Laporan Kebencanaan Geologi 07 Oktober 2017 (06:00 Wib)

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Sabtu, 07 Oktober 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah putih tipis teramati dengan tinggi 50-100 m di atas puncak. Angin ke arah barat dan timur. Melalui rekaman seismograf dan visual tidak tercatat erupsi/letusan dan awan panas guguran. Terekam 57 kali guguran lava dan secara visual teramati meluncur sejauh 600-1500 m ke arah tenggara dan timur.

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

-Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.

-Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 05 Oktober 2017 Pukul 10:11 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m di atas puncak, condong ke arah tenggara dan timur.

G. Agung (Bali):

Tingkat aktivitas Level IV atau AWAS. Pada Peningkatan aktivitas vulkanik ini disebabkan oleh kegempaan yang terus meningkat. Oleh karena itu maka tingkat kegiatan Gunung Agung (3142 m dpl) di Kabupaten Karangasem Provinsi Bali dinaikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) terhitung mulai tanggal 22 September 2017 pukul 20:30 WITA. Peningkatan kegempaan masih terjadi signifikan pasca dinaikkan Status Aktivitasnya menjadi Level IV (Awas) . Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tipis tekanan lemah dengan tinggi 50-200 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf tercatat:

-19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal.

-20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB).

-21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-22 September 2017 terekam 119 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 586 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 119 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-23 September 2017 terekam 172 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 490 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-24 September 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 570 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 67 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-25 September 2017, terekam 340 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 504 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-26 September 2017 terekam 373 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 579 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 50 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-27 September 2017 terekam 314 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 564 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 64 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-28 September 2017 terekam 214 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 444 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 23 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-29 September 2017 terekam 198 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 565 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 26 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-30 September 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 542 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-01 Oktober 2017 terekam 306 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 587 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 32 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan terasa 1 kali.

-02 Oktober 2017 terekam 356 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 517 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 42 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.

-03 Oktober 2017 terekam 287 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 322 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 48 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan  terasa 4 kali.

-04 Oktober 2017 terekam 281 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 419 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 46 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

-05 Oktober 2017 terekam 319 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 524 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 75 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

-06 Oktober 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 601 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 72 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

-07 Oktober 2017 (Pukul 00:00-06:00 WITA), terekam 65 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 125 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 25 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung di dalam radius 9 km dari kawah puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 12 km.

VONA:

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 September 2017 Pukul 08:46 WITA, terkait asap putih tipis menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 3242 mdpl atau 100 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 72 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan lemah-sedang dengan ketinggian 400-900 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah barah barat.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 06 Oktober 2017 pukul 07:56 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2129 m di atas permukaan laut atau 900 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah baratdaya.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Tinggi kolom abu putih kelabu tebal 300-500 m. Angin ke arah selatan dan utara. Melalui rekaman seismograf pada 06 Oktober 2017 tercatat:

-71 kali erupsi/letusan,

-28 kali hembusan,

-9 kali guguran lava.

-Tremor Harmonik nihil

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Oktober  2017 yang dibandingkan bulan  September 2017,  menunjukan hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:

1.            Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali,

2.            Kabupaten Klungkung , Provinsi Bali ,

3.            Kabupaten  Bengkalis , Provinsi Riau.

Penyebab:

Penyebab gerakan tanah /  tanah longsor diperkirakan  akibat fondasi jalan mengalami pelapukan,   kondisi tanah yang labil, rumah dibangun di dekat tebing,   sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air  dan drainase air jalan yang tidak berfungsi

Dampak :

1.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  Kabupaten Karangasem, Bali. mengakibatkan lalu lintas terganggu.

2.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi Kabupaten Klungkung  , Bali mengakibatkan satu rumah warga rusak.

3.            Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi di Kabupaten Bengkalis, Riau mengakibatkan perkebunan warga retak-retak.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui http://vsi.esdm.go.id/gallery/index.php?/category/12

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 2 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung*, Sumut, G. Agung*, Bali);

b. Sebanyak 17 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, dan Banda Api);

d. Sisanya 50 gunung api: Status Normal/Level 1.

 

*Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis, tinggi 50-100 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf dan visual tidak tercatat erupsi/letusan dan juga tidak tercatat adanya awan panas guguran. Guguran lava terekam 57 kali dan teramati meluncur sejauh 600-1500 m ke arah tenggara dan timur.

Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 17 September 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,639 juta m3.

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

*Gunungapi Agung (Bali).

Setelah peningkatan Tingkat aktivitas  G. Agung dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada 22 September 2017 Pukul 20:30 WITA, tingkat kegempaan G. Agung masih terus signifikan. Saat dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) pada 14 September 2017 pukul 14:00 WITA, jumlah kegempaan per hari terekam 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Namun setelah itu, kegempaan vulkanik meningkat sangat tajam, pada 17 September 2017 dari pukul 00.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA terekam 222 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Gempa Terasa frekuensinya semakin tinggi. Dari tanggal 14 September hingga 18 September 2017 pukul 20:00 WITA, telah terjadi setidaknya 4 kali Gempa Terasa yang berpusat di sekitar G. Agung. Terakhir, Gempa Terasa di sekitar G. Agung pada 18 September 2017 pukul 19:02 WITA dengan magnitudo Md 3.11 dan skala MMI II-III di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang. Oleh karena itu, berkaitan dengan meningkatnya jumlah kegempaan vulkanik secara signifikan dan semakin tingginya frekuensi gempa terasa ini maka status aktivitas G. Agung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 18 September 2017 pukul 21:00 WITA. Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan sering berkabut disertai hujan lebat di malam hari. Asap dari kawah teramati putih tipis dengan tinggi 50 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf tercatat:

-19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal.

-20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 16 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-22 September 2017 terekam 119 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 586 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 119 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-23 September 2017 terekam 172 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 490 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-24 September 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 570 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 67 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-25 September 2017 terekam 340 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 504 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-26 September 2017 terekam 373 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 579 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan 50 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), salah satunya skala MMI II-III.

-27 September 2017 terekam 314 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 564 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 64 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-28 September 2017 terekam 214 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 444 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 23 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-29 September 2017 terekam 198 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 565 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 26 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-30 September 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 542 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).

-01 Oktober 2017 terekam 306 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 587 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 32 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali terasa.

-02 Oktober 2017 terekam 356 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 517 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 42 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.

-03 Oktober 2017 terekam 287 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 322 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 48 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan  4 kali terasa.

-04 Oktober 2017 terekam 281 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 419 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 46 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan  tidak ada terasa.

-05 Oktober 2017 terekam 319 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 524 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 75 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

-06 Oktober 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 601 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 72 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

-07 Oktober 2017 (Pukul 00:00-06:00 WITA), terekam 65 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 125 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 25 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

*Gunungapi Dukono (Hakmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf tercatat 46 kali erupsi/letusan. dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-22 mm (dominan 4 mm) dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 400-600 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Baratlaut dan Barat. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

*Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas dan kadang-kadang tertutup kabut. Teramati tinggi asap putih kelabu kelabu tekanan sedang 300-500 m. Melalui rekaman seismograf pada 06 Oktober 2017 tercatat:

-71 kali erupsi/letusan,

-28 kali hembusan,

-Tremor Harmonik nihil.

-Guguran lava nihil.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

- Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,

- BMKG,

- Air Nav,

- Air Traffic Control, Airlines,

- VAAC Darwin,

- VAAC Tokyo,

- dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, tanggal 05 Oktober 2017 Pukul 10:11 WIB terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m di atas puncak, kolom abu bergerak ke arah Tenggara dan Timur.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, 29 September 2017 Pukul 08:46 WITA terkait dengan asap putih tipis menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 3242 mdpl atau 100 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

(3) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 06 Oktober 2017 pukul 07:56 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 2129 m di atas permukaan laut atau 900 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah baratdaya.

(4) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Dibandingkan  bulan September    2017, pada bulan Oktober 2017 potensi terjadinya gerakan tanah / tanah longsor    diperkirakan akan mengalami peningkatan  hampir di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang masih relatif rendah potensi terjadinya gerakan tanah di banding wilayah Indonesia lainnya diperkirakan adalah wilayah Nusa Tenggara . Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua.

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 1. Kabupaten Karangasem, Provinsi Jawa Timur*,  2.           Kabupaten Klungkung , Provinsi Bali*,   3. Kabupaten  Bengkalis , Provinsi Riau*,  4.Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah,   5.Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah,  6.Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung,   7.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, 8.Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,   9. Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat , 10. Kabupaten Bogor,  Jawa Barat,  11. Kabupaten Tasikmalaya , Provinsi Jawa Barat,  12. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali.

Gerakan tanah / tanah longsor   terjadi di Jalan Batusesa, Desa Rendang, Karangasem, Bali. Longsor disebabkan hujan deras yang terus mengguyur sejak Kamis malam, 5 Oktober 2017. material longsor langsung dibersihkan oleh petugas kebersihan setempat. Longsor   terjadi di dekat tempat wisata rafting. Jalan menuju lokasi tersebut sebagian tertutup tanah basah. Beberapa petugas nampak menyingkirkan tanah dari jalan, agar kendaraan bisa lewat.

Sumber http://news.metrotvnews.com/daerah/GKdQZJAN-jalan-di-desa-rendang-tertutup-longsor

Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dan lama, kemiringan lereng yang curam, sehingga lereng menjadi tidak stabil.

Rekomendasi :

•  Agar masyarakat yang beraktifitas di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.

•  Sementara, sejumlah polisi sibuk memberikan arahan kepada pengendara agar lebih berhati-hati saat melintas. Kontur tanah yang basah bisa membuat kendaraan mudah tergelincir.

"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati saat melintas, karena jalan jadi licin. Sedangkan, di kanan jalan jurang," ujar Kapolsek Rendang I Nengah Berata.

• Material longsoran agar segera dibersihkan.

• Jalan yang terancam putus agar segera dilakukan penimbunan dengan tanah urug dan di tahan dengan tembok penahan atau bronjong.

•  Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan.

2. Kabupaten Klungkung , Provinsi Bali .

Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Klungkung mengakibatkan longsor di Banjar Takedan, Desa Selat, Jumat (6/10) dini hari. Kejadian ini menimpa rumah warga, I Komang Budiana (45) hingga rusak. Beruntung tak ada korban jiwa, namun kerugian materi ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Longsor terjadi pada pondasi rumah yang baru dibangun sejak sebulan lalu. Itu memiliki panjang sekitar 6 meter dan tinggi 3,5 meter. Materialnya berupa tanah urugan dan batu menghantam tembok rumah Budiana yang tepat berada di bawahnya hingga hancur. Atapnya pun sebagain rusak.  kejadian ini berlangsung sekitar pukul 01.00 Wita, bertepatan dengan hujan lebat. Kerusakan bangunan terjadi pada kamar tidur dan dapurnya.

Sumber  : http://www.balipost.com/news/2017/10/06/24134/Longsor-Timpa-Rumah-Warga-Selat.html

Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dan lama, kemiringan lereng yang curam dan pembangunan rumah tidak membangun sesuai kaidah teknik yang baik, sehingga lereng menjadi tidak stabil.

Rekomendasi :

•  Agar masyarakat yang beraktifitas di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.

•  Dalam kegiatan pembangunan rumah di daerah kemiringan lereng  diperlukan adanya perencanaan yang matang mengenai tata cara teknis pembangunan yang aman dari  ancaman longsoran..

•   Masyarakat setempat dihimbau untuk  selalu mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah setempat.

3. Kabupaten  Bengkalis , Provinsi Riau.

Longsor dikabarkan terjadi di Desa Telesung, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Kurang lebih 300 meter persegi kebun milik masyarakat mengalami keretakan. Rabu 4 Oktober 2017. Diduga terjadi karena tingginya curah curah air hujan di desa tersebut.

Kebun tersebut diketahui milik Ahan warga Jalan Panglong RT002/ RW002 Dusun 2 Desa Telesung, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kepulauan Meranti. Kronologis kejadian, pada Rabu 4 Oktober 2017 sekitar pukul 02.00 Wib dinihari, di Desa Telesung diguyur hujan lebat hingga pagi hari. Sekitar pukul 09.00 Wib, hujan mulai berhenti dan menyebabkan air di dalam parit yang mengarah ke laut melimpah, sehingga mengakibatkan arus air yang berada di parit tersebut menjadi deras. Karena lahan tersebut lahan gambut, sekitar pukul 09.30 Wib tanah mulai mengalami keretakan, dan sekitar pukul 10.00 Wib tanah longsor karena arus air yang kuat. Sampai saat ini tanah di sekitar lokasi masih terus mengalami keretakan. Diperkirakan akan terus bertambah luas apabila hujan.

Sumber : http://bengkalisone.com/berita/Kebun-Warga-Telesung-Meranti-Dilanda-Longsor

Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran. Penyebab gerakan tanah diduga akibat curah hujan yang tinggi dan lama, drainase yang tidak berfungsi dengan baik , sehingga lereng menjadi tidak stabil.

Rekomendasi :

•  Agar masyarakat yang beraktifitas di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.

•  Material longsoran agar segera dibersihkan.

•  Retakan  yang terancam putus agar segera dilakukan penimbunan dengan tanah urug dan di tahan dengan tembok penahan atau bronjong.

•   Segera memperbaiki drainase yang rusak agar air tidak terus melimpah ke tanah yang retak.

•    Masyarakat setempat dihimbau untuk  selalu mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah setempat.