Peningkatan Tingkat Aktifitas Gunungapi Agung Dari Waspada Menjadi Siaga

Agung 2 (140917)

1. PENGAMATAN VISUAL

  • Pengamatan visual Gunungapi Agung dari periode Sabtu, 1 Juli 2017 hingga Senin, 31 Juli 2017 (31 hari) pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, dengan curah hujan maksimal 67.9 mm, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 19 - 31°C. Kelembaban 64 - 89%. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap nihil.
  • Pengamatan visual Gunungapi Agung dari periode Selasa, 1 Agustus 2017 hingga Kamis, 31 Agustus 2017 (31 hari) pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, dengan curah hujan maksimal 22.6 mm, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 19 - 31°C. Kelembaban 64 - 88%. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap nihil.
  • Pengamatan visual Gunungapi Agung dari periode Jumat, 1 September 2017 hingga Rabu, 13 September 2017 (13 hari) pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, dengan curah hujan maksimal 14.4 mm, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan utara. Suhu udara sekitar 20 - 31°C. Kelembaban 88%. Tekanan udara 84 mmHg. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap nihil.
  • Pasca kenaikan status ke Level II (Waspada), pengamatan visual Gunungapi Agung dari periode Kamis,14 September 2017 hingga Senin, 18 September 2017 (5 hari) pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, dengan curah hujan maksimal 16.6 mm, angin lemah hingga sedang ke arah barat dan utara. Suhu udara sekitar 20 - 31°C. Kelembaban 66 - 89%. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis dan terlihat percikan api pasca Gempa Terasa pada pukul 19:02 WITA.

 

2. PENGAMATAN INSTRUMENTAL

  • Pengamatan instrumental Gunungapi Agung dari periode 1 Juli 2017 hingga 31 Juli 2017, terekam 6 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 2 - 19 mm, S-P 1 - 3 detik dan lama gempa 22 - 47 detik. 4 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 3 - 9 mm, S-P 5 - 7 detik dan lama gempa 23 - 85 detik. 46 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 2 - 23 mm, S-P 13 - 85 detik dan lama gempa 40 - 235 detik. 
  • Pengamatan instrumental Gunungapi Agung dari periode 1 Agustus 2017 hingga 30 Agustus 2017, terekam 5 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 2 - 7 mm dan lama gempa 8 - 22 detik. 43 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 2 - 10 mm, S-P 1 - 4 detik dan lama gempa 14 - 38 detik. 15 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 3 - 22 mm, S-P 4.5 - 8 detik dan lama gempa 27 - 55 detik. 38 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 2 - 25 mm, S-P 15 - 151 detik dan lama gempa 14 - 260 detik.
  • Pengamatan instrumental Gunungapi Agung dari periode 1 September 2017 hingga  13 September 2017, terekam 19 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 2 - 7 mm dan lama gempa 4 - 30 detik. 54 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 2 - 10 mm, S-P 0.9 - 4 detik dan lama gempa 7 - 48 detik. 11 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 5 - 10 mm, S-P 4.5 - 9 detik dan lama gempa 24 - 60 detik. 13 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 2 - 24 mm, S-P 11 - 46 detik dan lama gempa 21 - 166 detik.
  • Pasca kenaikan status ke Level II (Waspada) pada 14 September 2017 hingga 18 September 2017 pukul 20:00 WITA, terekam 2 kali gempa Tremor Non-Harmonik dengan amplitudo 6 mm dan lama gempa 480 detik. 18 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 2 - 10 mm dan lama gempa 7 - 40 detik. 355 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 2 - 10 mm, S-P 0.9 - 2.5 detik dan lama gempa 5 - 38 detik. 9 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 6 - 8 mm, S-P 4.5 - 8 detik dan lama gempa 32 - 44 detik. 3 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 7 - 8 mm, S-P 12 - 16 detik dan lama gempa 47 - 71 detik.
  • Terkini, kejadian Gempa Terasa dengan magnitudo Md3.11 terekam pada pukul 19.02 WITA dengan skala MMI II-III di Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Agung di Desa Randang.

 

3. EVALUASI

  • Pasca kenaikan status ke Level II (Waspada), pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan adanya hembusan solfatara dari dasar kawah setinggi 50 meter dari bibir kawah dengan intensitas putih tipis dengan tekanan lemah.
  • Pasca kenaikan status ke Level II (Waspada), tingkat kegempaan G. Agung secara umum tampak masih menunjukkan peningkatan yang signifikan. Gempa Vulkanik Dalam (VA) yang mengindikasikan proses peretakan batuan di dalam tubuh gunungapi yang diakibatkan oleh tekanan fluida magmatik dari kedalaman mulai terekam meningkat jumlahnya secara konsisten sejak 10 Agustus 2017dan terus meningkat jumlahnya pasca kenaikan status ke Level II (Waspada) dengan amplituda kegempaan vulkanik berkisar 3-10 mm.Gempa Vulkanik Dangkal (VB) juga mulai terekam meningkat jumlahnya secara konsisten sejak 24 Agustus 2017 dengan amplituda kegempaan vulkanik berkisar antara 2-10mm.
  • Aktivitas Gempa Tektonik Lokal yang mengindikasikan perubahan stress batuan di sekitar G. Agung juga terekam dan mulai meningkat secara konsisten sejak 26 Agustus 2017 dengan amplituda berkisar 6 mm sampai 22 mm. Gempa Terasa frekuensinya semakin tinggi. Dari tanggal 14 September hingga 18 September 2017 pukul 20:00 WITA, telah terjadi 4 kali Gempa Terasa yang berpusat di sekitar G. Agung. Terakhir, Gempa Terasa di sekitar G. Agung pada pukul 19:02 WITA dengan magnitudo Md 3.11 dan skala MMI II-III di Pos PGA Agung di Rendang.
  • Citra termal yang terekam oleh sensor MODIS di satelit Terra dan Aqua (NASA) pada periode 1 Januari- 17 September 2017 belum menunjukkan adanya titik api di G. Agung, begitu juga dengan citra anomali konsentrasi SO2 di udara di sekitar G. Agung.
  • Citra Himawari pada 18 September 2017 pada pukul 16.00 WITA hingga 17.20 WITA merekam kontras anomali termal berupa asap putih (uap air) di area puncak G. Agung.
  • Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental, aktivitas G. Agung teramati semakin meningkat dari pada kondisi Level II (Waspada) dengan terekamnya kegempaan-kegempaan vulkanik yang mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik G. Agung saat ini dalam keadaan tidak stabil sehingga probabilitas untuk terjadi letusan menjadi semakin meningkat.

 

4. POTENSI BENCANA

  • Sejarah aktivitas erupsi G. Agung dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan di G. Agung yang terletak di dalam Kawah G. Agung.
  • Dalam sejarah aktivitasnya, erupsi G. Agung mengindikasikan potensi ancaman bahaya berupa jatuhan piroklastik, aliran piroklastik, dan aliran lava. Daerah yang berpotensi terancam jatuhan piroklastik dapat tersebar di sekeliling G. Agung tergantung pada arah angin. 
  • Dengan kondisi aktivitas seperti saat ini maka jika terjadi letusan, potensi bahayanya diperkirakan utamanya berada di area tubuh G. Agung yang berada di lereng Utara, Tenggara, dan Selatan G. Agung.
  • Ancaman bahaya secara langsung berada di daerah utara G. Agung terutama di daerah aliran sungai Tukad Tulamben, Tukad Daya, Tukad Celagi yang berhulu di area bukaan kawah, Sungai Tukad Bumbung di Tenggara, Pati, Tukad Panglan, dan Tukad Jabah di Selatan G. Agung berpotensi terhadap bahaya aliran piroklastik dan lahar. Jika erupsi efusif berupa aliran lava G. Agung. 

 

5. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka terhitung mulai tanggal 18 September 2017 pukul 21.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga).

 

6. REKOMENDASI

  1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, tidak melakukan pendakian dan tidak berkemah di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah puncak G. Agung atau pada elevasi di atas 950 m dari permukaan laut dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 7.5 km.
  2. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan, tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Agung yang tidak jelas sumbernya.
  3. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi terus berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Agung.
  4. Masyarakat maupun BNPB, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Karangasem, dan instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan tingkat aktivitas maupun  rekomendasi G. Agung setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.vsi.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play.

 

Untuk mengunduh file laporan diatas, dapat diunduh disini