Laporan Kebencanaan Geologi, 09 Oktober 2017

Logo_ESDM

I. SUMMARY:

Hari ini, Senin, 09 Oktober 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
 

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah putih tipis teramati dengan tinggi 50 m di atas puncak. Angin ke arah barat. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat erupsi/letusan sebanyak 4 kali. Kolom abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian 500-2000 m dari puncak. Erupsi tidak diikuti awan panas guguran. Terekam 49 kali guguran lava dan secara visual teramati meluncur sejauh 500-1000 m ke arah tenggara dan timur.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA :

 Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 08 Oktober 2017 Pukul 07:15 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m di atas puncak, condong ke arah barat.

G. Agung (Bali):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS),  terhitung mulai tanggal 22 September 2017 pukul 20:30 WITA. Aktivitas kegempaan G. Agung (3142 m dpl) masih tetap tinggi dan fluktuatif pasca dinaikkan Status Aktivitasnya menjadi Level IV (Awas) . Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tebal tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 200 m di atas puncak. Asap tertinggi sekitar 1500 di atas puncak terjadi pada 7 Oktober 2017, pukul 20:30 WITA.  Melalui rekaman seismograf tercatat:08 Oktober 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 487 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.-09 Oktober 2017 (Pukul 00:00-06:00 WITA), terekam 70 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 117 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 9 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

Rekomendasi: 

Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung di dalam radius 9 km dari kawah puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 12 km.

VONA :

Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 07 September 2017 Pukul 22:30 WITA, terkait asap dominan uap air putih tebal menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 4642 mdpl atau 1500 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 19 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan lemah-sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah barah baratlaut dan barat.

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA: 

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 08 Oktober 2017 pukul 06:26 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah baratdaya.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak berkabut. Tinggi kolom tidak teramati. Angin ke barat. Melalui rekaman seismograf pada 08 Oktober 2017 tercatat:-101 kali erupsi/letusan,-90 kali hembusan,-1 kali guguran lava.-24 kali tremor Harmonik

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu

VONA:

Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Lewotolok (Lembata NTT):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Tinggi kolom abu putih tebal 10-50 m condong ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 08 Oktober 2017 tercatat:-Hembusan 197 kali.Hybrid/Fase Banyak nihil-Vulkanik Dangkal 12 kali.-Vulkanik Dalam 87 kali.-Tektonik Lokal 6 kali (tidak terasa).

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Lewotolo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.

VONA:

Belum dikirim karena belum erupsi dan belum ada emisi abu ke udara. 

Untuk Gunungapi status Normal : Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.


2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Oktober  2017 yang dibandingkan bulan  September 2017,  menunjukan hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan Tanah terakhir terjadi di:

  1. Kabupaten Sleman, Provinsi DIY,  
  2. Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, 
  3. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat

Penyebab: Penyebab gerakan tanah /  tanah longsor diperkirakan  Kelerengan yang terjal, vegetasi yang terus berkurang,  sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air  dan drainase air jalan yang tidak berfungsi.

Dampak :

  1. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi di lokasi penambangan pasir dan batu di daerah Gunungsari, Sleman mengakibatkan 1 orang meninggal dunia. 
  2. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, menyebabkan 3 buah alat berat terjatuh menimpa pagar kebun raya, 1 orang meninggal dunia dan 1 orang luka ringan
  3. Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  kawasan Garut selatan (Garsel) mengakibatkan ruas jalan di kawasan Kampung Karees, Desa Sagara, Kecamatan Cibalong tertutup material longsor. 

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.

Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. a. 2 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung, Sumut, G. Agung, Bali); 
  2. b. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status Normal/Level 1.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis, tinggi 50 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat erupsi/letusan 4 kali. Kolom abu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian dari puncak 500-2000 m. Erupsi tidak disertai adanya awan panas guguran. Guguran lava terekam 49 kali dan teramati meluncur sejauh 500-1000 m ke arah selatan, tenggara dan timur.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 17 September 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,639 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Setelah peningkatan Tingkat aktivitas  G. Agung dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada 22 September 2017 Pukul 20:30 WITA, tingkat kegempaan G. Agung masih terus signifikan. Saat dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) pada 14 September 2017 pukul 14:00 WITA, jumlah kegempaan per hari terekam 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Namun setelah itu, kegempaan vulkanik meningkat sangat tajam, pada 17 September 2017 dari pukul 00.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA terekam 222 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Gempa Terasa frekuensinya semakin tinggi. Dari tanggal 14 September hingga 18 September 2017 pukul 20:00 WITA, telah terjadi setidaknya 4 kali Gempa Terasa yang berpusat di sekitar G. Agung. Terakhir, Gempa Terasa di sekitar G. Agung pada 18 September 2017 pukul 19:02 WITA dengan magnitudo Md 3.11 dan skala MMI II-III di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang. Oleh karena itu, berkaitan dengan meningkatnya jumlah kegempaan vulkanik secara signifikan dan semakin tingginya frekuensi gempa terasa ini maka status aktivitas G. Agung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 18 September 2017 pukul 21:00 WITA. Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan sering berkabut disertai hujan lebat di malam hari. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih tebal mencapai ketinggian 1500 m di atas puncak.

Melalui rekaman seismograf tercatat:

  • 19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal.
  • 20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 16 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 22 September 2017 terekam 119 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 586 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 119 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 23 September 2017 terekam 172 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 490 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 24 September 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 570 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 67 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 25 September 2017 terekam 340 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 504 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 26 September 2017 terekam 373 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 579 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan 50 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), salah satunya skala MMI II-III.
  • 27 September 2017 terekam 314 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 564 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 64 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 28 September 2017 terekam 214 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 444 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 23 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 29 September 2017 terekam 198 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 565 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 26 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 30 September 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 542 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 01 Oktober 2017 terekam 306 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 587 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 32 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali terasa.
  • 02 Oktober 2017 terekam 356 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 517 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 42 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.
  • 03 Oktober 2017 terekam 287 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 322 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 48 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan  4 kali terasa.
  • 04 Oktober 2017 terekam 281 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 419 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 46 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan  tidak ada terasa.
  • 05 Oktober 2017 terekam 319 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 524 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 75 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 06 Oktober 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 601 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 72 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 07 Oktober 2017 terekam 309 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 536 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 44 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali terasa.
  • 08 Oktober 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 487 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.
  • 09 Oktober 2017 (Pukul 00:00-06:00 WITA), terekam 70 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 117 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 9 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf tercatat 19 kali erupsi/letusan. dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-24 mm (dominan 4 mm) dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah baratlaut dan barat. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas dan kadang-kadang tertutup kabut. Teramati tinggi asap putih kelabu tekanan sedang 200-500 m. Melalui rekaman seismograf pada 08 Oktober 2017 tercatat:-101 kali erupsi/letusan,-98 kali hembusan,-1 kali guguran lava-24 kali tremor harmonik.Arah dan jangkauan luncuran guguran lava tidak teramati karena puncak tertutup kabut. Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Lewotolok (Lembata NTT).

Gunungapi Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Lewotolo sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas dan kadang-kadang tertutup kabut. Teramati tinggi asap putih tipis tekanan lemah 10-50 m. Angin ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf pada 08 Oktober 2017 tercatat :

  • Hembusan 197 kali.
  • Hybrid/Fase Banyak nihil.
  • Tremor Harmonik nihil.
  • Vulkanik Dangkal 12 kali
  • Vulkanik Dalam 87 kali
  • Tektonik Lokal 6 kali (Terasa 17 kali)


Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Lewotolo terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional :

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, tanggal 08 Oktober 2017 Pukul 07:15 WIB terkait dengan letusan yang disertai kepulan kolom abu mencapai ketinggian 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m di atas puncak, kolom abu bergerak ke arah barat.
  2. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, 07 Oktober 2017 Pukul 22:30 WITA terkait dengan asap putih tebal menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 2242 mdpl atau 1500 m di atas puncak. Condong ke arah barat. Material abu letusan belum teramati.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 08 Oktober 2017 pukul 06:26 WIT terkait dengan erupsi yang disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1529 m di atas permukaan laut atau 300 m dari puncak, kolom abu bergerak ke arah baratdaya.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Lewotolo, Nusa Tenggara Timur.VONA belum dikirim karena belum ada erupsi dan belum ada emisi abu ke udara.
  6. Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.


2. Gerakan Tanah

Dibandingkan  bulan September 2017, pada bulan Oktober 2017 potensi terjadinya gerakan tanah / tanah longsor    diperkirakan akan mengalami peningkatan hampir di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang masih relatif rendah potensi terjadinya gerakan tanah di banding wilayah Indonesia lainnya diperkirakan adalah wilayah Nusa Tenggara . Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di :

  • Kabupaten Sleman, Provinsi DIY,
  • Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur,
  • Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Timur,
  • Kabupaten Pangandaran , Provinsi Jawa Barat,
  • Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali ,
  • Kabupaten Klungkung , Provinsi Bali ,
  • Kabupaten  Bengkalis , Provinsi Riau ,
  • Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah,
  • Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah,
  • Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung,
  • Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,
  • Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,
  • Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat.

Kejadian Gerakan Tanah terbaru:

1. Kabupaten Sleman, Provinsi DIY

Tanah longsor terjadi di lokasi penambangan pasir dan batu di daerah Gunungsari, Sleman. Gerakan tanah terjadi pada hari Minggu, 8 Oktober 2017 sekitar pukul 07.00 wib. Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa jatuhan tanah dan batu dr tebing. Gerakan tanah ini mengakibatkan 1 orang meninggal dunia. 

Sumber: https://m.detik.com/news/jawatengah/3675106/penambang-batu-tewas-tertimpa-longsor-di-sleman

Gerakan tanah ini terjadi karena kemiringan lereng yg curam dan dipicu oleh curah hujan tinggi.

Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tidak beraktivitas di sekitar lokasi bencana terutama saat hujan karena berpotensi terjadi longsor susulan
  • Menutup lokasi pertambangan dan menghentikan aktivitas pertambangan
  • Memasang rambu rawan bencana longsor
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat sekitar
  • Masyarakat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat

2. Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur

Tanah longsor di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, petang kemarin (sabtu, 7 oktober 2017). Longsor ini terjadi diduga kuat akibat hujan deras yang mengguyur tempat wisata tersebut. Gerakan tanah ini berupa longsoran material rombakan yang menyebabkan 3 buah alat berat terjatuh menimpa pagar kebun raya dan mengakibatkan 1 orang meninggal dunia dan 1 orang luka ringan.

Sumber : https://daerah.sindonews.com/newsread/1246392/23/sedang-minum-kopi-1-wisatawan-tewas-tertimbun-tanah-longsor-1507404798

Rekomendasi:

  • Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar lokasi bencana dihimbau untuk selalu waspada terutama pada saat dan setelah hujan turun deras dan lama karena berpotensi terjadi longsor susulan.
  • Pembuatan dinding penahan lereng yang dilengkapi dengan lubang saluran air, serta mengatur drainase di atas dan pada lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat sekitar
  • Masyarakat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat

 

3. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Timur

Guyuran hujan yang melanda kawasan Garut selatan (Garsel) dan sekitarnya sejak pukul 13.00 WIB mengakibatkan genangan banjir dan longsor di beberapa titik, Sabtu (07/10/2017). Dampak dari derasnya hujan ini, salah satu kawasan di Kampung Cijreuk, Desa Sancang, Kabupaten Garut dilanda longsor. Akibat hujan deras ini juga ruas jalan di kawasan Kampung Karees, Desa Sagara, Kecamatan Cibalong tertutup material longsor. Gerakan tanah terjadi sekitar pukul 16.00wib.Sementara itu, dari laporan update peringatan dini cuaca Jawa Barat yang dilaporkan oleh Pusdalops PB BPBD Jawa Barat, hingga pukul 20.00 WIB, Sabtu (07/10/17), di sejumlah kawasan Jawa Barat masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat disertai angin kencang dan petir. 

Sumber: http://garut-express.com/breaking-news-lagi-sejumlah-titik-di-kawasal-garsel-diterjang-banjir-dan-longsor/amp/ 

Rekomendasi:

  • Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar lokasi bencana dihimbau untuk selalu waspada terutama pada saat dan setelah hujan turun deras dan lama karena berpotensi terjadi longsor susulan.
  • Pengguna jalan menghindari jalur tersebut hingga jalur jalan dibuka kembali.
  • Masyarakat di sekitar jalan tersebut agar waspada dan berhati hati karena jalur masih rawan dan masih berpotensi terjadi longsor susulan.
  • Segera memasang rambu rawan longsor di sekitar jalan yang terkena longsor.
  • Menata aliran air permukaan pada jalan tersebut agak tidak masuk ke area longsoran
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah terutama saat memasuki musim hujan
  • Masyarakat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.