Laporan Kebencanaan Geologi 1 Desember 2017 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Jumat 01 Desember 2017, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November  2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 2000 m di atas puncak condong kearah tenggara, timur, dan timurlaut. Pada malam hari teramati sinar api lava pijar di kawah puncak. Pada hari ini tidak terjadi letusan. Terekam tremor over scale pada pukul 07:49 WITA selama 24 menit.Rekaman seismograf Tanggal 30 Nopember 2017 tercatat

  • 22 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 6 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal
  • Nihil Gempa Letusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-24 mm dominan 1 mm

Tanggal 01 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • Nihil Gempa Vulkanik Daalam (VA)
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.
VONA: Terakhir terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 November 2017 Pukul 06:45 WITA, terkait hembusan abu vulkanik menerus dengan ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan barat. Melalui rekaman seismograf tercatat 3 kali erupsi/letusan dan 93 gempa guguran. Secara visual tinggi kolom abu tidak teramati karena kabut. Teramati guguran lava sejauh 1000-2000 m ke arah timur-tenggara. Erupsi tidak disertai oleh awan panas.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 November 2017 Pukul 14:18 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu tidak teramati karena kabut dan lama letusan 372 detik.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah timur-tenggara. Melalui rekaman seismograf terekam Tremor menerus dengan amplitudo 1-10 mm (dominan 2 mm). Secara visual teramati 5 kali erupsi dengan kolom abu erupsi tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 300-500 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 30 Nopember 2017 pukul 07:37 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Secara visual teramati hembusan asap kawah berwarna putih - kelabu bertekanan lemah - sedang dengan ketinggian 300-600 m diatas puncak. Angin bertiup ke arah utara-selatan. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 30 November 2017 tercatat:

  • 103 kali gempa letusan
  • 88 kali gempa Hembusan
  • 36 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Secara visual dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 30 Nopember 2017 tercatat:

  • 62 kali Gempa Hembusan
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • Nihil Gempa Tornilo

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km dari kawah puncak.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  Desember   2017,  menunjukan peningkatan  potensinya dan semakin meluas  di  seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  peningkatan kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan Tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten Pacitan, Provinsi  Jawa Timur
  2. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
  3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  4. Provinsi  Daerah Istimewa Yogyakarta

Penyebab: Gerakan tanah ini diperkirakan disebabkan oleh jalan dan pemukiman di dekat kemiringan lereng, tingkat pelapukan yang tinggi, erosi sungai, mata air di bawah jalan  serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.
Dampak:

  1. Jalur Ponorogo-Pacitan, Jawa Timur kembali terputus diduga akibat terjadi longsor susulan,
  2. Longsor tebing mengakibatkan jalan kabupaten di Dusun Jeruk Purut, Desa Kaliharjo Kaligesing ambrol dan terputus, warga 4 desa tidak bisa melewati jalur utama menuju kota kecamatan.
  3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa BaratPuluhan jembatan yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat rusak 
  4. Provinsi  Daerah Istimewa Yogyakarta
  5. Jalur kereta api. Jalur di kilometer 156+7/8 antara Maguwoharjo-Prambanan mengalami longsor dan sempat memaksa kereta api antri lantaran hanya bisa melalui satu jalur secara bergantian.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


3. Gempa Bumi
Gempa bumi di Baratdaya Sumba Barat Daya, NTT
Informasi Gempabumi; Gempabumi terjadi pada hari Kamis, 30 November  2017, pukul 15:21:53 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 9,57°LS dan 118.5° BT dengan magnitudo 5.0 pada kedalaman 79 km berjarak 71 km baratdaya Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. 
Penyebab Gempabumi; Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas subduksi lempeng samudera Indo-Australia dan lempeng benua Eurasia pada zona Bennioff.
Dampak gempabumi; Belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan akibat gempabumi ini. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami.
Rekomendasi;

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi terlihat jelas hingga berkabut. Asap kawah berwarna kelabu tebal tekanan sedang mencapai ketinggian sekitar 2000 m di atas puncak condong kearah tenggara, timur, dan timurlaut. Pada malam hari teramati sinar api lava pijar di kawah puncak. Hari ini tidak terjadi letusan. Terekam juga tremor over scale pada pukul 07:49 WITA selama 24 menit.Rekaman seismograf Tanggal 30 Nopember 2017 tercatat:

  • 22 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 6 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • Nihil Gempa Tektonik Lokal
  • Nihil Gempa Letusan- Tremor menerus dengan amplitudo 1-24 mm dominan 1 mm

Tanggal 01 Desember 2017 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • Nihil Gempa Vulkanik Daalam (VA)
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi teramati jelas sebagian namun umumnya tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah-sedang ke arah selatan dan barat. Melalui rekaman seismograf tercatat 3 kali erupsi letusan dan 98 gempa guguran. Secara visual tinggi kolom abu tidak teramati karena puncak tertutup kabut. Teramati guguran lava sejauh 1000-2000 m ke arah tenggara dan tenggara. Erupsi tidak disertai awan panas guguran.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf terekam Tremor menerus dengan amplitudo 1-10 mm (dominan 2 mm). Secara visual teramati 5 kali erupsi dengan kolom abu erupsi tebal berwarna putih keabuan tekanan sedang mengepul menerus mencapai ketinggian 300-500 m di atas puncak. Terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Secara visual teramati hembusan asap kawah berwarna putih kelabu bertekanan lemah - sedang dengan ketinggian 300-600 m diatas puncak. Angin bertiup ke arah utara-selatan. Melalui rekaman seismograf pada Tanggal 30 November 2017 tercatat:

  • 103 kali gempa letusan
  • 88 kali gempa Hembusan
  • 36 kali gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun0 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 30 Nopember 2017 tercatat:

  • 62 kali Gempa Hembusan
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • Nihil Gempa Tornilo

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Agung, Bali.VONA terakhir terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 November 2017 Pukul 06:45 WITA, terkait hembusan abu vulkanik menerus dengan ketinggian abu 5142 m di atas permukaan laut atau 2000 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.
  2. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 November 2017 Pukul 14:18 WIB, terkait  letusan dengan lama letusan 372 detik. Gunung tertutup kabut.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 30 Nopember 2017 pukul 07:37 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1629 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim dengan kode warna YELLOW, terbit tanggal 9 Oktober 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan hembusan asap putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut dan 500 m dari puncak. Angin ke arah barat. Emisi abu belum teramati.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Dibandingkan  bulan November 2017 , pada bulan Desember 2017 , gerakan tanah / tanah longsor  akan  berpotensi meluas di seluruh di wilayah Indonesia mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu ditingkatkan kewaspadaannya  utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai  utamanya wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, Tengah dan Tenggara , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

  1. Kabupaten Pacitan, Provinsi  Jawa Timur,
  2. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
  3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  4. Provinsi  Daerah Istimewa Yogyakarta
  5. Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
  6. Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
  7. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
  8. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat
  9. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat
  10. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat
  11. Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah
  12. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  13. Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
  14. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
  15. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
  16. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah
  17. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat
  18. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur,
  19. Kabupaten  Wonogiri, Jawa Tengah
  20. Kabupaten  Lebak, Provinsi Banten
  21. Kabupaten. Kulon Progo, DI Yogyakarta
  22. Kota Sungaipenuh, Provinsi Jambi,
  23. Kabupaten Agam, Sumatera Barat,
  24. Kota Yogyakarta, DIY,
  25. Kabupaten Jember,  Provinsi  Jawa Timur,
  26. Kabupaten Tuban, Provinsi Jatim
  27. Kabupaten Painan, Provinsi Sumatera Barat
  28. Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat,
  29. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara,
  30. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah,
  31. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan
  32. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat,
  33. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara,
  34. Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung,
  35. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur,
  36. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur
  37. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah,
  38. Kota Padang, Sumatera Barat,
  39. Kabupaten Solok, Sumatera Barat 
  40. Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta
  41. Kabupaten Tuban, Provinsi  Jawa Timur,
  42. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
  43. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.


II. Detail :
1. Kabupaten Pacitan, Provinsi  Jawa Timur
Jalur Ponorogo-Pacitan, Jawa Timur kembali terputus diduga akibat terjadi longsor susulan, Kamis (30/11). Pada kemarin malam, jalur tersebut sempat dibuka usai normalisasi menggunakan alat berat.   Longsor susulan kembali terjadi di titik perbatasan di Kecamatan Slahung, Ponorogo . Selain jalur utama dari Pacitan menuju Ponorogo dan Madiun, akses menuju Trenggalek melalui jalur lintas selatan (JLS) juga tertutup longsor.
Jalur Ponorogo-Pacitan terputus setelah hujan deras mengakibatkan bencana tanah longsor di Desa Wates, sekitar 500 meter sebelum perbatasan Ponorogo-Pacitan, Senin. 
Tanah tebing milik Perum Perhutani sepanjang sekitar 40 meter dengan ketinggian sekitar 15 meter longsor menutup badan jalan. Mengakibatkan Lumpuhnya jalur tersebut 
Sumber  : https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171130103558-20-259154/longsor-susulan-jalur-ponorogo-pacitan-kembali-putus/
Penyebab gerakan tanah adalah kemiringan lereng yang terjal dan pelapukan batuan serta dipicu oleh curah hujan tinggi dengan durasi lama. Sedangkan tipe gerakan tanah adalah longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
  • Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan agar dapat dilalui kembali. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.


2. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
Longsor tebing di Dusun Jeruk Purut, Desa Kaliharjo, Kecamatan Kaligesing.  kabupaten di Kecamatan Kaligesing, Purworejo menyebabkan jalan ambrol dan terputus berdasarkan informasi tanggal 30 /11/2017. Akibatnya warga 4 desa tidak bisa melewati jalur utama menuju kota kecamatan. Longsor terjadi Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun akses warga di beberapa desa yang dihubungkan jalan itu ikut terputus.
Adapun beberapa desa yang terputus aksesnya antara lain Desa Somongari, Hulosobo, Jatirejo dan Kaliharjo. Warga dari keempat desa itu kini tidak bisa melewati jalur utama satu-satunya menuju kota.
Jalan kabupaten yang terputus total itu sepanjang 25 meter dengan lebar 6 meter dan kedalaman 4 meter. Titik mata air yang mengalir di bawah tanah menyebabkan butiran-butiran tanah hanyut sehingga menyebabkan tanah mudah longsor dan ambles.
Sumber  : https://news.detik.com/jawatengah/3749937/jalan-ambrol-karena-longsor-akses-4-desa-di-purworejo-terputus
Penyebab gerakan tanah adalah bagian bawah jalan mengalir mata air  dan pelapukan batuan serta dipicu oleh curah hujan tinggi dengan durasi lama. Sedangkan tipe gerakan tanah adalah longsoran tanah 
Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
  • Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan agar dapat dilalui kembali. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas kebersihan;
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.

 

3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
Puluhan jembatan yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat rusak akibat diterjang bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor. Jembatan yang rusak tersebut baik penghubung antarkampung, antardesa hingga ada juga yang antarkecamatan. Adapun jembatan yang rusak tersebut tersebar beberapa kecamatan, seperti Kadudampit, Parungkuda, Bojonggenteng, Kabandungan, Warungkiara, Bantargadung, Cisolok, Jampang Tengah, Nyalindung, Cibitung, Tegakbuleud, Sagaranten, dan Curugkembar.
Sumber  : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/11/30/p07v6c383-puluhan-jembatan-di-sukabumi-rusak-diterjang-banjir-longsor

Penyebab gerakan tanah dan banjir yang mengakibatkan jembatan rusak adalah debit air sungai yang tinggi, kemiringan lereng yang terjal, erosi sungai dan pelapukan batuan serta dipicu oleh curah hujan tinggi dengan durasi lama. Sedangkan tipe gerakan tanah adalah longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada, terutama pada waktu dan setelah hujan;
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.

 

4. Provinsi  Daerah Istimewa Yogyakarta
Dampak cuaca ekstrim di wilayah DIY dan sekitarnya sejak Selasa (28/11/2017) kemarin ternyata juga berdampak pada jalur kereta api. Jalur di kilometer 156+7/8 antara Maguwoharjo-Brambanan mengalami longsor dan sempat memaksa kereta api antri lantaran hanya bisa melalui satu jalur secara bergantian. Perbaikan bisa diselesaikan pukul 00.25 WIB Rabu (29/11/2017).
Sumber : http://krjogja.com/web/news/read/50959/Sempat_Longsor_Jalur_KA_Maguwo_Prambanan_Normal_Lagi
Penyebab gerakan tanah adalah kemiringan lereng dan pelapukan batuan dan material timbunan yang mudah tererosi serta dipicu oleh curah hujan tinggi dengan durasi lama. Sedangkan tipe gerakan tanah adalah longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi :

  • Menata drainase air pemukaan agar air tidak meresap kedalam tanah.
  • Agar melakukan penguatatan lereng.
  • Melakukan monitoring dan segera melaporkan jika ada potensi longsor
  • Segera membersihkan material gerakan tanah dan meningkatkan kewaspadaan terhadap longsoran susulan terutama disaat hujan lebat dengan durasi yang lama.
  • Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah atau  BPBD setempat.