Laporan Kebencanaan Geologi 2 Oktober 2017 (06:00 Wib)

 

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Senin, 02 Oktober 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah putih tipis teramati dengan tinggi 50-800 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, tercatat 4 kali erupsi/letusan, teramati kolom abu putih keabuan tebal mencapai ketinggian 1500-2000 m di atas puncak condong ke timur dan barat. Erupsi tidak diikuti oleh awan panas guguran. Terekam 85 kali guguran lava dan secara visual teramati meluncur sejauh 500-1500 m ke arah selatan-tenggara, tenggara, dan timur.

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 September 2017 Pukul 05:16 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 5260 m di atas permukaan laut atau 2800 m di atas puncak, condong ke arah Barat.

G. Agung (Bali):

Adanya peningkatan aktivitas vulkanik dari kegempaan yang terus meningkat maka status Gunung Agung (3142 m dpl) di Kabupaten Karangasem Provinsi Bali dinaikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) terhitung mulai tanggal 22 September 2017 pukul 20:30 WITA. Peningkatan kegempaan masih terjadi signifikan pasca dinaikkan Status Aktivitasnya menjadi Level IV (Awas) . Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tipis dengan tinggi 50-100 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf tercatat:

  • 19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal.
  • 20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB).
  • 21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 22 September 2017 terekam 119 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 586 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 119 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 23 September 2017 terekam 172 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 490 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 24 September 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 570 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 67 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 25 September 2017, terekam 340 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 504 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 26 September 2017 terekam 373 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 579 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 50 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 27 September 2017 terekam 314 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 564 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 64 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 28 September 2017 terekam 214 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 444 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 23 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 29 September 2017 terekam 198 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 565 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 26 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 30 September 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 542 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 01 Oktobet 2017 terekam 306 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 587 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 32 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan terasa 1 kali.
  • 02 Oktobet 2017 (Pukul 00:00-06:00 WITA), terekam 94 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 128 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 5 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung di dalam radius 9 km dari kawah puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 12 km.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 September 2017 Pukul 08:46 WITA, terkait asap putih tipis menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 3242 mdpl atau 100 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dieng (Jawa Tengah):

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Dieng (2565 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis-tebal dengan tekanan lemah setinggi 10-60 m di atas puncak. Angin bertiup lemah-kencang ke arah Utara dan Timurlaut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 4 kali Gempa Hembusan.

Hasil monitoring suhu:

Suhu Kawah Sileri ; Min 92.8°C, Max 93.5°C, rata-rata 92.9°C.

Suhu Tanah Kawah Sileri ; Min 49.8°C, Max 52.1°C, rata-rata 51.7°C.

Suhu Kawah Timbang ; Min 54.2°C, Max 55.7°C, rata-rata 55.5°C.

Suhu Tanah Kawah Timbang ; Min 17.9°C, Max 18.2°C, rata-rata 17.9°C.

Rekomendasi:

  • Sehubungan dengan adanya peningkatan aktifitas vulkanik di kawah Sileri, maka masyarakat dan wisatawan tidak mendekati kawah Sileri dalam dalam jarak 1000 meter dari bibir kawah.
  • Masyarakat yang berada di dalam radius 1 km dari bibir kawah Sileri, yaitu yang bermukim di Desa Kepakisan dan dusun sekalam( Kecamatan Batur ) agar diungsikan sementara ke tempat yang aman.
  • Masyarakat tidak melakukan aktifitas di Kawah Timbang, adanya ancaman bahaya gas CO2 dan H2S yang berbahaya bagi kehidupan.
  • Masyarakat agar Waspada jika melakukan penggalian tanah di sekitar Kawah Timbang dengan kedalaman lebih dari 1 ( satu ) meter karena dari tempat tersebut masih berpotensi terancam bahaya gas CO2 dan H2S.

VONA:

Belum ada VONA yang dikirim karena manifestasi abu di permukaan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 76 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan lemah-sedang dengan ketinggian 600-800 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah barat.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 September 2017 pukul 07:58 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Baratdaya.

G Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut.Tinggi asap putih kelabu 300-600 m condong ke arah utara dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 30 September 2017 tercatat:

  • 89 kali erupsi/letusan,
  • 84 kali hembusan,
  • 2 kali guguran lava.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Oktober  2017 yang dibandingkan bulan  September 2017, menunjukan hampir seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:

  1. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat,
  2. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,
  3. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat,
  4. Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta,
  5. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat,
  6. Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Penyebab:

Penyebab gerakan tanah /  tanah longsor diperkirakan  akibat kemeringan lereng yang terjal, pemotongan tebing jalan yang tidak mengikuti kaidah teknik pemotongan yang benar,  kondisi tanah yang labil,  sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air dan curah hujan yang tinggi  dengan durasi yang cukup lama, drainase air yang tidak berfungsi .

Dampak :

  1. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi di sejumlah titik di Kabupaten Garut. menyebabkan terputusnya badan jalan ambruknya jembatan serta terdapat masjid jami, ambrol diterjang material tanah longsor.
  2. Bencana Gerakan tanah dan Banjir menerjang belasan Kecamatan di Kabupaten Sukabumi.  Dampaknya terdapat bangunan ambruk yakni sekolah ambruk , sebanyak empat   unit rumah warga mengalami kerusakan
  3. Bencana gerakan tanah / tanah longsor  terjadi di Kabupaten Tasikmalaya , dampaknya 3 rumah tertimbun material longsor yang menewaskan 2 orang yakni Waslim (50) dan Nani Sumarni (45), serta 4 rumah lainnya terancam longsor susulan. serta pengguna jalan Tasik-Bandung terhambat.
  4. Bencana  gerakan tanah / tanah longsor di Jakarta Selatan mengakibatkan  6 unit rumah warga mengalami kerusakan dan tidak dapat diperbaiki lagi yang berada di sepanjang kali Ciliwung.
  5. Bencana gerakan tanah / tanah longsor  terjadi di empat kecamatan di Cianjur selatan, Jawa Barat. Dampaknya material longsor menimbun pemukiman, sehingga menyebabkan puluhan rumah rusak, sedangkan di Takokak masih pergerakan yang menyebar di Desa Waringinsari.
  6. Bencana gerakan tanah / tanah longsor  terjadi di Kabupaten Musi Banyuasin. mengakibatkan jembatan tidak bisa dilintasi oleh kendaraan roda empat .

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. 

Masyarakat dapat mengunduh melalui http://vsi.esdm.go.id/gallery/index.php?/category/12

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Timurlaut Pulau Morotai, Maluku Utara

Informasi Gempa Bumi;

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 1 Oktober 2017, pukul 06:15:35 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 3.80°LU dan 128.57° BT dengan magnitudo 5,3 SR pada kedalaman 42 km berjarak 160 km Timurlaut Pulau Morotai, Maluku Utara.

Dampak Gempabumi;

Belum ada laporan mengenai kerusakan dan korban jiwa. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

Penyebab Gempa Bumi;

Diperkirakan akibat aktivitas subduksi Lempeng Pasifik di sebelah utara wilayah Halmahera..

Rekomendasi;

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.

 

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

  1. 2 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut, G. Agung*, Bali);
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Dieng*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api);
  3. Sisanya 49 gunung api: Status Normal/Level 1.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis, tinggi 50-800 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf, tercatat 4 kali erupsi/letusan, teramati kolom abu putih keabuan tebal mencapai ketinggian 1500-2000 m di atas puncak, condong ke  timur.  Erupsi tidak diikuti oleh awan panas guguran. Terekam 69 kali guguran lava dan teramati meluncur sejauh 500-1500 m ke arah selatan-tenggara, tenggara, dan timur.

Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 17 September 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,639 juta m3.

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Setelah peningkatan Tingkat aktivitas  G. Agung dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada 22 September 2017 Pukul 20:30 WITA, tingkat kegempaan G. Agung masih terus signifikan. Saat dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) pada 14 September 2017 pukul 14:00 WITA, jumlah kegempaan per hari terekam 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Namun setelah itu, kegempaan vulkanik meningkat sangat tajam, pada 17 September 2017 dari pukul 00.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA terekam 222 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Gempa Terasa frekuensinya semakin tinggi. Dari tanggal 14 September hingga 18 September 2017 pukul 20:00 WITA, telah terjadi setidaknya 4 kali Gempa Terasa yang berpusat di sekitar G. Agung. Terakhir, Gempa Terasa di sekitar G. Agung pada 18 September 2017 pukul 19:02 WITA dengan magnitudo Md 3.11 dan skala MMI II-III di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang. Oleh karena itu, berkaitan dengan meningkatnya jumlah kegempaan vulkanik secara signifikan dan semakin tingginya frekuensi gempa terasa ini maka status aktivitas G. Agung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 18 September 2017 pukul 21:00 WITA. Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas. Asap dari kawah teramati putih tipis dengan tinggi 50-100 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf tercatat:

  • 19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal.
  • 20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 16 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 22 September 2017 terekam 119 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 586 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 119 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 23 September 2017 terekam 172 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 490 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 24 September 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 570 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 67 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 25 September 2017 terekam 340 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 504 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 26 September 2017 terekam 373 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 579 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan 50 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), salah satunya skala MMI II-III.
  • 27 September 2017 terekam 314 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 564 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 64 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 28 September 2017 terekam 214 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 444 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 23 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 29 September 2017 terekam 198 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 565 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 26 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 30 September 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 542 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 01 Oktobet 2017 terekam 306 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 587 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 32 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali terasa.
  • 02 Oktobet 2017 (Pukul 00:00-06:00 WITA), terekam 94 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 128 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 5 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dieng (Jawa Tengah)

Gunungapi Dieng di Jawa Tengah memiliki sekitar 20 kawah aktif yang tersebar di dataran tinggi Dieng dalam wilayah seluas sekirar 5x12 km2 yang memanjang arah barat timur. Diantara kawah-kawah aktif hanya dua kawah aktif yang berpotensi menimbulkan bencana karena sering mengakibatkan korban jiwa, yaitu Kawah Sileri (semburan uap dan lumpur panas serta gas beracun) Kawah Timbang (hembusan gas beracun). Kawah Sileri terletak di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah. Kawah Sileri merupakan salah satu objek wisata di Dataran Dieng, memiliki bentuk unik berupa kepundan datar, sehingga permukaan air kawah yang selalu mendidih terus mengalir ke permukaan yang lebih rendah. Luas permukaan kawah lonjong memanjang barat timur seluas 150x90 m2. Kawah ini cukup tinggi aktivitasnya, sempat beberapa kali meletus dalam sejarah sehingga menjadi kawah yang sangat berbahaya untuk dikunjungi di Dieng. Ancaman bahaya Kawah Sileri dalam daerah berjarak 100 m dari tepi kawah. Sebelum erupsi 2 Juli 2017 dalam Tahun 2017 Kawah Sileri sudah didahului sebanyak dua kali erupsi  letusan freatik, yaitu:

-30 April: tinggi lontaran lumpur 10 m, jangkauan lontaran dari tepi kawah kawah 10 m.

-24 Mei 2017 tinggi lontaran lumpur 20 m, jangkauan lumpur 50 m dari pusat kawah dan jatuhnya masih di dalam kawah.

Pasca erupsi freatik 2 Juli 2017 kegiatan Kawah Sileri mulai meningkat lagi secara signifikan sejak tanggal 13 September 2017.

Pengamatan visual Gunungapi Dieng dari periode Bulan Juni 2017 hingga 14 September 2017 pukul 22.30 WIB, terekam 24 kali gempa Tektonik Jauh, 173 kali gempa Tektonik Lokal (2 x terasa MMI IV; 1 x terasa MMI II), 51 kali gempa Vulkanik Dalam (VA), 10 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB), 12 kali gempa Tornillo, 485 kali gempa Hembusan, 1 kali gempa Letusan, dan gempa Tremor Menerus.

Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis dengan tekanan lemah setinggi 10-60 m di atas kawah. Angin bertiup lemah-kencang ke arah Utara, Timur dan Timurlaut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 3 kali Gempa Hembusan.

Hasil monitoring suhu:

Suhu Kawah Sileri ; Min 92.8°C, Max 93.2°C, rata-rata 92.9°C.

Suhu Tanah Kawah Sileri ; Min 49.8°C, Max 52.1°C, rata-rata 51.7°C.

Suhu Kawah Timbang ; Min 54.2°C, Max 55.7°C, rata-rata 55.5°C.

Suhu Tanah Kawah Timbang ; Min 17.9°C, Max 18.2°C, rata-rata 17.9°C.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dieng terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Banjarnegara, Wonosobo maupun Batang tentang penanggulangan bencana erupsi Dieng.

Gunungapi Dukono (Hakmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 76 kali erupsi/letusan dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-22 mm (dominan 2 mm) dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 600-800 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Barat. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas sanpai tertutup kabut. Tinggi asap putih kelabu 300-600 m condong ke selatan dan utara. Melalui rekaman seismograf pada 29 September 2017 tercatat:

  • 89 kali erupsi/letusan,
  • 84 kali hembusan,
  • 2 kali guguran lava dan secara visual aktivitas puncak tidak teramati karena tertutup kabut.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, tanggal 29 September 2017 Pukul 05:16 WIB terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 5260 m di atas permukaan laut atau 2800 m di atas puncak, kolom abu bergerak ke arah Barat

(2) G. Agung, Bali.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, 29 September 2017 Pukul 08:46 WITA terkait dengan asap putih tipis menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 3242 mdpl atau 100 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

(3) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 September 2017 pukul 07:58 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah Baratdaya

(4) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Dibandingkan  bulan September 2017, pada bulan Oktober 2017 potensi terjadinya gerakan tanah / tanah longsor    diperkirakan akan mengalami peningkatan  hampir di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang masih relatif rendah potensi terjadinya gerakan tanah di banding wilayah Indonesia lainnya diperkirakan adalah wilayah Nusa Tenggara . Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua.

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

  1. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat*, 
  2. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat*,
  3. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat*, 
  4. Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta*,
  5. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat*,
  6. Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan*, 
  7. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, 
  8. Kota Siantar, Provinsi Sumatera Utara, 
  9. Kabupaten  Maluku Tengah, Maluku, 
  10. Kabupaten Kabupaten Pasuruan, Provinsi  Jawa Timur, 
  11. Kabupaten  Garut,  Provinsi Jawa Barat , 
  12. Kabupaten Banjarnegara., Provinsi Jawa Tengah, 
  13. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, 
  14. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,  
  15. Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan, 
  16. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, 
  17. Kabupaten Trenggalek, Provinsi  Jawa Timur, 
  18. Kabupaten Banyumas , Provinsi Jawa Tengah, 
  19. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur,
  20. Kabupaten Banyumas , Provinsi Jawa Tengah, 
  21. Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat,  
  22. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat,  
  23. Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat,    
  24. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,

 

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1.  Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat

Gerakan tanah terjadi di sejumlah titik di wilayah Kecamatan Banjarwangi dan Cihurip, Kabupaten Garut. Bencana gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu 30 September 2017. Di Kecamatan Cihurip gerakan tanah menyebabkan terputusnya badan jalan di Kampung Pasirtua, Desa Jayamukti sepanjang 10 meter dengan lebar 2,5 meter. Selain memtuskan jalan desa, longsor juga berdampak pada ambruknya jembatan Cipongpok.  Sedangkan di Kecamatan Banjarwangi terdapat masjid jami di Kampung Kubang, Desa Talagajaya, Kecamatan Banjarwangi, ambrol diterjang material tanah longsor.

Sumber : http://garut-express.com/masjid-dan-infrastruktur-jalan-rusak-diterjang-longsor-bpbd-garut-selatan-waspada-bencana/amp/

Penyebab gerakan tanah / tanah longsor diperkirakan akibat kondisi tanah yang labil di daerah kemiringan lereng,  bangunan yang berada di dekat tebing, drainase yang kurang baik dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat dan pengunjung  yang berada di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  •  Segera membersihkan material longsor yang menimbun jalan agar akses warga kembali normal dengan tetap menjaga kewaspadaan terhadap gerakan tanah susulan saat melakukan pembersihan material tersebut.
  •  Segera memasang rambu rawan longsor di sekitar jalan yang terkena longsor.
  • Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut agak tidak masuk ke dalam lokasi longsoran.
  • Warga yang rumahnya terancam/berada dekat dengan lokasi gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang aman apabila terjadi hujan yang cukup deras denga durasi yang cukup lama.
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat agar mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

2. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Bencana Gerakan tanah dan Banjir menerjang belasan Kecamatan di Kabupaten Sukabumi.  Bencana longsor terjadi di Kecamatan Sagaranten, Kalapanunggal, Kabandungan, Ciemas, Jampang Kulon, Waluran, Simpenan, dan Curug Kembar mulai dari tanggal 29 September 2017 hingga 1 Oktober 2017. Dampaknya terdapat bangunan ambruk yakni sekolah ambruk di Kecamatan Cidadap dan satu rumah warga di Kecamatan Cikembar. Di Kecamatan Kabandungan, berdampak sebanyak dua unit rumah warga mengalami kerusakan tingkat sedang di Kampung Cimanggu RT 07 RW 02 Desa Cianaga. Longsor juga melanda satu unit rumah warga di Kampung Cinangka RT 11 RW 02 Desa Cikaranggesan Kecamatan Jampang Kulon. Terakhir, bencana longsor menerjang satu unit rumah panggung Kampung Pasir Gombong RT 06 RW 02 Desa Banyu Murni, Kecamatan Cibitung.

Sumber : http://www.republika.co.id/amp_version/ox50j9318

Penyebab gerakan tanah / tanah longsor diperkirakan akibat kondisi tanah yang labil di daerah kemiringan lereng,  rumah dibangun di dekat tebing, drainase yang kurang baik dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang berada di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Warga yang rumahnya terancam/berada dekat dengan lokasi gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang aman apabila terjadi hujan yang cukup deras denga durasi yang cukup lama.
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Menghindari aktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah hingga ada arahan dari pemerintah setempat.

3. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

Gerakan tanah terjadi di Desa Kutawaringin, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Bencana gerakan tanah terjadi pada hari Minggu 1 Oktober 2017 sekitar pukul 04.30 WIB, dampaknya 3 rumah tertimbun material longsor yang menewaskan 2 orang yakni Waslim (50) dan Nani Sumarni (45), serta 4 rumah lainnya terancam longsor susulan.  Dari pantauan di tempat yang berbeda longsor tersebut membuat pengguna jalan Tasik-Bandung terhambat. Diperkirakan tebing setinggi 20 meter dengan panjang 30 meter longsor menutup jalur provinsi yang menghubungkan Tasikmalaya-Garut menuju Bandung, sehingga arus lalulintas terhambat.

Sumber : https://jabarnews.com/2017/10/pasutri-di-kabupaten-tasikmalaya-tewas-tertimbun-longsor.html

Penyebab gerakan tanah / tanah longsor diperkirakan akibat kondisi tanah yang labil di daerah kemiringan lereng,  rumah dibangun di dekat tebing, drainase yang kurang baik dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat dan pengunjung  yang berada di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Warga yang rumahnya terancam/berada dekat dengan lokasi gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang aman apabila terjadi hujan yang cukup deras denga durasi yang cukup lama.
  • Segera membersihkan material longsor yang menimbun jalan agar akses warga kembali normal dengan tetap menjaga kewaspadaan terhadap gerakan tanah susulan saat melakukan pembersihan material tersebut.
  • Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut agak tidak masuk ke dalam lokasi longsoran.
  •  Segera memasang rambu rawan longsor di sekitar jalan yang terkena longsor.
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Menghindari aktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah hingga ada arahan dari pemerintah setempat.

4. Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta

Gerakan tanah terjadi di Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan tepatnya di sepanjang tepi Kali Ciliwung yang melintasi daerah tersebut. Bencana gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu 30 September 2017 sekitar pukul 15.20 WIB, dampaknya 6 unit rumah warga mengalami kerusakan dan tidak dapat diperbaiki lagi.

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/read/2017/10/01/12363441/longsor-di-tepi-sungai-ciliwung-6-rumah-roboh

Penyebab gerakan tanah / tanah longsor diperkirakan akibat kondisi tanah yang labil,  rumah dibangun di dekat tebing sungai, drainase yang kurang baik dan dipicuh oleh curah hujan tinggi yang menyebabkan aliran Kali Ciliwung menjadi lebih deras.

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat dan pengunjung  yang berada di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan.
  • Warga yang rumahnya terancam/berada dekat dengan lokasi gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang lebih aman
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Menghindari aktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah hingga ada arahan dari pemerintah setempat.

5. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat

Gerakan Tanah terjadi di empat kecamatan di Cianjur selatan, Jawa Barat. Empat kecamatan tersebut diantaranya Kecamatan Sindangbarang, Tanggeung, Cibinong, dan Takokak. Di Kecamatan Takokak berpotensi terjadi longsor, karena pergerakan dan retakan tanah sudah besar. Gerakan Tanah terbaru terjadi di Muara Cikadu, Kecamatan Sindangbarang pada hari Minggu 1 Oktober 2017 pada pagi hari. Dampaknya di Kecamatan Sindangbarang, Cibinong dan Tanggeung material longsor menimbun pemukiman, sehingga menyebabkan puluhan rumah rusak, sedangkan di Takokak masih pergerakan yang menyebar di Desa Waringinsari.

Sumber : https://news.okezone.com/read/2017/10/01/525/1786717/astaga-longsor-landa-4-kecamatan-di-cianjur

Penyebab gerakan tanah / tanah longsor diperkirakan akibat kondisi tanah yang labil di daerah kemiringan lereng,  rumah dibangun di dekat tebing, drainase yang kurang baik dan dipicuh oleh curah hujan yang tinggi.

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat dan pengunjung  yang berada di sekitar daerah bencana lebih waspada, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadi longsor susulan, terutama pada saat hujan lebat dengan durasi yang cukup lama.
  • Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut agak tidak masuk ke dalam lokasi longsoran.
  • Warga yang rumahnya terancam/berada dekat dengan lokasi gerakan tanah agar mengungsi ke tempat yang aman apabila terjadi hujan yang cukup deras denga durasi yang cukup lama.
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat agar mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat.

6. Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan

Gerakan tanah terjadi di di Dusun II, Desa Epil, Kecamtan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin. Bencana gerakan tanah terjadi pada hari Minggu 1 Oktober 2017, dampaknya jembatan penghubung yakni Jembatan Bipang amblas, kondisi jembatan tidak bisa dilintasi oleh kendaraan roda empat (R4), karena aspal kian terkikis bahkan sudah melebihi setengah badan jalan, sedangkan pengendara roda dua harus ekstra berhati-hati ketika melintasi jalan tersebut.

Sumber : http://palembang.tribunnews.com/2017/10/01/jalan-amblas

Penyebab gerakan tanah / tanah longsor diperkirakan akibat kondisi tanah yang labil, drainase yang kurang baik dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi yang menyebabkan tingkat erosi oleh air sungai pada bagian bawah jembatan meningkat.

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar lokasi gerakan tanah agar selalu waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Segera membersihkan material longsor yang menimbun jalan agar akses warga kembali normal dengan tetap menjaga kewaspadaan terhadap gerakan tanah susulan saat melakukan pembersihan material tersebut.
  • Segera memasang rambu rawan longsor di sekitar jalan yang terkena longsor.
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.