Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan gerakan tanah di Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Pemeriksaan dilaksanakan dalam rangka menindaklanjuti surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung Barat, Nomor : 360/429 - BPBD, tanggal 19 Desember 2017, perihal Permohonan Kajian Potensi Bencana. Pemeriksaan dilaksanakan bersama dengan pihak dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung Barat dan pihak aparat Desa Sukamanah, sebagai berikut :

1. Lokasi Gerakan Tanah :

Gerakan tanah terjadi di Kampung Neundeut RT 01/ RW 05, Desa Sukamanah, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, yang secara geografis terletak pada koordinat 060 58” 49,3” LS dan 1070 17” 55,3” BT. Gerakan tanah pernah terjadi pada 1968, dan terjadi kembali pada 15 Desember 2017 setelah gempabumi. 

 

2. Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah berupa nendatan, retakan dan rayapan pada wilayah perkampungan dengan ukuran panjang ± 30 cm – 2 meter, lebar ± 5 – 40 cm dan kedalaman nendatan ± 20 – 50 cm mempunyai arah N 202 °E. Gerakan tanah di daerah ini sudah berlangsung lama dan sudah di antisipasi oleh penduduk setempat dengan mengisi retakan tersebut dengan tanah dan lempung yang dipadatkan, diharapkan agar air tidak masuk ke dalam retakan dan menjenuhi tanah.

 

3. Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • 6 (enam) rumah retak-retak,
  • 48 rumah terancam,
  • Jembatan retak
  • Jalan desa nendat dengan lebar 30 cm - 1 meter.

 

4. Kondisi Umum Daerah Bencana :

  • Morfologi, Secara umum morfologi Desa Sukamanah adalah daerah perbukitan dengan lereng terjal sampai curam, dengan kemiringan lereng 25° - 50°. Ketinggian pada wilayah ini 1018 – 1034 meter.
  • Geologi, Berdasarkan pengamatan dilapangan, batuan penyusun di daerah bencana berupa batu pasir tufa lapuk berwarna coklat muda – coklat tua, berukuran pasir halus – pasir kasar, agak rapuh, sarang, setempat bersisipan tufa dengan tanah pelapukan berupa lempung berwarna coklat, lunak, lengket berketebalan antara 2 - 4 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Cianjur, Jawa (Sudjatmiko, 1972), daerah bencana tersusun oleh tufa batuapung, batupasir tufaan (Mt).
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan pada daerah bencana pada bagian atas berupa pemukiman,  kebun campuran, sawah dan terdapat banyak kolam-kolam ikan dan penampungan air, sedangkan pada bagian bawah berupa sawah.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan melimpah pada musim hujan. Air permukaan (run off) mengalir bebas di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah melalui celah/retakan. Konsumsi air penduduk berasal dari sumur gali dengan kedalaman lebih kurang 1 meter. Banyak dijumpai kolam-kolam ikan dan penampungan air di sekitar pemukiman warga. Tidak terdapat mata air pada daerah bencana ini.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Desember 2017, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Rongga terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Kemiringan lereng yang sangat terjal,
  • Sifat fisik tanah pelapukan yang tebal, lunak dan jenuh air sehingga mudah luruh dan tidak stabil (mudah longsor).
  • Pembebanan dan penjenuhan serta pelunakan tanah akibat akumulasi air dari lahan sawah dan  kolam-kolam penampungan air.
  • Adanya bidang lemah yang berupa breksi tufaan dan tufa yang bersifat kedap air sehingga dapat berfungsi sebagai bidang gelincir gerakan tanah.
  • Hujan deras yang turun dengan durasi lama semakin menjenuhkan tanah sehingga tanah mudah bergerak.
  • Tata guna lahan yang sebagian besar pemukiman berada pada lereng terjal, serta adanya kolam-kolam.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Gerakan tanah di wilayah Kampung Neundeut terjadi pada lokasi yang disusun oleh tanah pelapukan bersifat sarang dan berada di atas batuan dasar yang bersifat lebih kedap. Curah hujan yang tinggi dan aliran air permukaan yang belum seluruhnya kedap mengakibatkan peresapan melalui zona-zona rekahan, sehingga terjadi penjenuhan dan peningkatan bobot massa tanah. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Pemukiman yang berada di atasnya semakin menambah beban terhadap tanah.Kondisi ini ditambah dengan kemiringan lereng yang terjal menyebabkan tanah mudah bergerak untuk mencari kesetimbangan baru.Retakan-retakan yang terjadi dan aliran air permukaan yang mengarah ke dalam retakan, mengakibatkan pembebanan terus bertambah, sehingga gerakan tanah semakin intensif.

 

7. Rekomendasi

Gerakan tanah jenis rayapan yang diikuti oleh retakan dan nendatan masih berlangsung dan tetap berlangsung jika terjadi hujan lebat berlangsung lama serta air masuk ke bawah permukaan melalui rekahan. Untuk itu di Rekomendasikan :

  • Pemukiman di daerah tersebut masih layak huni, tetapi masyarakat harus selalu waspada terutama pada saat dan setelah hujan lebat berlangsung lama.
  • Masyarakat diharapkan terus memantau intensitas perkembangan retakan yang terjadi, apabila retakan terus berkembang diharapkan segera mengungsi ketempat yang lebih aman.
  • Bangunan konstruksi ringan seperti rumah panggung cocok di daerah ini yang merupakan daerah rentan gerakan tanah jenis rayapan.
  • Jika daerah tersebut dibangun dengan konstruksi tembok/permanen dan lantai keramik, maka jika terjadi gerakan tanah jenis rayapan akan terjadi retakan pada dinding dan lantai, beresiko roboh.
  • Mempertahankan tanaman dengan ciri berakar kuat dan dalam, guna memperlambat gerakan tanah jenis rayapan.
  • Mengatur aliran air permukaan/drainase agar air tidak meresap ke bawah permukaan yang dapat mempercepat terjadi gerakan tanah.
  • Segera menutup retakan dan memadatkannya dengan tanah lempung untuk menghindari peresapan air secara cepat ke dalam tanah.
  • Mengarahkan aliran air permukaan menjauh dari retakan pada permukaan tanah.
  • Tidak membangun pemukiman di atas, pada, dan di bawah lereng dengan kemiringan sedang hingga terjal.
  • Mengeringkan kolam ikan dan penampungan air.
  • Saluran pada lereng bagian atas (perkampungan) perlu dibuat kedap air (disemen)

 

LAMPIRAN

Sukamanah 1 (291217)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah Desa Sukamanah, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

 

Sukamanah 2 (291217)

Gambar 2. Peta Geologi Desa Sukamanah, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

 

Sukamanah 3 (291217)

Gambar  3. Peta Situasi Gerakan Tanah Kp. Neundeut, Desa Sukamanah, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

 

Sukamanah 4 (291217)

Gambar 4. Peta Penampang Gerakan Tanah Kp. Neundeut, Desa Sukamanah, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.

 

Sukamanah 5 (291217)

Gambar 5. Peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah pada bulan Desember 2017 Kab. Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.

 

POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN BANDUNG BARAT, PROVINSI JAWA BARAT

 PADA BULAN DESEMBER 2017

Sukamanah 6 (291217)

Keterangan :

Sukamanah 7 (291217)

 

Sukamanah 8 (291217)

Foto 1.  Morfologi Kampung Neundeut RT 01/ RW 05, Desa Sukamanah pada bagian atas lereng berupa pemukiman dan hutan, lereng bagian tengah adalah kebun campuran dan bagian bawah berupa persawahan dan sungai.

 

Sukamanah 9 (291217)

Foto 2. Foto kiri memperlihatkan retakan dan nendatan yang terjadi di lereng bagian atas pemukiman. Foto kanan adalah retakan yang terjadi di bawah rumah

 

Sukamanah 10 (291217)

Foto 3. Sosialisasi  yang dilakukan kepada masyarakat, aparat desa, dan aparat kecamatan

 

Sukamanah 11 (291217)

Foto 4. Longsoran bahan rombakan yang ada dilereng bagian tengah, dan mengakibatkan satu rumah rusak.

 

Sukamanah 12 (291217)

Foto 5. Kolam ikan dan penampungan air yang ada di bagian tengah lereng sebaiknya dikeringkan, agar tidak membebani lereng