap oleh tanah lapukan yang tebal, sarang dan gembur hingga tanah menjadi jenuh air, karena lereng terjal maka masa tanah hilang kesetimbangannya dan bergerak melalui bidang gelincir gerakan tanah yaitu pada batas tanah lapukan/batuan dengan batuan yang masih segar, sehingga menimbulkan gerakan tanah longsoran bahan rombakan, nendatan disertai retakan dan amblesan.

6. Rekomendasi
a. Lokasi Gerakan tanah Jalur jalan raya di Desa Loyak Barang, Kec. Cikatomas
  • Jalan raya yang terkena gerakantanah masih bisa dipertahankan dengan membuat pancang ganda, fondasi mencapai lapisan keras dengan urugan harus benar-benar padat.
  • Perlu dipasang rambu rambu kebencanaan dan masyarakat perlu waspada bila terjadi hujan deras dan berlangsung lama.
b. Lokasi Gerakan tanah Jalur jalan raya di Desa Karya Mandala, Kec. Salopa
  • Jalan raya yang terkena gerakantanah masih bisa dipertahankan dengan membuat pancang ganda dengan urugan harus benar-benar padat.
  • Bisa juga dengan melakukan pemotongan lereng, dengan persyaratan teknis harus diikuti
  • Perlu dipasang rambu rambu kebencanaan dan masyarakat perlu waspada bila terjadi hujan deras dan berlangsung lama.
c. Lokasi Gerakan Jalur jalan raya di Desa Salopa, Kec. Salopa
  • Bekas jalan lama sudah tidak layak lagi sebaiknya ditutup
  • Bekas longsoran ditanami kembali dengan pohon berakar kuat dan dalam
  • Jalan baru sudah dibuat dan dioperasikan, namun ada beberapa saran

-      Lereng atau kemiringan jalan raya masih sangat terjal, sebaiknya kemiringan tersebut dikurangi dan direndahkan

-      Hindari belokan tajam 900 atau lebih pada saat akan masuk ke tanjakan dengan kemiringan lereng jalan terjal, agar pengguna jalan tidak mengalami kesulitan.

B. DESA MULYASARI, KEC. SALOPA KAB. TASIKMALAYA, PROV. JAWA BARAT

1. Lokasi dan Waktu Kejadian

Lokasi gerakan tanah terletak di Kp. Sumabana, Desa Mulyasari, Kec. Salopa, Kab. Tasikmalaya, Prov. Jawa Barat terletak pada koordinat 070 32’ 59,5” LS dan 1080 19’ 44,3” BT, berada pada ketinggian 502 m diatas muka laut. Pemukiman di daerah ini terdiri dari 100 KK/rumah dimana beberapa diantaranya terkena longsor.

2. Kondisi Gerakan Tanah dan Dampaknya

  • Gerakan tanah yang terjadi pada bulan Agustus 2016 ini, berupa Nendatan disertai dengan retakan dan amblesan tanah. Panjang nendatan 220 meter, lebar 150 meter, tinggi nendatan 30-80 cm. Retakan, lebar 5 – 25 cm, kedalaman 5 – 20 cm, kemiringanlereng 15 - 240, arah retakan N 1200 E dan arah umum gerakan tanah N 1800 E
  • Gerakan tanah ini mengakibatkan 3 rumah rusak, 1 masjid dan 1 bangunan sekolah rusak.
3. Kondisi Daerah Pemeriksaan
a. Morfologi

Morfologi daerah bencana mmerupakan perbukitan bergelombang sedang hingga kasar merupakan bagian perbukitan Mulyasari dengan kemiringan lereng 15 – 400, dengan ketinggian sekitar 502 m di atas muka laut. Terdapat sungai kecil S. Sumabana lebar 2 - 3 m selalu berair terdapat di bagian lereng bawah.

b. Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tasimkamalaya (Puslitbang Geologi, 1992), batuan disusun oleh breksi tufaan, dengan sisipan tuf merupakan bagian dari Formasi Jampang (Tomj) dengan tingkat pelapukan tinggi berupa pasir lempungan, coklat kekuningan, gembur, sangat sarang, mudah menyerap air, tebal kurang lebih 4 m. Struktur geologi tidak dijumpai di lokasi ini.

c. Tataguna Lahan

Tata guna lahan pada umumnya berupa pesawahan, kebun campuran terdiri dari pohon buah-buahan, kelapa, akasia, bambu. Rumah-rumah umumnya menempati lereng yang relatif datar namun beberapa diantaranya terkena longsor.

d. Keairan

Air umumnya berasal dari mata air dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari, dan air ini dialirkan melalui slang-selang dan pembuangan belum melalui drainase yang baik. Pada bagian bawah lereng juga terdapat sungai kecil lebar 2 – 3 m yang selalu berair baik musim hujan atau kemarau.

e. Kerentanan Gerakan Tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Tasikmalaya (PVMBG, Badan Geologi) dan Peta Prakiraan Potensi Terjadinya Gerakan Tanah Jawa Barat Bulan Oktober 2017 daerah pemeriksaan termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah. Artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali terutama akibat curah hujan yang tinggi.

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Penyebab gerakan tanah adalah :

  1. Sifat fisik tanah lapukan yang sarang dan tebal,
  2. Adanya batuan kedap air bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah
  3. Lereng yang agak terjal,

d.  Drainase dan penataan air kurang baik termasuk pembuatan kolam-kolam ikan

  1. Dipicu oleh curah hujan tinggi.

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Mekanisme gerakan tanah terjadi setelah turun hujan lebat, air hujan meresap masuk kedalam tanah sehingga bobot tanah meningkat mengakibatkan masa tanah bergerak melalui bidang gelincir dalam hal ini lapisan tuf diantara batuan breksi tufan. Karena terdapat kemiringan lereng walau tidak terjal, maka masa tanah tetap hilang kesetimbannya dan bergerak melalui bidang gelincir gerakan tanah yaitu pada lapisan tuf sehingga menimbulkan gerakan tanah nendatan disertai retakan dan amblesan

6. Rekomendasi :

  1. Retakan yang terjadi segera diisi dengan tanah lempung dan dipadatkan,
  2. Kolam ikan sebaiknya dihilangkan
  3. Air beserta drainasenya diperbaiki dan ditata,
  4. Bekas longsor ditanami kembali dengan pohon berakar dalam dan kuat,
  5. Masyarakat perlu waspada bila perlu mengungsi ke tempat yang aman jika terjadi hujan lebih dari 3 jam,
  6. Di kemudian hari bangunan yang rusak dipindahkan, karena gerakan tanah tetap berlangsung walau pelan gerakannya

 

cikatomas

cikatomas2

cikatomas3

cikatomas4

cikatomas5

cikatomas6

cikatomas7

]cikatomas8

cikatomas9

cikatomas10

 

cikatomas11

Foto 1

Tampak jalan raya Tasikmalaya-Cikatomas ambles  20 – 60 cm, lebar retakan 15 cm panjang amblesan/retakan 75 m, jadi tinggal setengah badan jalan yang berfungsi di Desa Loyak Barang, Kec. Cikatomas

 

cikatomas12

Foto 2

Tampak jalan raya Tasikmalaya-Cikatomas terkena Nendatan disertai dengan Amblesan dan Retakan, Tinggi amblesan 20 cm – 0,80 cm, panjang nendatan 60 m, lebar 90 m, sehingga tinggal setengah badan jalan yang berfungsi di Desa Karya Mandala, Kec. Salopa

 

cikatomas13

Foto 3 dan 4

Tampak nendatan disertai retakan dan amblesan tanah, tinggi amblesan 20 cm – 0,80 cm, panjang areal nendatan 60 m, lebar 90 m, arah umum gerakan tanah N 2680E. Gerakantanah ini bergerak pada lereng dengan kemiringan 220 ujung lereng di pemukiman. Akibat gerakan tanah, Jalan raya sepanjang 90 meter mengalami

cikatomas14

Foto 5

Tampak jalan raya Tasikmalaya-Cikatomas Ds. Salopa, Kec. Salopa yang terkena Longsoran bahan rombakan. Arah umum gerakan tanah N 660 E, panjang 105 m mencapai lembah sungai di bawah lereng, lebar 82 m, tinggi tebing longsoran 10 – 18 m.  Berdampaik jalan raya sepanjang 82 m mengalami longsor, 4 rumah penduduk rusak, 4 rumah lainnya terancam.

 

cikatomas15

cikatomas16

Foto 6 & 7

Jalan baru melingkar hasil relokasi jalan longsor di Ds. Salopa, Kec. Salopa (foto5). Namun masih terlalu terjal maka disarankan untuk dilandaikan

 

cikatomas17

Foto 8

Bangunan sekolah yang sudah dikosongkan terkena nendatan panjang 220 meter, lebar 150 meter, tinggi nendatan 30-80 cm. Retakan, lebar 5 – 25 cm, kedalaman 5 – 20 cm Kp. Sumabana, Desa Mulyasari, Kec. Salopa

 

cikatomas18

cikatomas19

Foto 9 & 10

Runtuhan runtuhan batuan kecil dipinggir jalan sebagai akibat geerakan nendat pada kemiringan lereng yang tidak terjal sempat memutus jalan desa ini