Laporan Kebencanaan Geologi 12 Oktober 2017 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Kamis, 12 Oktober 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas hingga kabut. Asap kawah tidak teramati karena kabut. Angin ke arah timur dan tenggara. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat erupsi/letusan sebanyak 2 kali. Kolom letusan abu teramati setinggi 1000-1500 m diatas puncak. Erupsi diikuti awan panas guguran ke arah Timur dan Tenggara sejauh 300-1000. Terekam 30 kali guguran lava ke arah Timur dan Tenggara.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga  kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Oktober 2017 Pukul 11:01 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur-Tenggara.

G. Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level IV atau AWAS, terhitung mulai tanggal 22 September 2017 pukul 20:30 WITA. Aktivitas kegempaan G. Agung (3142 m dpl) masih tetap tinggi dan fluktuatif pasca dinaikkan Status Aktivitasnya menjadi Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih tebal tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 200 m di atas puncak. Asap tertinggi sekitar 1500 m di atas puncak terjadi pada 7 Oktober 2017, pukul 20:30 WITA.  Melalui rekaman seismograf tercatat:

  • 10 Oktober 2017 terekam 227 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 455 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 48 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 11 Oktober 2017 terekam 282 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 445 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 28 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan satu kali terasa (MMI II).
  • 12 Oktober 2017 (Pukul 00:00-06:00 WITA), terekam 92 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 114 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 7 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung di dalam radius 9 km dari kawah puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 12 km.
VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 07 Oktober 2017 Pukul 22:30 WITA, terkait asap dominan uap air putih tebal menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 4642 mdpl atau 1500 m di atas puncak. Material abu letusan belum teramati.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf, tercatat 10 kali erupsi/letusan dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 400-700 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Timur.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 12 Oktober 2017 pukul 07:33 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Tinggi kolom erupsi/letusan berkisar 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup ke arah Timur. Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2017 tercatat:

  • 96 kali erupsi/letusan,
  • 78 kali hembusan,
  • 2 kali guguran lava.
  • 29 kali tremor Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga berkabut. Teramati asap putih tipis tekanan lemah setinggi 20-50 m condong ke arah Timur dan Barat. Melalui rekaman seismograf pada 10 Oktober 2017 tercatat:

  • Hembusan 140 kali.
  • Tornillo 6 kali.
  • Hybrid/Fase Banyak 118 kali.
  • Vulkanik Dangkal 16 kali.
  • Vulkanik Dalam 76 kali.
  • Tektonik Lokal 161 kali (26 kali terasa).

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal:  Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Oktober  2017 yang dibandingkan bulan  September 2017,  menunjukan hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi di:
1. Kabupaten  Malinau, Provinsi Kalimantan Utara2. Kabupaten  Lembata,  Provinsi Nusa Tenggara Timur
Penyebab: Penyebab gerakan tanah /  tanah longsor diperkirakan gempabumi berskala 4,9 SR yang terjadi sejak Minggu hingga Rabu pagi, kemiringan lereng yang cukup curam, dan material lereng yang kurang padu. curah hujan yang tinggi, lereng yang terjal, erosi dari Sungai Kayan di bagian bawah lereng. 
Dampak :

  • Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di  Kab. Malinau, Kalimantan Utara  mengakibatkan jalan desa terancam putus.
  • Bencana gerakan tanah/tanah longsor terjadi  di di lereng Gunung Ile Lewotolok, Desa Lamagute, Kec. Ile Ape Timur, Kab. Lembata, Nusa Tenggara Timur mengakibatkan jalan penghubung desa terputus sepanjang 2 km, 11 rumah rusak berat, 29 rumah rusak ringan. 

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui http://vsi.esdm.go.id/gallery/index.php?/category/12


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  • 2 gunung api status AWAS/Level 4 sejak 2 Juni 2015 (G. Sinabung, Sumut, G. Agung, Bali);
  • Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level 2 (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok* dan Banda Api);
  • Sisanya 49 gunung api: Status Normal/Level 1.

 

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati berkabut. Melalui rekaman seismograf dan visual tercatat erupsi/letusan 1 kali. Kolom abu tidak teamati karena tertutup kabut. Erupsi tidak disertai adanya awan panas guguran. Guguran lava terekam 27 kali. Arah dan jarak luncuran tidak teramati karena kabut.
Hasil pengukuran volume kubah lava pasca letusan besar tanggal 2-3 Agustus 2017 yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 17 September 2017 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,639 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Setelah peningkatan Tingkat aktivitas  G. Agung dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada 22 September 2017 Pukul 20:30 WITA, tingkat kegempaan G. Agung masih terus signifikan. Saat dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) pada 14 September 2017 pukul 14:00 WITA, jumlah kegempaan per hari terekam 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Namun setelah itu, kegempaan vulkanik meningkat sangat tajam, pada 17 September 2017 dari pukul 00.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA terekam 222 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). Gempa Terasa frekuensinya semakin tinggi. Dari tanggal 14 September hingga 18 September 2017 pukul 20:00 WITA, telah terjadi setidaknya 4 kali Gempa Terasa yang berpusat di sekitar G. Agung. Terakhir, Gempa Terasa di sekitar G. Agung pada 18 September 2017 pukul 19:02 WITA dengan magnitudo Md 3.11 dan skala MMI II-III di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang. Oleh karena itu, berkaitan dengan meningkatnya jumlah kegempaan vulkanik secara signifikan dan semakin tingginya frekuensi gempa terasa ini maka status aktivitas G. Agung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 18 September 2017 pukul 21:00 WITA. Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas dan sering berkabut disertai hujan lebat di malam hari. Asap dominan uap air dari kawah teramati putih tebal mencapai ketinggian 1500 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf tercatat:

  • 19 September 2017 terekam 427 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan 11 kali Gempa Tektonik Lokal.
  • 20 September 2017 terekam 563 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 16 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 21 September 2017 terekam 82 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 592 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 22 September 2017 terekam 119 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 586 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 119 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 23 September 2017 terekam 172 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 490 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 51 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 24 September 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 570 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 67 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 25 September 2017 terekam 340 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 504 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 26 September 2017 terekam 373 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 579 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), dan 50 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), salah satunya skala MMI II-III.
  • 27 September 2017 terekam 314 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 564 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 64 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 28 September 2017 terekam 214 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 444 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 23 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 29 September 2017 terekam 198 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 565 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 26 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 30 September 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 542 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 4 kali Gempa Tektonik Lokal (TL).
  • 01 Oktober 2017 terekam 306 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 587 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 32 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali terasa.
  • 02 Oktober 2017 terekam 356 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 517 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 42 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.
  • 03 Oktober 2017 terekam 287 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 322 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 48 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan  4 kali terasa.
  • 04 Oktober 2017 terekam 281 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 419 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 46 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan  tidak ada terasa.
  • 05 Oktober 2017 terekam 319 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 524 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 75 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 06 Oktober 2017 terekam 350 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 601 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 72 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 07 Oktober 2017 terekam 309 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 536 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 44 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 1 kali terasa.
  • 08 Oktober 2017 terekam 252 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 487 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 74 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 3 kali terasa.
  • 09 Oktober 2017 terekam 317 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 484 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 8 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 10 Oktober 2017 terekam 227 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 455 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 48 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.
  • 11 Oktober 2017 terekam 282 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 445 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 28 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan satu kali gempa terasa.
  • 12 Oktober 2017 (Pukul 00:00-06:00 WITA), terekam 92 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 114 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 7 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan tidak terasa.

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Melalui rekaman seismograf tercatat 10 kali erupsi/letusan. dengan amplitudo dominan tremor menerus berkisar 0,5-25 mm (dominan 3 mm) dan teramati kolom abu erupsi berwarna putih kelabu tebal tekanan sedang dengan ketinggian 500-700 m di atas puncak, condong ditiup angin ke arah Timur. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut. Tinggi kolom erupsi/letusan berkisar 300-600 m di atas puncak. Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2017 tercatat:-96 kali erupsi/letusan,-78 kali hembusan,-2 kali guguran lava.-29 kali tremor HarmonikArah dan jangkauan luncuran guguran lava tidak teramati karena puncak tertutup kabut. Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tampak jelas dan kadang-kadang tertutup kabut. Teramati asap putih tipis sedang tekanan lemah setinggi 20-50 m. Angin ke arah Timur dan Barat. Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2017 tercatat:

  • Hembusan 140 kali.
  • Tornillo 6 kali.
  • Hybrid/Fase Banyak 118 kali.
  • Vulkanik Dangkal 16 kali.
  • Vulkanik Dalam 76 kali.
  • Tektonik Lokal 161 kali (26 kali terasa).

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo, - dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Oktober 2017 Pukul 11:01 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur-Tenggara.
  2. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, 07 Oktober 2017 Pukul 03:51 WITA terkait dengan asap putih tebal menerus, tekanan lemah, dengan tinggi 2242 mdpl atau 1500 m di atas puncak. Condong ke arah barat. Material abu letusan belum teramati.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 12 Oktober 2017 pukul 07:33 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Timur..
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Dibandingkan  bulan September 2017, pada bulan Oktober 2017 potensi terjadinya gerakan tanah / tanah longsor diperkirakan akan mengalami peningkatan  hampir di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang masih relatif rendah potensi terjadinya gerakan tanah di banding wilayah Indonesia lainnya diperkirakan adalah wilayah Nusa Tenggara . Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

  1. Kabupaten  Malinau, Provinsi Kalimantan Utara
  2. Kabupaten  Lembata,  Provinsi Nusa Tenggara Timur,
  3. Kabupaten Bandung, Provinsi  Jawa Barat,
  4. Kabupaten  Sukabumi, Provinsi  Jawa Barat,
  5. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali ,
  6. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat,
  7. Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat,
  8. Kabupaten Agam , Provinsi Sumatera Barat,
  9. Kabupaten Banyuwangi, Provinsi  Jawa Timur,
  10. Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung,
  11. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat,
  12. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah,
  13. Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat,
  14. Kabupaten Sleman, Provinsi DIY, 
  15. Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur,
  16. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Timur,
  17. Kabupaten Pangandaran , Provinsi Jawa Barat.

Kejadian Gerakan Tanah terbaru:
1. Kabupaten  Malinau, Provinsi Kalimantan Utara
Bencana gerakan tanah terjadi di Desa Entogong, Kec. Kayan Hulu, Kab. Malinau, Kalimantan Utara pada hari Rabu, 11 Oktober 2017 pagi. Gerakan tanah terjadi di jalan desa sepanjang 15 meter. 
(Sumber berita: http://pontianak.tribunnews.com/2017/10/11/jalan-desa-di-kayan-hulu-nyaris-longsor-kapolsek-imbau-warga-waspada)
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena curah hujan yang tinggi, lereng yang terjal, erosi dari Sungai Kayan di bagian bawah lereng. 
Rekomendasi:

  • Masyarakat yang beraktivitas dan melintas di jalan tersebut agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama.
  • Memelihara pepohonan berakar kuat dan dalam di daerah perbukitan dan lereng terjal untuk menjaga material lereng dari erosi dan limpasan air hujan.
  • Memelihara vegetasi di sekitar daerah berlereng terjal agar kesetimbangan lereng tetap terjaga.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.


2. Kabupaten  Lembata,  Provinsi Nusa Tenggara Timur
Bencana gerakan tanah terjadi di lereng Gunung Ile Lewotolok, Desa Lamagute, Kec. Ile Ape Timur, Kab. Lembata, Nusa Tenggara Timur sejak hari Minggu hingga Selasa, 10 Oktober 2017. Gerakan tanah berjenis gelinciran batu (rock slide) yang mengakibatkan jalan penghubung desa terputus sepanjang 2 km, 11 rumah rusak berat, 29 rumah rusak ringan. 
(Sumber berita: https://news.okezone.com/read/2017/10/11/340/1793151/digoyang-gempa-puluhan-rumah-rusak-akibat-tertimpa-material-gunung-ile-lewotolok)
Penyebab gerakan tanah terutama adalah gempabumi berskala 4,9 SR yang terjadi sejak Minggu hingga Rabu pagi, kemiringan lereng yang cukup curam, dan material lereng yang kurang padu.
Rekomendasi:

  • Masyarakat yang beraktivitas dan melintas di jalan tersebut agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama.
  • Masyarakat yang terdampak agar mengungsi sementara hingga ada arahan lebih lanjut dari pemerintah setempat.
  • Segera membersihkan material longsor yang menutupi jalan agar akses jalan kembali terhubung dengan tetap berhati-hati terhadap longsor susulan.
  • Memelihara pepohonan berakar kuat dan dalam di daerah perbukitan dan lereng terjal untuk menjaga material lereng dari erosi dan limpasan air hujan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Agar masyarakat mengikuti arahan pemerintah setempat dan instansi yang berwenang.