Laporan Kebencanaan Geologi 22 September 2017 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Jumat, 22 September 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung:
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis, tinggi 50-100 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, tercatat 2 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu setinggi 1500 m. Terekam 29 kali guguran lava dan teramati meluncur ke arah Timur dan Tenggara dengan jangkauan 1300-1500 m dari puncak.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi: 

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 September 2017 Pukul 05:19 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m di atas puncak, condong ke arah Timur.

G. Agung:
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami peningkatan kegempaan signifikan pasca dinaikkan Status Aktivitasnya menjadi Level II (Waspada) pada 14 September 2017. Sehingga, terhitung mulai tanggal 18 September 2017 pukul 21.00 WITA, Status Aktivitas G. Agung dinaikkan kembali menjadi Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah tidak teramati. Melalui rekaman seismograf, pada tanggal 19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal. Pada 20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Pada 21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada hari ini tanggal 22 September 2017 pukul 00.00-06.00 WITA terekam 142 kali Gempa Vulkanik Dalam dan 36 kali Gempa Vulkanik Dangkal.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, tidak melakukan pendakian dan tidak berkemah di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah puncak G. Agung atau pada elevasi di atas 950 m dari permukaan laut dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 7.5 km.
VONA: Terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 19 September 2017 Pukul 10:24 WIB, terkait dengan meningkatnya aktivitas kegempaan vulkanik yang sangat signifikan. Material abu letusan belum teramati.

G. Dieng:
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Dieng (2565 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis-tebal dengan tekanan lemah setinggi 10-60 m di atas puncak. Angin bertiup lemah-kencang ke arah Selatan. Melalui rekaman seismograf, tercatat 5 kali Gempa Hembusan, 1 kali Gempa Vulkanik Dalam dan Tremor Menerus terekam dengan amplitudo 0.1-0.2 mm (dominan 0.1 mm).
Hasil monitoring suhu:Suhu Kawah SileriMin 93.4°C, Max 93.7°C, rata-rata 93.5°C.Suhu Tanah Kawah SileriMin 69.6°C, Max 70.1°C, rata-rata 69.9°C.Suhu Kawah TimbangMin 62.5°C, Max 63.8°C, rata-rata 63.0°C.Suhu Tanah Kawah TimbangMin 16.7°C, Max 17.3°C, rata-rata 17.0°C.
Rekomendasi: 

  • Sehubungan dengan adanya peningkatan aktifitas vulkanik di kawah Sileri, maka masyarakat dan wisatawan tidak mendekati kawah Sileri dalam dalam jarak 1000 meter dari bibir kawah.
  • Masyarakat yang berada di dalam radius 1 km dari bibir kawah Sileri, yaitu yang bermukim di Desa Kepakisan dan dusun sekalam( Kecamatan Batur ) agar diungsikan sementara ke tempat yang aman.
  • Masyarakat tidak melakukan aktifitas di Kawah Timbang, adanya ancaman bahaya gas CO2 dan H2S yang berbahaya bagi kehidupan.
  • Masyarakat agar Waspada jika melakukan penggalian tanah di sekitar Kawah Timbang dengan kedalaman lebih dari 1 ( satu ) meter karena dari tempat tersebut masih berpotensi terancam bahaya gas CO2 dan H2S.

VONA: Belum ada VONA yang dikirim karena manifestasi abu di permukaan belum teramati.

G. Dukono:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 65 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan lemah-sedang dengan ketinggian 400-800 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Timur.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 20 September 2017 pukul 07:20 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Selatan.

G. Ibu:
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 87 kali erupsi/letusan, 76 kali hembusan dan 3 kali guguran lava. Visual aktivitas puncak tidak teramati karena kabut. 6 hari lalu, saat jelas, teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tipis-sedang tekanan lemah-sedang dengan ketinggian 200-500 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Utara-Timurlaut. 
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di dekat kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2017 yang dibandingkan bulan Agustus 2017,  menunjukan Wilayah  Sumatera dan Kalimantan cenderung mengalami peningkatan. Sedangkan  Wilayah Indonesia bagian Timur seperti Sulawesi dan Maluku cenderung potensi terjadinya gerakan tanah relatif menurun. Potensi Kejadian gerakan tanah diperkirakan akan masih terus mengancam terutama di wilayah Jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:

  1. Jakarta Selatan, DKI Jakarta
  2. Kabupaten Palupuh,  Provinsi Bengkulu
  3. Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat
  4. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan  karena  kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air , rumah dibangun di dekat tebing serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah
Dampak : 

  1. Gerakan tanah / tanah longsor yang terjadi  di Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. mengakibatkan enam rumah di pinggir Kali Bintaro Utara ambruk.
  2. Gerakan tanah / tanah longsor yang terjadi  di Kabupaten Palupuh, Provinsi Bengkulu pada  Rabu Sore tanggal 19 September 2107 mengakibatkan kebun dan sawah  warga tertimbun
  3. Gerakan tanah / tanah longsor yang terjadi  di Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat longsor dan akibat material longsor menutupi hampir seluruh badan jalan menyebabkan  akses jalan tertutup
  4. Gerakan tanah / tanah longsor yang terjadi  di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat mengakibatkan jalur lalu lintas di kawasan tersebut menjadi terganggu. 
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui http://vsi.esdm.go.id/gallery/index.php?/category/12


3. Gempa Bumi
Gempa bumi di perairan utara Jawa Timur
Informasi Gempa bumi; Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 21 Septeber 2017, pukul 06:59 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 112,96° BT dan 6,31° LS, dengan magnitudo 5,2 SR pada kedalaman 610 km, berjarak 81 km timurlaut Bangkalan, Jawa Timur. GFZJerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 112,95° BT dan 6,19° LS dengan magnitudo M 5,3 dan kedalaman 597 km.
Penyebab gempa bumi; Diperkirakan berasosiasi dengan aktifitas zona beniof yang terbentuk dari proses penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. 
Dampak gempa bumi; Berdasarkan BMKG, gempa bumi ini dirasakan di Denpasar Bali dengan intensitas III MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan.
Rekomendasi;

  1.  Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
  2. Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.==

Gempa bumi di baratdaya Kab. Simeulue, Aceh
Informasi Gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 21 September 2017, pukul 09:09:31 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 92,24° BT dan 0,34° LU, dengan magnitudo 5,2 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 492 km baratdaya Kab. Simeulue, Aceh. Berdasarkan Geo Forschungs Zentrum (GFZ), Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 92,49° BT dan 0,59° LU, dengan magnitudo M 4,8 pada kedalaman 10 km.
Penyebab gempa bumi; Gempa bumi terjadi pada kedalaman dangkal dan berpusat di lempeng samudra Indo-Australia dan berasosiasi dengan sesar aktif di lokasi tersebut. 
Dampak gempa bumi; Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi; 

  1. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
  2. Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  • 1 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung, Sumut); 
  • Sebanyak 1 gunung api Status Siaga/Level 3 (Agung, Bali)
  • Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Dieng, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, dan Banda Api); 
  • Sisanya 49 gunung api: Status Normal/Level 1.

Gunungapi Sinabung.
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis, tinggi 50-100 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, tercatat 2 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu setinggi 1500 m. Terekam 29 kali guguran lava dan teramati meluncur ke arah Timur dan Tenggara dengan jangkauan 1300-1500 m dari puncak.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 17 September 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,639 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung.
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Tingkat kegempaan G. Agung terus mengalami peningkatan yang semakin signifikan. Saat dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) pada 14 September 2017 pukul 14:00 WITA, jumlah kegempaan per hari terekam 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Namun setelah itu, kegempaan vulkanik meningkat sangat tajam, pada 17 September 2017 dari pukul 00.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA terekam 222 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Gempa Terasa frekuensinya semakin tinggi. Dari tanggal 14 September hingga 18 September 2017 pukul 20:00 WITA, telah terjadi setidaknya 4 kali Gempa Terasa yang berpusat di sekitar G. Agung. Terakhir, Gempa Terasa di sekitar G. Agung pada 18 September 2017 pukul 19:02 WITA dengan magnitudo Md 3.11 dan skala MMI II-III di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang. Oleh karena itu, berkaitan dengan meningkatnya jumlah kegempaan vulkanik secara signifikan dan semakin tingginya frekuensi gempa terasa ini maka status aktivitas G. Agung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 18 September 2017 pukul 21:00 WITA. Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas. Asap kawah tidak teramati. Melalui rekaman seismograf, pada tanggal 19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal. Pada 20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 16 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). Pada 21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL). 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dieng
Gunungapi Dieng di Jawa Tengah memiliki sekitar 20 kawah aktif yang tersebar di dataran tinggi Dieng dalam wilayah seluas sekirar 5x12 km2 yang memanjang arah barat timur. Diantara kawah-kawah aktif hanya dua kawah aktif yang berpotensi menimbulkan bencana karena sering mengakibatkan korban jiwa, yaitu Kawah Sileri (semburan uap dan lumpur panas serta gas beracun) Kawah Timbang (hembusan gas beracun). Kawah Sileri terletak di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah. Kawah Sileri merupakan salah satu objek wisata di Dataran Dieng, memiliki bentuk unik berupa kepundan datar, sehingga permukaan air kawah yang selalu mendidih terus mengalir ke permukaan yang lebih rendah. Luas permukaan kawah lonjong memanjang barat timur seluas 150x90 m2. Kawah ini cukup tinggi aktivitasnya, sempat beberapa kali meletus dalam sejarah sehingga menjadi kawah yang sangat berbahaya untuk dikunjungi di Dieng. Ancaman bahaya Kawah Sileri dalam daerah berjarak 100 m dari tepi kawah. Sebelum erupsi 2 Juli 2017 dalam Tahun 2017 Kawah Sileri sudah didahului sebanyak dua kali erupsi  letusan freatik, yaitu:-30 April: tinggi lontaran lumpur 10 m, jangkauan lontaran dari tepi kawah kawah 10 m.-24 Mei 2017 tinggi lontaran lumpur 20 m, jangkauan lumpur 50 m dari pusat kawah dan jatuhnya masih di dalam kawah.
Pasca erupsi freatik 2 Juli 2017 kegiatan Kawah Sileri mulai meningkat lagi secara signifikan sejak tanggal 13 September 2017. Saat ini teramati asap putih tipis mengepul mencapai ketinggian 10-80 m. Angin bertiup lemah ke arah Utara. Pengamatan visual Gunungapi Dieng dari periode Bulan Juni 2017 hingga 14 September 2017 pukul 22.30 WIB, terekam 24 kali gempa Tektonik Jauh, 173 kali gempa Tektonik Lokal (2 x terasa MMI IV; 1 x terasa MMI II), 51 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 10 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 12 kali gempa Tornillo, 485 kali gempa Hembusan, 1 kali gempa Letusan, dan gempa Tremor Menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis-tebal dengan tekanan lemah setinggi 10-60 m di atas puncak. Angin bertiup lemah-kencang ke arah Selatan. Melalui rekaman seismograf, tercatat 5 kali Gempa Hembusan, 1 kali Gempa Vulkanik Dalam dan Tremor Menerus terekam dengan amplitudo 0.1-0.2 mm (dominan 0.1 mm).
Hasil monitoring suhu:Suhu Kawah SileriMin 93.4°C, Max 93.7°C, rata-rata 93.5°C.Suhu Tanah Kawah SileriMin 69.6°C, Max 70.1°C, rata-rata 69.9°C.Suhu Kawah TimbangMin 62.5°C, Max 63.8°C, rata-rata 63.0°C.Suhu Tanah Kawah TimbangMin 16.7°C, Max 17.3°C, rata-rata 17.0°C.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dieng terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Banjarnegara, Wonosobo maupun Batang tentang penanggulangan bencana erupsi Dieng.

Gunungapi Dukono.
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 65 kali erupsi/letusan dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-20 mm (dominan 2 mm) dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 400-800 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Barat. Terdengar bunyi gemuruh lemah dan sekali dentuman sedang di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu.
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 87 kali erupsi/letusan, 76 kali hembusan dan 3 kali guguran lava. Visual aktivitas puncak tidak teramati karena kabut. 6 hari lalu, saat jelas, teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tipis-sedang tekanan lemah-sedang dengan ketinggian 200-500 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Utara-Timurlaut.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,- BMKG, - Air Nav, - Air Traffic Control, Airlines,- VAAC Darwin, - VAAC Tokyo, - dll
VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, tanggal 201September 2017 Pukul 05:19 WIB terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m di atas puncak, kolom abu bergerak ke arah Timur.
  2. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, 19 September 2017 Pukul 10:24 WIB terkait dengan meningkatnya aktivitas kegempaan vulkanik yang sangat signifikan. Material abu letusan belum teramati.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 20 September 2017 pukul 07:20 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1829 m di atas permukaan laut atau 600 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Selatan.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Pada bulan September  2017, potensi terjadinya gerakan tanah  diperkirakan masih tetap berpeluang di seluruh di wilayah Indonesia dari  Pulau Sumatra hingga Papua. Dibandingkan bulan Agustus 2017, wilayah Sulawesi dan Maluku cenderung menurun potensinya sedangkan wilayah  Indonesia Bagian Barat seperti Sumatera dan Kalimantan potensinya relatif meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  seperti, Aceh bagian barat dan tengah; Sumatra Utara bagian barat dan tengah; Sumatra Barat bagian utara, tengah dan barat, Bengkulu bagian utara, tengah dan selatan; Jambi bagian barat daya; Sumatra Selatan bagian barat; Sebagian Lampung barat;  Banten barat-barat daya, selatan dan tenggara; Jawa Barat bagian tengah dan selatan; Jawa Tengah bagian utara, tengah, tenggara; Yogyakarta bagian utara; Jawa Timur bagian selatan dan tengah; Bali bagian tengah; Kalimantan  Tengah dari Kalimantan Selatan; bagian tenggara dari Kalimantan Utara; Sulawesi Utara bagian tengah; Sebagian utara Gorontalo; Sulawesi Barat bagian tenggara dan tengah; Sulawesi Selatan bagian selatan, utara dan timur; Nusa Tenggara Barat bagian tengah dan timur; Nusa Tenggara Timur, baratdaya dan tenggara; Maluku; Maluku Utara; Papua Barat bagian utara, tengah dan selatan; Papua bagian utara dan tengah.
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

  1.  Jakarta Selatan, DKI Jakarta,
  2. Kabupaten Palupuh,  Provinsi Bengkulu,
  3. Kabupaten Padang Pariaman,. Provinsi Sumatera Barat,
  4. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat,
  5. Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara,
  6. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.,
  7. Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Provinsi Sulawesi Utara,
  8. Kabupaten Bengkayang , Provinsi Kalimantan Barat,
  9. Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat.  


Kejadian Gerakan Tanah   terbaru: 
1. Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Gerakan Tanah / Tanah Longsor  terjadi setelah hujan deras semalaman pada Rabu (20/9/2017) dini hari. di pinggir kali Bintaro Utara, Jalan Bintaro Utara RT 11 RW 11, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Sebanyak enam rumah di pinggir Kali Bintaro Utara ambruk.
Sumber   
http://wartakota.tribunnews.com/2017/09/20/longsor-6-rumah-ambruk-saat-hujan-deras-di-bintaro
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat rumah dibangun terlalu dekat  tebing  kali   dan dipicuh oleh hujan lebat
Rekomendasi:

  • Masyarakat yang tinggal dan beraktifitas di sekitar lokasi bencana harus selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat maupun setelah terjadinya hujan deras dengan durasi yang lama.
  • Masyarakat agar menghindari bertempat tinggal berdekatan dengan tebing.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor 
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.


2. Kabupaten Palupuh,  Provinsi Bengkulu
Hujan deras yang terjadi sejak selasa malam menyebabkan terjadinya Gerakan tanah / tanah longsor yang menimpah warga jorong  Paninggiran Ateh, Nagari Nan  Tujuah, Kabupaten Palupuh, Provinsi Bengkulu pada  Rabu Sore tanggal 19 September 2107. Kejadian tersebut mengakibatkan kebun dan sawah  warga tertimbun. http://kaba12.co.id/2017/09/20/longsor-di-palupuah-sawah-kebun-warga-tertimbun/
Penyebab kejadian tersebut diperkirakan akibat hujan deras yang terjadi semalaman mengakibatkan saluran air tidak mampu menampung air yang ada.
Rekomendasi :

  • Masyarakat yang tinggal dan beraktifitas di sekitar lokasi bencana harus selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat maupun setelah terjadinya hujan deras dengan durasi yang lama.
  • Masyarakat agar segera memperbaiki drainase air
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.


3. Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat
Jalan yang menghubungkan Kecamatan Sungai Limau dengan Kecamatan Sungai Geringging, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat longsor akibat hujan lebat yang mengguyur daerah itu sejak Rabu pagi. Menurut warga Sungai Limau, Darmadi (45), Rabu ( 19 /9/17), longsor tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB .Material longsor menutupi hampir seluruh badan jalan sehingga menutup akses jalan antara kedua kecamatan.
http://www.antarasumbar.com/berita/212642/jalan-sungai-limau-sungai-geringging-longsor-lalu-lintas-terganggu.html
Penyebab diperkirakan akibat tebing jalan yang terjal , tanah  pelapukan yang lapuk dan bersifat poros serta dipicu oelah curah  hujan yang tinggi
Rekomendasi: 

  • Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut agak tidak masuk ke dalam lokasi longsoran.
  • Segera membersihkan material longsor yang menutup jalan agar lalu lintas pulih kembali, dengan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman longsor susulan.
  • Masyarakat pengguna jalan agar selalu waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng.