Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakantanah Dan Lahan Relokasi Di Kec. Karangmoncol, Kab. Purbalingga Provinsi Jawa Tengah

Laporan singkat hasil pemeriksaan Rencana Tempat Relokasi di Desa Sirau, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah berdasarkan permintaan Pemeriksaan Gerakan Tanah Daerah dari Sekretariat Daerah Kabupaten Purbalingga 362/00352 tertanggal 15 Januari 2018. Hasil pemeriksaan sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah/ tanah longsor terjadi di Dukuh Pengunsen, Desa Sirau, Kabupaten Purbalingga pada awal Januari 2018. Koordinat longsoran 109° 26’ 28.6” BT dan 7° 11’39.6”BT serta 109° 26’ 23.2” BT dan 7° 11’ 41.7”BT

 

2. Jenis Gerakan Tanah:

Jenis gerakan tanah di Desa Sirau, Kecamatan Karangmoncol berupa retakan, nendatan, amblesan serta pada pemukiman. Namun karena kelerengan dilokasi tersebut terjal (30º – 40º), maka berpotensi terjadi longsoran tipe cepat.  Arah pergerakan longsoran relative ke barat laut (N 310°E). Retakan muncul dengan lebar 40 - 60 cm, turun 0,5 – 0.75 m, dan panjang 60 meter.

Karena retakan dan longsoran tersebut mengenai pemukima serta, pemukiman tersebut sudah tidak aman dari ancaman gerakan tanah, maka Pemerintah Daerah akan merelokasi 16 rumah yang rusak berat dan terancam longsoran susulan tersebut, ketempat yang lebih aman

 

3. Dampak gerakan tanah 

Dampak gerakan tanah antara lain :

  • 16 rumah rusak dan harus direlokasi ketempat yang aman

 

4. Kondisi daerah bencana

  • Morfologi, Secara umum topografi di sekitar lokasi bencana  berupa lereng perbukitan dengan ketinggian antara 750 - 950 meter di atas permukaan laut. Lokasi daerah bencana merupakan perbukitan dengan kelerengan berkisar > 25°.
  • Kondisi Geologi, Berdasarkan pengamatan lapangan batuan di daerah bencana berupa napal bersisipan batupasir (Formasi Halang) dan diatasnya berupa tanah pelapukan lempung pasiran, Secara regional Formasi Halang terdiri dari Batupasir andesitan, konglomerate tufan dan napal bersisipan batupasir. Kondisi umum Formasi Halang  menyebabkan daerah ini mudah bergerak lambat. Namun pada kelerengan terjal memungkinkan terjadi perubahan tipe gerakan menjadi gerak cepat. Pada lokasi bencana ini juga dijumpai sesar geser, sehingga turut mengontrol kejadian gerakan tanah yang ada diloksi bencana.
  • Tata guna lahan dan Keairan, Tata lahan pada bagian atas kebuncampuran dan jalan, sedangkan di bagian bawah pemukiman dan persawahan.  Muka air tanah di daerah ini > 5 meter, penduduk menggunakan mata air dan anak sungai yang melimpah keperluan sehari-hari.
  • Kerentanan Gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Purbalingga bulan Februari 2018 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah - Tinggi artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:
  • Kelerengan yang terjal dengan tanah pelapukan yang tebal > 4 m, sehingga bias mengubah gerakan tanah tipe lambat mnjadi tipe cepat.
  • Kondisi geologi tanah pelapukan yang tebal menumpang diatas batunapal bersisipan batupasir
  • Karakteristik batunapal yang mudah pecah jika tersingkap dan terkena air sehingga mudah mengalami gerakan tanah tipe lambat.
  • Curah hujan yang tinggi yang turun sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah memicu terjadinya gerakan tanah.

 

6. Mekanisme:

Curah hujan yang tinggi mengakibatkan air terakumulasi pada batas tanah lapuk dengan batunapal. Air kemudian meresap pada tanah pelapukan yang bersifat sarang, sehingga tanah menjadi mudah jenuh air. Keadaan tersebut mengakibatkan bobot masa tanah dan kejenuhan tanah meningkat. Pelapukan tanah yang tebal berada diatas batunapal (Formasi Halang), dan beberapa sudah tersingkap dipermukaan sehingga tanah pelapukan dan batunapal mudah bergerak lambat. Dengan adanya bobot massa tanah yang tinggi, pelapukan yang tebal dan kemiringan lereng > 20o, serta curah hujan yang tinggi mengakibatkan tahanan lereng lemah kemudian karena gaya gravitasi dari kelerengan yang terjal dan sifat dasar batunapal maka terjadilah gerakan tanah tipe rayapan.

  

7. Rencana Relokasi :

Mengingat daerah bencana sangat rawan terhadap bencana gerakan tanah dan kondisi rumah sudah mengalami rusak-rusak maka pemerintah desa berencana memindahkan 16 rumah (relokasi), ke tempat yang lebih aman. Secara umum kondisi lahan relokasi sebagai berikut:

  • Luas tanah daerah rencana relokasi sekitar 2.717 M² dengan tata guna lahan adalah ladang.
  • Jarak dengan lokasi bencana sekitar kurang lebih 1,5 km, dan terletak berdekatan dengan jalan umum.
  • Morfologi daerah calon relokasi berupa lereng bukit dengan kemiringan 10 - 200.
  • Batuan dasar penyusun daerah relokasi berupa tuf gunungapi.
  • Keairan daerah calon relokasi kedalaman muka air tanah relative dalam (> 8 m). Namun rencananya untuk kebutuhan air mengguanakan air dari mata air yang ada di daerah tersebut.
  • Dari hasil pengamatan lapangan di daerah tersebut tidak terdapat tanda-tanda terjadinya gerakan tanah baik gerakan tanah lama maupun baru. Karena kemiringan lereng agak terjal, maka hal yang perlu antisipasi adalah:
  • Berdasarkan hasil penyelidikan lapangan daerah ini CUKUP LAYAK jika dibandingkan tempat lain mengingat susahnya mencari tempat relokasi yang benar-benar ideal di daerah ini. Namun demikian peruntukan lokasi tersebut harap menyesuaikan dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Purbalingga.

 

8. Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan:

  • Area yang terdampak longsor agar tidak dibangun lagi karena potensi material longsoran yang belum turun masih banyak
  • Masyarakat senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan memantau aliran air sungai atau potensi pembendungan material longsor ke sungai
  • Jika hujan deras, masyarakat harap mengantisipasi potensi longsoran susulan
  • Meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan karena masih berpotensi terjadi longsoran susulan
  • Tidak beraktifitas di bawah material longsoran dan pada lereng yang retak-retak.
  • Berdasarkan hasil penyelidikan lapangan daerah ini CUKUP LAYAK jika dibandingkan tempat lain mengingat susahnya mencari tempat relokasi yang benar-benar ideal di daerah ini. Namun demikian peruntukan lokasi tersebut harap menyesuaikan dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Purbalingga.  Untuk mengurangi/menghindari terjadinya gerakan tanah dimasa yang akan dating maka direkomendasikan :
    • Tidak melakukan pemotongan lereng dengan sudut lereng lebih besar dari 150 dengan tinggi lereng lebih dari 1,5 meter.
    • Lahan dibagian atas rencana calon relokasi sebaiknya ditanami tanaman keras, seperti sengon, pinus maupun tanaman aren atau kolang kaling yang mampu menyerap banyak air.
    • Perlu dibuat saluran kedap untuk air permukaan dan air limbah rumah tangga dan dialirkan ke kaki lereng (agar tidak meresap dan menjenuhi tanah)
    • Tidak mencetak kolam dan sawah pada lahan relokasi
    • Pemotongan tinggi lereng kurang dari 1,5 meter dengan perbandingan tinggi vertikal : jarak horizontal adalah 1 : 2
    • Pemukiman Jangan terlalu dekat dengan sungai, untuk menghindari erosi pada kelokan sungai.
    • Pemukiman jangan terlalu dekat dengan tebing/lereng.

 

LAMPIRAN

 

Sirau 1 (130218)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah dan Lokasi Lahan Relokasi di Desa Sirau, Kec. Karang Moncol, Kab. Purbalingga

 

Sirau 2 (130218)

Gambar 2. Peta Geologi Regional di Desa Sirau dan sekitarnya, Kec. Karang Moncol, Kab. Purbalingga

 

Sirau 3 (130218)

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah

 

Sirau 4 (130218)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah di Dusun Pengungsen, Desa Sirau, Kec. Karangmoncol, Kab. Purbalingga

 

Sirau 5 (130218)

Gambar 5. Penampang Gerakan Tanah di Dusun Pengungsen, Desa Sirau, Kec. Karangmoncol, Kab. Purbalingga

 

Sirau 6 (130218)

Gambar 6. Peta Situasi Lahan Relokasi di Desa Sirau, Kec. Karangmoncol, Kab. Purbalingga

 

Sirau 7 (130218)

Gambar 7. Penampang Lahan Relokasi di Desa Sirau, Kec. Karangmoncol, Kab. Purbalingga

 

Sirau 8 (130218)

Gambar Retakan dan Amblesan yang mengenai pemukiman dan rumah longsor karena gerakan tanah

 

Sirau 9 (130218)

Gambar pergesaran dinding 20-30 cm pada pemukiman

 

Sirau 10 (130218)

Bagian atas lahan relokasi sebaiknya ditanami tanaman berakar keras

 

Sirau 11 (130218)

Lereng Bagian atas rencana tempat pemukiman sebaiknya tidak dijenuhi air agar tidak mudah longsor

 

Sirau 12 (130218)

Diskusi di tempat calon lahan relokasi antara Tim Badan Geologi, Kepala Desa Sirau, Tokoh Masyarakat dan Mahasiswa

 

Sirau 13 (130218)

Koordinasi Sebelum Peninjauan Lapangan antara Tim Badan Geologi dengan BPBD Kab. Purbalingga Kab. Jawa Tengah