Evaluasi Aktivitas G. Dukono, Kabupaten Halmahera Utara Hingga 23 Oktober 2016 Dalam Tingkat Aktivitas Level Ii (waspada)

Hasil evaluasi data pengamatan visual dan instrumental G. Dukono, Halmahera Utara periode 1 Januari – 23 Oktober  2016 sebagai berikut: 

I. Pendahuluan

  1. Gunungapi Dukono merupakan salah satu gunungapi aktif yang berada di Maluku Utara. Secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Propinsi Maluku Utara, sedangkan secara geografi puncaknya terletak pada 127º 52' BT dan 1º 42' LU dengan ketinggian 1087 m dpl.
  2. Di kompleks G. Dukono terdapat beberapa kawah di antaranya adalah Tanah Lapang, Dilekene, Malupang Magiwe, Telori, dan Heneowara yang kini sudah tidak aktif lagi, serta Kawah Malupang Warirang di puncak G. Karirang yang sejak letusan tahun 1933 sampai saat ini merupakan kawah paling aktif dan berperan sebagai pusat aktivitas vulkanik G. Dukono. Karakter letusannya bersifat magmatik eksplosif dan magmatik efusif.
  3. Kegiatan G. Dukono berupa letusan abu yang sudah berlangsung sejak tahun 2003. Letusan terjadi dari Kawah Malupang Warirang. Tingkat aktivitas G. Dukono adalah level II (Waspada) sejak 13 Juni 2008 pukul 19.00 WIT.
  4. Pemantauan secara visual aktivitas vulkanik G. Dukono dilakukan dari Pos PGA Dukono di Mamuya,  Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara.

 

II. Hasil Pengamatan

2.1 Visual 

Selama periode 1 Januari – 23 Oktober  2016   letusan masih menerus dengan tinggi kolom letusan teramati berwarna putih kelabu tebal setinggi lk. 100-1200 m dari bibir kawah. Suara gemuruh lemah-sedang terdengar hingga pos PGA Dukono yang terletak lk. 11 Km arah utara-timurlaut dari kawah.  Tinggi kolom letusan maksimal (1200 m) terjadi pada periode pertengahan hingga akhir Mei,  seiring peningkatan jumlah kejadian  Gempa Letusan. 

Grafik tinggi kolom letusan selengkapnya selama kurun waktu 1 Januari – 23 Oktober  2016 dapat dilihat pada lampiran 1. 

2.2 Instrumental

Kegempaan harian yang terekam selama periode 1 Januari – 23 Oktober 2016 adalah sebagai berikut: 

Januari 2016: terekam 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 119 kali Gempa Letusan, 6 kali Gempa Tektonik Lokal, 42 kali Gempa Tektonik Jauh dan 1 kali Gempa Terasa dengan skala I MMI pada tanggal 12 Januari 2016. Getaran Tremor terekam menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-21 mm.

Februari 2016: terekam 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 92 kali Gempa Letusan, 6 kali Gempa Tektonik Lokal dan 65 kali Gempa Tektonik Jauh. Getaran Tremor terekam menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-20 mm.

Maret 2016: terekam 78 kali Gempa Letusan, 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 2 kali Gempa Low Frequency (LF), 3 kali Gempa Tektonik Lokal dan 31 kali Gempa Tektonik Jauh. 1 kali Gempa Terasa dengan skala MMI II pada tanggal 7 Maret 2016. Getaran Tremor terekam menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-25 mm. 

April 2016: terekam 67 kali Gempa Letusan, 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 1 kali Gempa Low Frequency (LF), 1 kali Gempa Tektonik Lokal dan 34 kali Gempa Tektonik Jauh. 1 kali Gempa Terasa dengan skala MMI II pada tanggal 14 April  2016. Getaran Tremor terekam menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-18 mm. 

Mei 2016: terekam 365 kali Gempa Letusan, 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 1 kali Gempa Tektonik Lokal dan 21 kali Gempa Tektonik Jauh. Gempa Terasa terjadi 4 kali pada tanggal 14 dengan intensitas I-II MMI, dan 1 kali pada tanggal 22 dengan intensitas II MMI. Getaran Tremor terekam menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-22 mm. 

Juni 2016: terekam 23 kali Gempa Letusan, 10 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 7 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), dan 6 kali Gempa Tektonik Jauh. Gempa Terasa terjadi 1 kali pada tanggal 8 dengan intensitas II MMI. Getaran Tremor terekam menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-30 mm. 

Juli 2016: terekam 1 kali Gempa Letusan, 8 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 1 kali Gempa Tektonik Lokal dan 3 kali Gempa Tektonik Jauh. Getaran Tremor terekam menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-30 mm. 

Agustus 2016: terekam 2 kali Gempa Letusan, 23 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 1 kali Gempa Tektonik Jauh. Getaran Tremor terekam menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-28 mm. 

September 2016: terekam 2 kali Gempa Letusan, 7 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 3 kali Gempa Tektonik Jauh. Getaran Tremor terekam menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-26 mm. 

1-23 Oktober 2016: terekam 2 kali Gempa Letusan, 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 2 kali Gempa Tektonik Lokal dan 1 kali Gempa Tektonik Jauh. Gempa Terasa terjadi 1 kali pada tanggal 9 dengan intensitas II MMI. Getaran Tremor terekam menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-28 mm. 

Grafik jenis dan jumlah gempa harian selengkapnya selama kurun waktu 1 Januari – 23 Oktober  2016  dapat dilihat pada lampiran 1.

 

III. Evaluasi

  1. G. Dukono adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang mengalami letusan secara menerus sejak 13 Agustus 1933 hingga kini. Kejadian letusan menerus seperti ini bukanlah hal yang baru. Beberapa gunungapi di dunia mengalami hal yang serupa seperti di G. Pacaya dan G. Santa Maria di Guatemala, G. Arenal di Costa Rica, G. Sangay di Ekuador, G. Manam, G. Langila dan G. Bagana di Papua New Guinea maupun G. Ibu di Halmahera Barat, Indonesia.
  2. Secara visual tinggi dan kolom letusan berfluktuasi dan mengalami kenaikkan pada pertengahan hingga akhir Mei 2016. Selama periode ini hujan abu lebat umumnya terjadi di sekitar kawah/puncak G. Dukono. Hujan abu tipis terjadi di pemukiman yang terletak di utara, timurlaut dan baratdaya hingga radius 11 km dari kawah aktif,  bergantung pada arah dan kecepatan angin.
  3. Tingkat kegempaan G. Dukono secara umum masih tinggi, ditandai dengan masih terekamnya Gempa Letusan, Gempa Vulkanik dan Tremor menerus. Jumlah Gempa Letusan fluktuatif dan mengalami kenaikkan pada pertengahan Mei, dimana terjadi 365 kali Gempa Letusan diikuti oleh kenaikkan kolom letusan. Amplitudo maksimum Getaran Tremor mengalami peningkatan pada minggu pertama hingga akhir Mei 2016, kemudian menurun. Pada akhir periode terjadi kenaikkan amplitudo maksimum Getaran Tremor pada tanggal 10 hingga 23 Oktober 2016. Perlu diwaspadai adanya peningkatan kejadian Gempa Tektonik Lokal yang dapat mengganggu kondisi internal di dalam tubuh gunungapi.
  4. Peningkatan jumlah Gempa Vulkanik Dalam (VA) terjadi pada Agustus 2016 dan jenis gempa ini masih terekam hingga Oktober 2016 walaupun dengan jumlah yang tidak signifikan. Kejadian Gempa Vulkanik Dalam ini mengindikasikan adanya peretakkan batuan (brittle failure) akibat suplai atau tekanan dari magma yang terus berlangsung disertai dengan kenaikan fluida (gas, cair & padatan). Hal ini disertai dengan terekamnya getaran Tremor dan rangkaian gempa letusan yang berfluktuasi hingga akhir periode. 

 

IV. Potensi Bahaya 

  1. Sejak tahun 2003, letusan menerus terjadi dari Kawah Malupang Warirang. Produk letusan adalah jatuhan material vulkanik berukuran abu hingga pasir. Abu tersebar di sekitar kawah, dan jika intensitas letusan besar dan arah angin ke timur, abu vulkanik jatuh hingga di Kota Tobelo, Ibu Kota kabupaten Halmahera Utara yang berjarak lk. 15 km dari puncak/Kawah G. Dukono. 
  2. Potensi bahaya letusan G. Dukono berdasarkan Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Dukono (lampiran 2), dibagi ke dalam tiga tingkatan yaitu : 
    1. Kawasan Rawan Bencana-III (KRB-III), adalah kawasan sumber erupsi, daerah puncak dan sekitarnya yang sangat berpotensi terlanda oleh berbagai macam hasil erupsi dalam bentuk aliran piroklastika, aliran lava, gas vulkanik beracun, jatuhan piroklastik dan lontaran fragmen batuan (pijar). Kawasan ini berada pada radius sekitar 1,5 km dari pusat erupsi.
    2. Kawasan Rawan Bencana-II (KRB-II), adalah kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, lahar, lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat. Kawasan ini mencakup daerah dengan radius sekitar 5 km dari pusat erupsi.
    3. Kawasan Rawan Bencana-I (KRB-I), adalah kawasan yang berpotensi terlanda lahar/banjir dan kemungkinan dapat terkena perluasan lahar/awan panas serta jatuhan piroklastik. Kawasan ini  terletak di sepanjang daerah aliran sungai/di dekat lembah sungai atau di bagian hilir sungai yang berhulu di daerah puncak, sedangkan kawasan yang berpotensi terlanda  oleh jatuhan abu dan fragmen batuan  < 2 cm dalam radius 8 km dari pusat erupsi.
  3. Arah hujan abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh arah angin. Ancaman bahaya saat ini berupa hujan abu di desa-desa yang berada di sektor timur, barat dan utara dari puncak G. Dukono. Selain itu bahaya sekunder berupa aliran lahar terutama di sepanjang aliran Sungai Mamuya (sektor utara), Sungai Mede dan Tauni (sektor timurlaut) yang berhulu di puncak G. Dukono perlu diwaspadai.

 

V. Kesimpulan

  1. Berdasarkan pengamatan visual, instrumental dan evaluasi potensi bahaya letusan G. Dukono hingga tanggal 23 Oktober  2016, maka G. Dukono masih berada pada tingkat aktivitas Level II (WASPADA).
  2. Jika terjadi perubahan aktivitas vulkanik G. Dukono secara signifikan, maka tingkat aktivitasnya dapat dinaikkan/diturunkan dan disesuaikan dengan tingkat ancamannya.
  3. Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi kegiatan G. Dukono serta pemahaman terhadap aktivitas G. Dukono tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang informasi terkini aktivitas G. Dukono beserta potensi ancaman bahaya letusannya.

 

VI. Rekomendasi 

  1. Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki dan mendekati kawah yang ada di puncak  G. Dukono di dalam radius 2 km.
  2. Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah angin sehingga tidak dapat dipastikan arahnya, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.
  3. Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Mamuya, Mede dan Tauni agar mewaspadai ancaman aliran lahar, terutama pada musim penghujan.
  4. Masyarakat di sekitar G. Dukono diharap tenang, tidak terpancing isu-isu tentang letusan G. Dukono yang tidak jelas sumbernya, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dan senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah/Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi dan Kabupaten.
  5. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Maluku Utara dan Kabupaten Halmahera Utara tentang aktivitas G. Dukono.
  6. Pemerintah Daerah agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Dukono di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Propinsi Maluku Utara atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

 

 

LAMPIRAN

 

Lampiran 1:

Grafik tinggi kolom letusan dan jumlah gempa G. Dukono 1 Januari  – 23 Oktober 2016

Dukono 1 (271016)

Dukono 2 (271016)

 

LAMPIRAN 2:

PETA KAWASAN RAWAN BENCANA G. DUKONO

Dukono 3 (271016)