Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Sukasirna, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat

Laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  Bencana Gerakan Tanah di Dusun Ciherang, Desa Sukasirna, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat berdasarkan Surat Permohonan Kajian Geologi dari BPBD Kabupaten Cianjur yang bernomor 362/426/BPBD/2017. Hasil pemeriksaan sebagai berikut, sebagai berikut : 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Dusun Ciherang, Desa Sukasirna, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat : 107° 12' 45,814" BT dan 7° 3' 32,832" LS. Gerakan tanah terjadi pada hari Minggu 12 November 2017 pukul 01:30 WIB dini hari.

 

2. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Secara umum daerah gerakan tanah di bagian atas merupakan perbukitan terjal – sangat terjal, dan di bagian bawah merupakan morfologi landai – agak terjal dan di ujung perbukitan dibatasi oleh lereng-lereng yang terjal. Di bagian bawah perbukitan mengalir Sungai Ciherang yang bermuara ke Sungai Cisokan. Elevasi lokasi daerah bencana yaitu 951 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bencana batuan penyusun daerah bencana adalah perselingan batulempung dan batulanau kelabu muda sampai menengah dan batupasir coklat kekuningan, setempat gampingan dan setempat merupakan endapan lahar yang tersusun oleh tufa, breksi andesit dan tufa dari Formasi Cimandiri (Tmc) yang termasuk kedalam lembar Peta Geologi Sindangbarang dan Bandarwaru (Koesmono, dkk., 1996). Tanah pelapukan berupa lempung pasiran hingga pasir lempungan dengan ketebalan tanah pelapukan  2 - 6 m, sangat gembur, kontak dengan bagian bawahnya berupa lapisan batulempung yang kurang lolos air, sehingga bidang kontak antara keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah. Pada saat pemeriksaan, umumnya kondisi tanah permukaan sangat basah (jenuh air), sehingga kondisi lahan menjadi kurang stabil.
  • Keairan, Kondisi air di wilayah ini sangat melimpah, sehingga tanah pelapukan sangat basah (jenuh). Terdapat saluran air di atas pesawahan untuk mengairi pesawahan dan di bagian atas  di sisi lapangan bola terdapat mata air yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi bencana. Menurut informasi dari masyarakat, sebelum kejadian longsor, kondisi air di bagian atas yaitu areal persawahan sangat melimpah sehingga air menjenuhi tanah dan mengalir ke bagian tebing terjal. Sumber air ini berasal dari aliran mata air, pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama debit mata air bertambah besar.  Mata air juga ditemukan menyebar di lereng yang terjal yang muncul pada kontak perlapisan tanah dengan lapisan batu lempung yang kedap air. Sungai Ciherang yang berada di bawah perbukitan mengalir sepanjang tahun.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan pada lereng bagian atas berupa kebun/hutan campuran, pesawahan dan aliran sungai untuk mengairi pesawahan. Bagian tengah hingga bagian bawah lereng setempat-setempat merupakan pemukiman penduduk dan dikelilingi oleh pesawahan dan kolam ikan hampir di setiap halaman rumah.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur bulan November 2017 (Pusat Vulaknologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi), lokasi bencana terletak pada daerah potensi gerakan tanah menengah-tinggi artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Gerakan tanah yang terjadi di Kampung Ciherang, Desa Sukasirna, Kecamatan Campakamulya berupa longsoran bahan rombakan dan nendatan. Di bagian atas pada areal persawahan merupakan jenis longsoran bahan rombakan (lereng terjal – sangat terjal) mempunyai arah gerakan N 285° E, tinggi gawir sekitar 12,2 meter dan kemiringan lereng 38°, lebar mahkota longsoran 45 meter dan panjang 25 meter, pada koordinat 107° 12' 45,814" BT dan 7° 3' 32,832" LS. Dibagian tengah tepatnya dibadan jalan desa terdapat amblesan pada koordinat  107° 12' 44,34" BT dan 7° 3' 36,27" LS dengan kedalaman amblesan 30 – 80 cm yang berarah N 185° E atau relatif Utara - Selatan dan sejajar dengan jalan desa. Amblesan juga terdapat di bagian Selatan dengan tinggi amblesan 120 cm  dengan lebar amblesan 4 meter yang memotong jalan desa pada koordinat 107° 12' 43,97" BT dan 7° 3' 37,01" LS. Dibagian bawah yang merupakan areal pemukiman warga terdapat retakan yang mempunyai arah N 250° E dengan kedalaman retakan lebih dari 1 meter dan lebar 20 cm pada koordinat  107° 12' 42,41" BT dan 7° 3' 35,31" LS pada elevasi 921 meter diatas permukaan laut.

Menurut informasi setempat dan pengamatan lapangan, dampak bencana gerakan tanah ini menyebabkan :

  • 24 (dua puluh empat) rumah mengalami rusak ringan dengan kondisi sebagian besar miring akibat penurunan tanah atau lahan.
  • 96 (sembilah puluh enam) rumah terancam pergerakan tanah susulan.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Kelerengan yang landai – terjal sehingga memungkinkan tanah untuk mudah bergerak.
  • Adanya lahan basah pada tubuh lereng berupa sawah dan kolam yang membuat tanah pada lereng menjadi sangat jenuh air sehingga mudah bergerak/runtuh.
  • Sistem aliran air permukaan yang kurang baik, sehingga air permukaan mudah menjenuhi tanah yang gembur.
  • Tanah pelapukan yang sangat tebal (>5 meter) yang lolos air/porous, gembur dan bersifat lepas (loose) yang berada di atas lapisan batuan yang kedap air, sehingga kontak keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Akibat kandungan air dan tekanan pori pada lapisan tanah meningkat, bobot masa tanah menjadi bertambah, daya ikat antar butiran tanah (kohesi) berkurang menyebabkan lereng kehilangan kekuatannya dan menjadi tidak stabil. Lapisan tanah pelapukan kontak dengan lapisan di bawahnya yang kedap air, sehingga kontak antara keduanya merupakan bidang gelincir gerakan tanah, karena kemiringan yang terjal di bagian atas, maka terjadi longsoran tanah di bagian atas persawahan dan di bagian lereng-lereng terjal pada ujung perbukitan di bagian bawah, pada bagian lereng yang landai – agak terjal di wilayah pemukiman terjadi gerakan tanah tipe nendatan yang merupakan gerakan tanah susulan, yang terjadi pada tahun sebelumnya (Juli 2016).

 

6. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut:

  • Kepada masyarakat yang bermukim di daerah gerakan tanah harus lebih meningkatkan kewaspadaannya terhadap ancaman longsor susulan, terutama  pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama, masyarakat tidak beraktifitas di atas dan di bawah longsoran dan masyarakat harus mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman bencana gerakan tanah (arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat).
  • Melakukan penataan air permukaan dan air limbah rumah tangga secara keseluruhan di wilayah ini dengan saluran kedap air dan air dibuang (dialirkan) menjauhi lereng.
  • Retakan pada tanah harus segera ditutup dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air permukaan tidak masuk kedalam lapisan tanah.
  • Pemukiman di Kampung Ciherang pada saat ini tidak perlu di relokasi, kecuali rumah yang rusak parah akibat gerakan tanah dan berada dekat dengan lereng yang terjal.
  • Tidak membangun di atas, pada dan di bawah lereng yang terjal. Tidak disarankan juga untuk mebangun bangunan dengan tipe permanen.
  • Apabila akan dibangun pemukiman, disarankan untuk rumah jenis rumah panggung mengingat gerakan tanah tipe lambat masih mungkin terjadi jika curah hujan yang tinggi
  • Untuk meningkatkan stabilitas lereng, maka pesawahan dan kolam harus segera dikeringkan dan diganti dengan pertanian lahan kering yang diselingi dengan pepohonan yang berakar kuat dan dalam agar dapat mengikat tanah pada lereng.
  • Agar dipasang rambu-rambu peringatan terhadap adanya gerakan tanah terutama pada jalur jalan dan masyarakat yang melintasi jalan desa agar waspada dan membatasi muatan yang dibawa oleh kendaraannya.
  • Pemantauan terhadap gerakan tanah di Kampung Ciherang harus terus menerus dilakukan, jika gerakan tanah terus berkembang, maka seluruh rumah yang terancam harus direlokasi ke tempat yang aman dari ancaman bencana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Sukasirna 1 (071217)

Gambar 1. Lokasi gerakan tanah di Kampung Ciherang, Desa Sukasirna, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

 

Sukasirna 2 (071217)

Gambar 2. Peta Geologi Lokasi Bencana di Desa Sukasirna, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

 

TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH 

DI KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT

 BULAN NOVEMBER 2017

Sukasirna 3 (071217)

Keterangan :

Sukasirna 4 (071217)

 

Sukasirna 5 (071217)

Gambar 3.  Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat di Bulan November 2017

 

Sukasirna 6 (071217)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kampung Ciherang, Desa Sukasirna, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

 

Sukasirna 7 (071217)

Gambar 5. Penampang gerakan tanah di Ciherang, Desa Sukasirna, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

 

Sukasirna 8 (071217)

Foto 1. Lokasi gerakan tanah pada areal persawahan merupakan jenis longsoran bahan rombakan (lereng terjal – sangat terjal) mempunyai arah gerak N 285° E, dengan tinggi gawir sekitar 12,2 meter dan kemiringan lereng 38° dan lebar 45 meter dan panjang 25 meter.

 

Sukasirna 9 (071217)

Foto 2. Lokasi Amblesan pada badan jalan dengan kedalaman amblesan 30 – 80 cm yang berarah N 185° E atau relatif Utara - Selatan sejajar dengan jalan desa

 

Sukasirna 10 (071217)

Foto 3. Lokasi amblesan juga terdapat di bagian Selatan dengan tinggi amblesan 120 cm yang memotong jalan desa dengan lebar amblesan 4 meter.

 

Sukasirna 11 (071217)

Foto 4. Areal pemukiman yang terancam gerakan tanah yang berada dibawah lereng juga dikelilingi oleh areal persawahan dan terdapat kolam - kolam pada setiap rumah.

 

Sukasirna 12 (071217)

Foto 5. Retakan yang berada di areal pemukiman dengan kedalaman retakan lebih dari 1 meter dan lebar 20 cm dengan arah retakan N 250° E

 

Sukasirna 13 (071217)

Foto 6. Kondisi rumah yang mengalami kerusakan pada lantai, kaca dan pintu akibat pergerakan tanah tipe lambat yang sudah dikosongkan oleh pemiliknya, disarankan untuk tidak membangun rumah permanen.

 

Sukasirna 14 (071217)

Foto 7. Rumah yang berada dekat dengan lereng terjal sangat juga sangat terancam oleh gerakan tanah susulan, disarankan untuk direlokasi ketempat yang lebih aman dari ancaman gerakan tanah.

 

Sukasirna 15 (071217)

Foto 8. Koordinasi dan sosialisai dengan aparat desa setempat agar mereka lebih memahami tentang bencana gerakan tanah dan upaya - upaya mitigasinya