Laporan Kebencanaan Geologi 25 November 2017 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Sabtu 25 Nopember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi kolom abu 2000 m diatas puncak. Terekam 58 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 700-1000 m mengarah ke timur, tenggara dan selatan.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 November 2017 Pukul 16:14 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih sedang - tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 100-500 m di atas puncak. Rekaman seismograf Tanggal 24 Nopember 2017 tercatat:

  • 13 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Tanggal 25 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 7 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 1 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
VONA: Terakhir terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 November 2017 Pukul 17:05 WITA, terkait letusan dengan ketinggian abu 3842 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara..

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah barat dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf terekam Tremor menerus dengan amplitudo 1-10,0 mm (dominan 2 mm). Secara visual teramati 1 kali erupsi dengan kolom abu erupsi tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 500-900 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 23 Nopember 2017 pukul 07:43 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2329 m di atas permukaan laut atau 1100 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 24 November 2017 tercatat:

  • 118 kali gempa letusan
  • 100 kali gempa Hembusan
  • 30 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi asap kawah teramati setinggi 25 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 24 Nopember 2017 tercatat:

  • 89 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 8 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2017 yang dibandingkan bulan  Oktober  2017,  menunjukan  potensinya hampir  seluruh wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupten Bima, Provinsi  Nusa Tenggara Barat
  2. Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur.
  3. Kabupaten Badung, Provinsi Bali
  4. Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan 

Penyebab:
Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh kemiringan lereng, rumah dibangun di  lereng dan dekat tebing sungai pelapukan batuan, perubahan susut air sungai pasca banjir,  serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak:

  1. Runtuhan batu berdiameter 2 meter terjadi menimpa rumah di RT. 08, Desa Baralau Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, Provinsi  Nusa Tenggara Barat pada  Jum'at, 24 November 2017 dini hari sekitar pukul 02:00 WITA mengakibatkan 1 orang tewas, 1 luka luka
  2. Gerakan tanah / tanah longsor di rumah warga di Jalan Surabaya, RT 20 nomor 01 Kelurahan Gunung Telihan, Kota Bontang  Provinsi Kalimantan Timur pada  Jum'at, 24 November 2017 mengakibatkan satu rumah warga rusak
  3. Gerakan tanah / tanah longsor pada Kamis (23/11) Pukul 19:45 WITA, terjadi di Jalan Baha di Banjar Busana Kaja. Kabupaten Badung, Provinsi Bali mengakibatkan jalan tertutup material longsoran
  4. Gerakan tanah / tanah longsor melanda permukiman  warga RT 09 RW 03, Kelurahan Dempo Makmur Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan pada Kamis (23/11/2017) dini hari mengakibatkan satu rumah warga rusak

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 1 gunung api status AWAS/Level IV sejak 2 Juni 2015, yaitu G. Sinabung, Sumut;
  2. 1 gunungapi status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung - Bali  sejak 29 Oktober 2017 pukul 16:00 WITA.
  3. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  4. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf tercatat 2 kali erupsi/letusan. Secara visual tinggi kolom abu 2000 m diatas puncak. Terekam 58 kali gempa guguran lava dengan jarak luncur 700-1000 m mengarah ke timur, tenggara dan selatan.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah putih sedang-tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 100-500 m di atas puncak. Seismograf merekam getaran tremor menerus dengan amplitudo 2 - 4 mm (dominan 2 mm)Melalui rekaman seismograf Tanggal 24 Nopember 2017 tercatat:

  • 13 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Tanggal 25 Nopember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 7 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 1 kali Gempa Vulkanik Daalam (VA)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah barat dan baratlaut. Melalui rekaman seismograf terekam Tremor menerus dengan amplitudo 1-10,0 mm (dominan 2 mm). Secara visual teramati 1 kali erupsi dengan kolom abu erupsi tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 500-900 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Angin bertiup ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 24 November 2017 tercatat:

  • 118 kali gempa letusan
  • 100 kali gempa Hembusan
  • 30 kali gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi asap kawah teramati setinggi 25 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 24 Nopember 2017 tercatat:

  • 89 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 8 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 November 2017 Pukul 16:14 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 4460 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.
  2. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 November 2017 Pukul 17:05 WITA, terkait letusan dengan ketinggian abu 3842 m di atas permukaan laut atau 700 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 23 Nopember 2017 pukul 07:43 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2329 m di atas permukaan laut atau 1100 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Dibandingkan  bulan Oktober     2017 , pada bulan November  2017 , gerakan tanah / tanah longsor akan  berpotensi di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian selatan, barat , Nusa Tenggara , tengah  dan utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 

  1. Kabupten Bima, Provinsi  Nusa Tenggara Barat
  2. Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur
  3. Kabupaten Badung, Provinsi Bali
  4. Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan
  5. Kabupaten  Gunungkidul, Provinsi  DI Yogyakarta
  6. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara
  7. Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur
  8. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara
  9. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
  10. Kabupaten  Kebumen, Provinsi  Jawa Tengah
  11. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara,
  12. Kabupaten Deli Serdang,  Provinsi Sumatera Utara
  13. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur
  14. Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur
  15. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur
  16. Kabupaten  Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara
  17. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi D.I. Yogyakarta
  18. Kota Jambi, Provinsi Jambi
  19. Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat
  20. Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta
  21. Kabupaten  Lumajang,  Provinsi Jawa Timur
  22. Kabupaten. Lamongan, Provinsi Jawa Timur
  23. Kabupaten Badung, Provinsi Bali,
  24. Kabupaten Tabanan, Provinsi  Bali.

 

Kejadian Gerakan Tanah terbaru:
1. Kabupaten Bima, Provinsi  Nusa Tenggara Barat
Runtuhan batu dengan diameter 2 meter menimpa rumah milik Bapak Suhardin di RT. 08, Desa Baralau Kecamatan Monta, Kabupaten Bima pada hari Jumat tanggal 24 November 2017 sekitar pukul 02:00 WITA. Akibat kejadian itu, satu orang meninggal dunia, sebuah rumah rusak parah, 2 motor rusak dan 1 traktor rusak. 
Sumber : http://www.metromini.co.id/2017/11/batu-gunung-longsor-hantam-sebuah-rumah.html 
Penyebab runtuhan batu itu terjadi karena lereng yang curam serta boulder bersifat lepas dan mudah tergelincir.
Rekomendasi:

  • Masyarakat sebaiknya waspada mengingat pemukiman tidak jauh dari tebing/bukit tersebut dan mewaspadai potensi runtuhan batu susulan
  • Memasang perangkap batu yang berpotensi meluncir
  • Pemasangan rambu rawan longsor dan runtuhan batu
  • Membuat perkuatan lereng agar longsoran tidak meluas serta menata aliran air permukaan pada lereng tersebut agar air tidak masuk ke area longsoran
  • Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk melindungi luncuran batu.
  • Masyarakat agar tenang dan selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai cirri-ciri daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

2. Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur.
Gerakan tanah / tanah longsor di Jalan Surabaya, RT 20 nomor 01 Kelurahan Gunung Telihan, Kota Bontang  diduga sebagai dampak banjir melanda kota bontang  sejak 20 November 2017 . Saat banjir mulai surut,  pada  Jum'at, 24 November 2017 teras rumah warga atas nama Markus Sampe Panasi yang terletak didekat sungai di tepi jembatan mengalami longsor . Area yang terkena longsor ini sepanjang 10 meter dengan lebar 1,5 meter dan menimbulkan retakan di dinding parit.
Sumber: http://klikbontang.com/berita-14095-longsor-di-telihan-camat-minta-segera-ditangani.html
Penyebab kejadian gerakan tanah diperkirakan akibat rumah dibangun di dekat tebing sungai, perubahan  surut air sungai pasca banjir , perubahan debit sungai akibat curah hujan intensitas tinggi.
Rekomendasi:

  • Warga masyarakat yang perumahannya terkena longsor agar mengungsi ke lokasi yang aman sedangkan masyarakat yang terancam longsor agar selalu waspada mengingat ancaman  longsor susulan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah
  • Segera membangun   penahan erosi sungai
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat


3. Kabupaten Badung, Provinsi Bali 
Gerakan Tanah / Tanah longsor pada Kamis (23/11) Pukul 19:45 Wita, terjadi di Jalan Baha menuju Abiansemal tepatnya di Banjar Busana Kaja. Longsor setinggi 10 meter menutup setengah badan jalan atau sekitar 20 meter
Sumber  : http://www.balipost.com/news/2017/11/24/29206/Badung-Diterjang-Longsor-dan-Pohon...html 

Penyebab diperkirakan akibat kemiringan lereng, batuan dn pelapukan batuan yang labil dan dipicuh curah hujan yang tinggi
Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
  • Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan agar dapat dilalui kembali. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.

 

4. Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan 
Gerakan tanah / tanah longsor melanda permukiman  warga RT 09 RW 03, Kelurahan Dempo Makmur pada Kamis ( 23/11/2017) dini hari. Longsor itu terjadi karena curah hujan yang terus melanda Kota Pagaralam. Sehingga menyebabkan struktur tanah menjadi labil, dan mengalami longsor sepanjang 10 meter dengan ketinggian 8 meter  yang menyebakan satu rumah rusak. Perumahan di daerah ini memang sangat padat dan bersusun seperti tangga, karena dibangun di atas tanah tebing. Jika terjadi longsor dari atas seperti sekarang ini, maka rumah di bawahnya berpotensi akan tertimbun longsor. Saat ini petugas bersama warga memasang dinding penahan tanah yang terbuat dari bambu. Upaya ini dilakukan, agar longsor tidak meluas dan menimpa rumah warga lain yang berada di bawahnya.
Sumber  : http://globalplanet.news/berita/2062/cegah-longsor-meluas-petugas-pasang-bambu
Penyebab kejadian gerakan tanah diperkirakan akibat adanya kemiringan lereng, curah hujan yang terus , struktur tanah menjadi labil,  rumah dibangun diatas tebing
Rekomendasi :

  • Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman. Masyarakat sekitar yang terancam longsor diharapkan selalu waspada akan longsoran susulan dan mengikuti arahan pemerintah daerah / BPBD setempat.
  • Menghindari bermukim pada lereng rawan longsor
  • Segera mengatur drainase air pemukaan dan menghidarkan air bergerak di lereng perumahan
  • Agar melakukan perkuatan lereng 
  • Melakukan monitoring dan segera melaporkan jika ada potensi longsor
  • Segera membersihkan material gerakan tanah dan meningkatkan kewaspadaan terhadap longsoran susulan terutama disaat hujan lebat dengan durasi yang lama.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.