Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakantanah Di Kec. Batipuh Selatan, Kab. Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat

Menindaklanjuti surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanah Datar No. 360/206/BPBD-2017 perihal Permintaan Tenaga Ahli untuk melakukan penelitian terhadap kondisi tanah di Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat dengan nomor surat 360/206BPBD-2017, bersama ini kami sampaikan laporan singkat hasil pemeriksaan sebagai berikut:

A. Perbukitan Sebelah Barat Jorong Guguk, Nagari Guguk Malalo, Kec. Batipuh Selatan

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah/tanah longsor terjadi di Jorong Guguk, Nagari Guguk Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar. Kejadian gerakan tanah terjadi di bukit di atas perkampungan Jorong Guguk berupa retakan dan amblasan. Berdasarkan informasi dari warga dan BPBD kabupaten Tanah Datar waktu kejadian gerakan tanah pertama kali terjadi pada tahun 2007, dan retakan tanah di lereng bukit bagian atas mengakibatkan masyarakat di Jorong Guguk, Jorong Duo Koto dan Jorong Baing khawatir akan terjadi gerakan tanah yang lebih besar. Koordinat area gerakan tanah berada di 100° 29' 03.1" BT dan 00° 36' 12.3" LS.

 

2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah di lereng bukit bagian atas sebelah barat pemukiman di Jorong Guguk, Nagari Guguk Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, adalah retakan dan amblasan dengan panjang retakan ± 100 m dan berarah utara – selatan. Gerakan tanah atau retakan disebabkan oleh kemiringan lereng yang terjal dan faktor batuan berupa breksi lahar yang poros terhadap air, jarak antara retakan dengan pemukiman dan jalan besar berjarak ± 1,6 km sehingga potensi tanah longsor menimpa pemukiman yang dikhawatirkan akan sangat kecil. Namun yang perlu diwaspadai jika longsoran tersebut menutup aliran sungai karena bisa berpotensi menjadi aliran bahan rombakan/banjir bandang. Dikarenakan di bagian bawah retakan dan amblasan tersebut banyak dijumpai alur sungai dan irigasi.

 

3. Dampak Gerakan Tanah 

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan gerakan tanah ini mengancam:

  • Sawah dan ladang dengan luas ±12,8 ha.
  • Pemukiman di 3 Jorong (Jorong Guguk, Jorong Duo Koto, dan Jorong Baing).
  • Jalan Raya Guguk Malalo.

 

4. Kondisi daerah bencana
  • Morfologi, Secara umum topografi di sekitar bukit bagian barat Jorong Guguk berupa lereng perbukitan dengan ketinggian antara 600 - 800 meter di atas permukaan laut. Lokasi daerah bencana merupakan perbukitan dengan lereng terjal (40 - 50°) dan daerah pemukimannya memiliki kemiringan lereng landai (5 - 10°).
  • Kondisi Geologi, Berdasarkan pengamatan lapangan batuan di daerah bencana berupa breksi vulkanik dan breksi lahar yang dalam Peta Geologi Regional Lembar Padang termasuk dalam Formasi Batuan Qtau berupa Lahar, Fanglomerat dan endapan koluvium lainnya, dan diatasnya berupa tanah pelapukan berupa pasiran dengan ketebalan kurang dari 2 meter, di bagian bawahnya merupakan pemukiman yang berdampingan dengan Danau Singkarak disusun oleh endapan aluvium berupa lanau pasir dan kerikil. Berdasarkan Peta Geologi Regional Lembar Padang dan Solok, struktur geologi yang berkembang berarah Tenggara – Barat Laut yang berada di bagian barat Danau Singkarak.
  • Tata guna lahan dan Keairan, Tata lahan pada bagian atas berupa ladang campuran, sawah, ladang kopi dan alang-alang. Sedangkan di bagian bawah berupa pemukiman dan sawah.  Kondisi keairan di daerah bencana untuk keperluan sehari-hari menggunakan air dari mata air. Rembesan air muncul pada tekuk lereng.
  • Kerentanan Gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Provinsi Sumatera Barat bulan November 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah tinggi artinya pada lokasi ini berpotensi tinggi terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat. 

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

  • Sifat tanah pelapukan dengan ketebalan 1-2 m dan batuan dasar berupa breksi vulkanik dan lahar yang sarang dan mudah luruh jika terkena air.
  • Banyaknya air permukaan yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah yang meningkatkan beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil dan terjadilah rekahan dan amblasan.
  • Kondisi geologi berupa batuan andesit menjadi potensi jatuhan batu yang sudah menggantung karena kekar dan kelerengan terjal (40°).
  • Kemiringan lereng yang terjal (40 - 50°) mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Curah hujan yang tinggi yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah berupa retakan dan amblasan.

 

6. Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan:

  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran alur sungai yang berpotensi terancam bencana aliran bahan rombakan/banjir bandang harap meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan berintensitas tinggi dan lama.
  • Masyarakat harap mewaspadai jika air keruh dan pada saat hujan aliran berhenti atau aliran alur sungai terbendung.
  • Aparatur desa dan masyarakat setempat agar selalu melakukan pemantauan perkembangan retakan tanah. Jika muncul retakan baru segera menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air hujan tidak masuk/meresap dan menjenuhi tanah pada lereng.
  • Aparatur desa dan masyarakat setempat agar selalu melakukan pemantauan dan pengontrolan bendung-bendung alam pada bagian hulu dan melakukan pembobolan jika ditemukan bendung alam untuk menghindari terjadinya banjir bandang.
  • Menanami lereng bagian atas dan tengah dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (tanaman tahunan) yang akarnya dapat mengikat tanah pada lereng.
  • Perbaikan saluran air/drainase agar air tertata dengan baik dan tidak melimpas dan menjenuhi lereng
  • Tidak mencetak kolam dan sawah pada bagian atas dan tengah lereng.
  • Tidak beraktifitas di bawah material longsoran, lereng bagian atas jika hujan lebat
  • Potensi tanah longsor menimpa pemukiman kecil sehingga tidak perlu direlokasi

 

 

B. Kawasan Pemukiman Jorong Guguk, Nagari Guguk Malalo, Kec. Batipuh Selatan 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah/tanah longsor terjadi di Jorong Guguk, Nagari Guguk Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar. Kejadian gerakan tanah terjadi di pemukiman Jorong Guguk berupa retakan dan nendatan. Berdasarkan informasi dari warga dan BPBD kabupaten Tanah Datar waktu kejadian gerakan tanah pertama kali terjadi pada tahun 2004, dan retakan tanah serta nendatan di pemukiman warga ini mengakibatkan masyarakat di Jorong Guguk khawatir akan terjadi gerakan tanah yang lebih besar.. Koordinat area gerakan tanah berada di 100° 29' 54.7" BT dan 00° 29' 54.7" LS.

 

2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah di Jorong Guguk, Nagari Guguk Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, adalah retakan dan nendatan memiliki panjang retakan ± 200 m dan berarah utara – selatan. Gerakan tanah ini disebabkan oleh pergerakan sesar/patahan aktif yang terdapat di sebelah barat Danau Singkarak. Kerusakan yang terjadi di beberapa fasilitas umum dan rumah warga ini juga dikarenakan oleh batuan penyusun di bawah fondasi bangunan tersebut merupakan endapan lepas aluvium berupa lanau pasir dan kerikil.

 

3. Dampak gerakan tanah

Dampak gerakan tanah berdasarkan data lapangan antara lain :

  • 1 Mesjid Rusak Sedang
  • 1 Kantor Wali Nagari Rusak Sedang
  • 1 Sekolah Taman Kanak-kanak Rusak Sedang
  • 10 rumah Rusak Sedang

 

4. Kondisi daerah bencana
  • Morfologi, Secara umum topografi di sekitar pemukiman Jorong Guguk berupa pedataran dengan ketinggian antara 350 - 400 meter di atas permukaan laut. Lokasi daerah bencana merupakan pedataran landai (5 - 10°).
  • Kondisi Geologi, Berdasarkan pengamatan lapangan batuan di daerah bencana yang berdampingan dengan Danau Singkarak disusun oleh endapan aluvium berupa lanau pasir dan kerikil. Berdasarkan Peta Geologi Regional Lembar Padang dan Solok, struktur geologi yang berkembang berarah Tenggara – Barat Laut yang berada di sisi bagian barat Danau Singkarak.
  • Tata guna lahan dan Keairan, Tata lahan pada bagian atas berupa pemukiman, sawah dan ladang campuran.  Kondisi keairan di daerah bencana untuk keperluan sehari-hari menggunakan air dari mata air.
  • Kerentanan Gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Provinsi Sumatera Barat bulan November 2017 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah menengah artinya daerah ini mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:
  • Gerakan tanah sangat dikontrol oleh pergerakan struktur geologi berupa sesar/patahan normal (graben) memanjang Singkarak-Solok yang merupakan salah satu segmen Sesar Besar Sumatra yang berarah tenggara – barat laut.
  • Kondisi geologi berupa endapan batuan lepas aluvium berupa pasir dan kerikil yang mengakibatkan bangunan diatasnya mudah bergerak apabila terjadi pergerakan tanah yang dikarenakan pergerakan sesar/patahan di daerah tersebut.

 

6. Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan:

  • Karena daerah ini rawan gempa bumi maka, pemukiman yang terletak di sekitar pinggiran Danau Singkarak serta bangunan vital, strategis dan mengundang konsentrasi banyak orang ini berada di daerah rawan gempabumi agar dibangun mengikuti kaidah – kaidah bangunan konstruksi tahan gempa bumi.
  • Masyarakat yang bermukim di sekitar pinggiran Danau Singkarak pada bagian hilir aliran alur sungai yang berpotensi terancam banjir bandang harap meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan berintensitas tinggi dan lama.
  • Hindari membangun pada endapan rawa dan tanah urug yang tidak memenuhi persyaratan teknis, karena rawan terhadap goncangan gempa bumi.
  • Sehubungan wilayah sepanjang Danau Singkarak merupakan wilayah rawan gempa bumi dan gerakan tanah, agar Pemerintah Kabupaten Tanah Datar lebih meningkatkan kegiatan mitigasi bencana gempa bumi dan gerakan tanah (sosialisasi, simulasi, pelatihan, dan lain - lain) kepada masyarakat.
  • Pembangunan atau penggunaan lahan harap meperhatikan Rencana Tata Ruang Wilayah setempat.

 

LAMPIRAN

 

Batipuh 1 (071217)

Gambar 1. Peta lokasi daerah bencana Nagari Guguk Malalo Kecamatan Batipuh Selatan, Kab. Tanah Datar

 

Batipuh 2 (071217)

Gambar 2. Peta Geologi Regional Nagari Guguk Malalo dan Sekitarnya, Kec. Batipuh Selatan

 

Batipuh 3 (071217)

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Nagari Guguk Malalo, Kec. Batipuh Selatan, Kab. Tanah Datar

 

Batipuh 4 (071217)

Gambar 4. Peta Situasi Pemeriksaan Gerakan Tanah Nagari Guguk Malalo, Kec. Batipuh Selatan, Kab. Tanah Datar

 

Batipuh 5 (071217)

Gambar  5. Penampang Gerakan Tanah di Perbukitan Sebelah Barat Jorong Guguk, Nagari Guguk Malalo, Kec. Batipuh Selatan, Kab. Tanah Datar

 

Batipuh 6 (071217)

Gambar  6. Penampang Gerakan Tanah di Kawasan Pemukiman Jorong Guguk, Nagari Guguk Malalo, Kec. Batipuh Selatan, Kab. Tanah Datar.

 

Batipuh 7 (071217)

Foto 1. Gawir longsoran lama yang memiliki kelerengan terjal 40 - 50º yang berjarak ± 30 meter dari lokasi retakan tanah di Perbukitan bagian barat Jorong Guguk.

 

Batipuh 8 (071217)

Foto 2. Retakan dan amblesan tanah sekitar 60 cm di lereng bagian atas yang memanjang ± 100 meter berarah utara selatan di Perbukitan bagian barat Jorong Guguk.

 

Batipuh 9 (071217)

Foto 3. Singkapan batuan yang tersingkap di retakan dan amblesan berupa breksi vulkanik di Perbukitan bagian barat Jorong Guguk.

 

Batipuh 10 (071217)

Foto 4. Aliran Sungai yang berada di bawah lokasi retakan yang dapat terbendung apabila terjadi longsoran pada retakan di atas di Perbukitan Jorong Guguk.

 

Batipuh 11 (071217)

Foto 5. Aliran Irigasi di bawah yang berjarak ± 60 m dan berada tepat di bagian bawah retakan harus mendapat perhatian dari warga setempat apabila retakan tersebut longsor dan menutup dan membendung saluran irigasi ini di Perbukitan bagian barat Jorong Guguk.

 

Batipuh 12 (071217)

Foto 6. Diskusi di lapangan antara Tim Badan Geologi dengan BPBD Kab. Tanah Datar, Wali Nagari Guguk Malalo dan Relawan Nagari Guguk Malalo pada saat meninjau kondisi Puncak Bukit yang Mengancam Pemukiman Nagari Guguk malalo.

 

Batipuh 13 (071217)

Foto 7. Retakan pada tembok kantor wali nagari dan tembok penahan (retaining wall) yang mengalami pergerakan tanah.

 

Batipuh 14 (071217)

Foto 8. Peninjauan mesjid Nurul Islam Guguk Malalo yang mengalami pergeseran tanah berupa nendatan di bagian lantainya.

 

Batipuh 15 (071217)

Foto 9. Retakan pada rumah warga di Jorong Guguk yang dengan arah yang sama dengan Mesjid Nurul Islam

 

Batipuh 16 (071217)

Foto 10. Endapan aluvium yang menjadi batuan dasar pada pemukiman di Jorong Guguk yang mudah bergerak apabila terjadi pergerakan tanah akibat pergerakan sesar/patahan dan curah hujan yang tinggi.

 

Batipuh 17 (071217)

Foto 11. Rencana relokasi mesjid Nurul Islam yang berjarak 250 m dari lokasi awal. Agar dibangun sesuai dengan persyaratan teknis yang baik dan mengikuti kaidah – kaidah bangunan konstruksi tahan gempa bumi.

 

Batipuh 18 (071217)

Foto 12. Koordinasi di Kantor Wali Nagari Guguk Malalo, Kec. Batipuh Selatan bersama BPBD Kab. Tanah Datar beserta Aparat dan Tokoh Masyarakat di Jorong Guguk sebelum melaksanakan peninjauan lokasi bencana.