Laporan Kebencanaan Geologi 13 Januari 2018 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Sabtu 13 Januari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 WITA status G. Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas). Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan asap putih-kelabu intensitas tipis-sedang tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 500 m di atas puncak condong ke arah Timur.  Pada malam hari tidak teramati sinar api dari puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 12 Januari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 2 kali Gempa Low-Frekuensi (LF)
  • 8 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 13 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB))
  • 7 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yg paling aktual/terbaru.

VONA: Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Januari 2018 Pukul 18:10 WITA, terkait erupsi dengan abu vulkanik mencapai ketinggian abu 5642 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Utara dan Timurlaut.

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). Sinabung (2460 m dpl) dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap dari arah kawah setinggi 50-250 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 12 Januari 2018 tercatat 5 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 1000-1800 m di atas puncak, 3 kali awan panas guguran dengan jarak luncur 2000-2500 m mengarah ke timur dan tenggara dan 103 kali gempa guguran dengan jarak luncur 500-1500 m ke arah selatan, tenggara dan timur.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Januari 2018 Pukul 12:07 WIB, terkait erupsi dengan abu vulkanik mencapai ketinggian 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak condong ke Selatan.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap kawah putih dan kelabu tebal tekanan sedang 700-800 m. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 12 Januari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-10 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan 3 kali.
  • Gempa Vulkanik Dalam (VA) nihil.
  • Gempa Tektonik Lokal (TL) nihil.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Januari 2018 pukul 18:25 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Barat.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Teramati asap disertai abu berwarna putih-kelabu mencapai ketinggian 300-500 m dari puncak. Angin bertiup ke arah Selatan dan Timur. Dari tanggal 02-13 Januari 2018 rekorder seismograf mengalami gangguan dan masih dalam tahap perbaikan. 
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi berkabut. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 12 Januari 2018 tercatat:

  • 11 kali Gempa Hembusan
  • Nihil Gempa Fase Banyak
  • 2 kali Gempa Low-Frekuensi
  • 1 kali Gempa Tremor Non-Harmonik
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Desember  2017 yang dibandingkan bulan  Januari 2018,  walaupun tetap tinggi potensinya namun  sedikit mengalami penurunanan potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah
  2. Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan
  3. Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur
  4. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali
  5. Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau
  6. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
  7. Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara
  8. Kota Malang , Provinsi Jawa Timur
  9. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat  kemiringan lereng terjal, pemotongan jalan yang tidak menggunakan kaidah teknik yang benar , Penambangan yang kurang mempertimbangkan kaidah geologi teknik,  tanah pelapukan yang bersifat porus dan labil ,  erosi sungai, drainase air tidak berfungsi / tidak ada,serta dipicuh oleh curah hujan tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan.
Dampak: Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan   jalan tertutup longsor dan lalu lintas terhambat, di Kota Salatiga (Provinsi Jawa Tengah), di  Kabupaten Gowa (Provinsi Sulawesi Selatan) Kabupaten Bangli (Provinsi Bali), di Kabupaten Kepulauan Anambas (Provinsi Kepulauan Riau) , dan Kabupaten Kuningan ( Provinsi Jawa Barat)  ; kerugian puluhan juta longsor tambang bawah tanah di Kabupaten Tuban (Provinsi Jawa Timur); 2 orang luka di penambangan pasir di Kabupaten Blitar (Provinsi Jawa timur);  2 orang luka di Kabupaten Toba Samosir (Provinsi Sumatera Utara); satu rumah rusak dan 5 rumah lainnya terancam longsor  Kota Malang  (Provinsi Jawa Timur)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan sejak tanggal 20 Oktober 2017 dengan asap dari bibir kawah hingga setinggi 50-500. Sejak 20 Oktober 2017 kegempaan yang terekam oleh seismograf terus menurun jumlahnya, terutama jenis gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan gempa Tektonik Lokal (TL). Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung juga mengindikasikan penurunan dan mengalami percepatan yang semakin lambat dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2017 menunjukkan aktivitas hembusan gas di dalam kawah relatif menurun intensitasnya dibanding hasil pemantauan pada 20 Oktober 2017. Pemantauan termal dengan menggunakan citra satelit Sentinel-2, Intesitas anomali termal pada bulan Oktober 2017 cenderung menurun dibanding dengan bulan September 2017. Citra Satelit ASTER TIR juga mengindikasikan adanya penurunan luas area panas di dalam Kawah Gunung Agung. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 29 Oktober 2017 pukul 16.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Sehubungan dengan peningkatan kembali aktivitas vulkanik G. Agung secara signifikan secara visual maupun instrumental, maka pada 27 November 2017 pukul 06:00 WITA tingkat aktivitasnya dinaikkan kembali dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV).Dari kemarin hingga hari ini secara visual umumnya gunungapi tertutup kabut. Hembusan asap putih-kelabu intensitas tipis-sedang tekanan lemah mencapai ketinggian sekitar 500 m di atas puncak condong ke arah Timur.  Pada malam hari tidak teramati sinar api dari puncak G. Agung. Rekaman seismograf tanggal 12 Januari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 2 kali Gempa Low-Frekuensi (LF)
  • 8 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm).

Tanggal 13 Januari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 7 kali Gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo 1-3 mm (dominan 1 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi sering tertutup kabut, saat cuaca cerah teramati asap dari arah kawah setinggi 50-250 m diatas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 12 Januari 2018 tercatat 5 kali erupsi/letusan dengan tinggi kolom abu 1000-1800 m di atas puncak, 3 kali awan panas guguran dengan jarak luncur 2000-2500 m mengarah ke timur dan tenggara dan 103 kali gempa guguran dengan jarak luncur 500-1500 m ke arah selatan, tenggara dan timur.
Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 13 November 2017 pukul 07:21 WIB dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,68 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah  besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati tinggi asap kawah putih dan kelabu tebal tekanan sedang 700-800 m. Angin bertiup lemah ke arah barat. Melalui seismograf tanggal 12 Januari 2018 tercatat:

  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-10 mm (dominan 2 mm).
  • Gempa Letusan 3 kali
  • Gempa Vulkanik Dalam (VA) nihil.
  • Gempa Tektonik Lokal (TL) nihil.

Tidak terdengar bunyi gemuruh lemah di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung umumnya tampak tertutup kabut. Teramati asap disertai abu berwarna putih-kelabu mencapai ketinggian 300-500 m dari puncak. Angin bertiup ke arah Selatan dan Timur. Dari tanggal 02-13 Januari 2018 rekorder seismograf mengalami gangguan dan masih dalam tahap perbaikan. 
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi berkabut. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur. Melalui rekaman seismograf pada 12 Januari 2018 tercatat:

  • 11 kali Gempa Hembusan
  • Nihil Gempa Fase Banyak
  • 2 kali Gempa Low-Frekuensi
  • 1 kali Gempa Tremor Non-Harmonik
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub
  • BMKG
  • Air Nav
  • Air Traffic Control
  • Airlines
  • VAAC Darwin
  • VAAC Tokyo
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Agung, Bali.Terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Januari 2018 Pukul 18:10 WITA, terkait erupsi dengan abu vulkanik mencapai ketinggian abu 5642 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Utara dan Timurlaut
  2. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Januari 2018 Pukul 12:07 WIB, terkait erupsi dengan abu vulkanik mencapai ketinggian 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak condong ke Selatan.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Januari 2018 pukul 18:25 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah Barat.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Dibandingkan  bulan Desember    2017 , pada bulan Januari   2018 , gerakan tanah / tanah longsor    akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  walaupun mengalami  sedikit  penurunan di bandingkan  Desember 2017 , mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah perbukitan, pegunungan,  wilayah jalur jalan dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian Gerakan Tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

  1. Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah
  2. Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan
  3. Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur
  4. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali
  5. Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau
  6. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
  7. Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara
  8. Kota Malang , Provinsi Jawa Timur
  9. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
  10. Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara
  11. Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu
  12. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
  13. Kota Parepare, Sulawesi Selatan
  14. Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusatenggara Barat
  15. Kabupaten Trenggalek, Provinsi JawaTimur
  16. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  17. Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat
  18. Kabupaten Pacitan, Provinsi JawaTimur
  19. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
  20. Kota Batu (Malang ), Provinsi Jawa Timur
  21. Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo
  22. Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur
  23. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah
  24. Kabupaten  Sragen, Provinsi Jawa Tengah
  25. Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali
  26. Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi  Sulawesi Barat
  27. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (Pali), Provinsi Sumatera Selatan
  28. Kabupaten Bangka Barat,  Provinsi Bangka Belitung
  29. Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali
  30. Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan
  31. Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali
  32. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
  33. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur
  34. Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan
  35. Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
  36. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  37. Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  38. Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur
  39. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur.

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah
Gerakan tanah terjadi pada  tebing yang longsor tinggi sekitar 25 meter dan panjang sekitar 30 meter. Sedangkan untuk kemiringan sekitar 80 derajat di Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah. Gerakan tanah terjadi pada hari Jumat, 12 Januari 2018 terjadi pukul 04.00-05.00 WIB. Gerakan tanah mengakibatkan jalur jalan nasional jalan lingkar tertutup material longsor.
Sumber berita: http://www.solopos.com/2018/01/12/bencana-jateng-duh-tebing-jls-kota-salatiga-longsor-884308?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter; https://news.detik.com/jawatengah/3811235/tebing-longsor-di-lingkar-salatiga-arus-lalin-dari-solo-dialihkan
Jenis gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat lereng yang terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, dan dipicuh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. 

2. Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan
Gerakan tanah terjadi di jalan penghubung utama Desa Bilanrengi ke Desa Sicini, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, pada hari Jumat, 12 Januari 2018 sekitar pukul 05:00 WITA. penyebab tanah longsor akibat curah hujan yang cukup tinggi sejak malam hingga pagi . Jalanan yang tertutup material longsoran sekitar 40 meter yang merupakan akses utama jalan poros desa dan  longsor susulan masih terjadi . Gerakan tanah mengakibatkan jalan penghubung antar desa tertutup material longsoran. Warga sekitar agar hati tetap siaga. Sebab jarak titik longsor dengan pemukiman warga hanya 150 meter
Sumber berita: http://rakyatsulsel.com/longsor-di-desa-bilanrengi-bpbd-gowa-ingatkan-masyarakat-hati-hati-cuaca-ekstrim.html; dan http://news.rakyatku.com/read/82070/2018/01/12/longsor-di-gowa-tutup-jalan-antar-desa-bilanrengi-sicini
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, saluran drainase yang kurang baik, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

3.Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur
Gerakan tanah terjadi di area tambang batu kapur bawah tanah di Desa Leran Wetan, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban pada hari Jumat, 12 Januari 2018. Longsor dengan skala besar itu sejak dini hari tadi sudah terdapat longsor kecil di dalam area tambang di bawah tanah itu. Pada jam tiga dini hari sudah ada tiangnya yang ambruk. Beruntung setiap hari Jumat para pekerja tambang itu libur dan tidak melakukan aktivitas penambangan di bawah galian dengan kedalaman puluhan meter itu. Dampak gerakan tanah mengakibatkan kerugian puluhan juta.
Sumber berita: http://m.inilah.com/news/detail/2430144/tambang-batu-kapur-di-tuban-longsor
Jenis gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran batu. Factor penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat kemiringan lereng yang terjal dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

4.Kabupaten Bangli, Provinsi Bali  

Hujan lebat disertai angin kencang mengakibatkan terjadinya tanah longsor di jalur Dusun Gebagan menuju Dusun Pucangan di Desa Kayubihi, Bangli pada  Kamis (11/1) sekitar pukul 13.00 Wita. Badan jalan pun tertutup material longsoran yang membuat warga di dua dusun tersebut tidak bisa melintas selama tiga jam. Bagi warga di dua dusun tersebut yang akan melakukan aktivitas ke luar dusun, harus memutar melalui jalur Palak Tiying.  Sumber : http://www.balipost.com/news/2018/01/12/34254/Longsor,Jalur-Gebagan-Pucangan-Tertutup.html
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat Lereng yang terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, kurang berfungsinya drainase/saluran air dan dipicuh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.  Jenis gerakan tanah diperkirakan adalah Longsoran tanah .

5. Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau
Akibat curah hujan yang tinggi, satu unit rumah di Desa Mampok, Kecamatan Jemaja , (Pulau Jemaja), Kabupaten Kepulauan Anambas, tertimbun tanah longsor, Jumat (12/1/2017). Tanah longsor ini terjadi pada pukul 06:00 WIB. Ini terjadi karena Pulau Jemaja dilanda hujan lebat selama 10 jam. Tanah longsor juga menutup akses jalan penghubung Kecamatan Jemaja dan Kecamatan Jemaja Timur 

Sumber  : http://batamtoday.com/home/read/103964/Tanah-Longsor-Timbun-Rumah-Warga-di-Desa-Mampok-Anambas
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat Lereng yang terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, dan dipicuh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.  Jenis gerakan tanah diperkirakan adalah Longsoran tanah .

6. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa timur
Gerakan tanah / tanah longsor pada tebing setinggi 7 meter  di lokasi penambangan pasir Kaliputih aliran sungai lahar Gunung Kelud  di Dusun Kaliputih, Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, pada Jumat (12/1/2018). Akibatnya dua penambang tertimbun dan berhahasil diselamatkan kedua nyawa penambang pasir tersebut berhasil diselamatkan.
Sumber  : https://faktualnews.co/2018/01/12/berhasil-selamat-dua-penambang-pasir-asal-kediri-tertimbun-longsor-blitar/55875/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat Lereng yang terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, kurang berfungsinya drainase/saluran air dan dipicuh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.  Jenis gerakan tanah diperkirakan adalah Longsoran tanah .

7. Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara
Dua orang selamat dari timbunan tanah longsor saat perbaikan saluran irigasi di Desa Matio, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Somosir pada Jumat pagi (12/1/2018) . Perbaikan saluran irigasi yang rusak  karena terkena bencana alam.
Sumber : http://matatelinga.com/Berita-Sumut/Dua-Orang-Selamat-Dari-Timbunan-Tanah-Longsor-di-Balige--Tobasa
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, kurang berfungsinya drainase/saluran air dan dipicuh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.  Jenis gerakan tanah diperkirakan adalah Longsoran tanah .

8. Kota Malang , Provinsi Jawa Timur
Tanah longsor pada plengsengan di Perumahan Maharaja Gallery, Kedung Kandang, Kota Malang pada  Kamis (11/1/2018) kemarin, yang berdampak pada terganggunya aktivitas warga. Selain hujan deras yang mengguyur kawasan itu dalam beberapa hari terakhir, faktor lain penyebab longsor adalah adanya material yang menutupi aliran sungai. Alhasil, sungai mengalami penyempitan dan menggerus tanah sepanjang kurang lebih 50 meter dan tinggi kurang lebih 12 meter, sehingga terjadi longsor. Akibat material longsoran yang menutupi aliran, membuat dapur rumah milik Nasir warga Jalan Muharto Gg. 5B juga ikut roboh dan  5 rumah lain  berpotensi terancam longsor susulan. 
Sumber :  https://malangvoice.com/longsor-di-muharto-ancam-5-rumah-16-jiwa-mengungsi/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat lereng yang terjal, minimnya pepohonan penahan lereng, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, erosi sungai, tidak adanya bangunan penahan erosi sungai, dan dipicuh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.  Jenis gerakan tanah diperkirakan adalah Longsoran tanah .

9. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
Hujan deras yang terjadi selama tiga jam di kawasan Desa Cilebak, Kabupaten Kuningan mengakibatkan tebing setinggi 20 meter longsor, pada Kamis, 11 Januari 2018. Material longsoran itu menutupi jalan desa dan jalan utama penghubung antar kecamatan. Akibatnya, akses warga yang biasa menggunakan jalan tersebut lumpuh total
Sumber : http://www.inews.id/daerah/jabar/tebing-setinggi-20-meter-di-kuningan-longsor-akibat-hujan-deras

Rekomendasi :

  • Warga yang terdampak gerakan tanah agar sementara mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada arahan lebih lanjut dari pemerintah setempat.
  • Meningkatkan kewaspadaan bagi warga di sekitar lokasi gerakan tanah yang juga berada di dekat bukit berlereng terjal terutama saat hujan deras turun dalam waktu lama.
  • Masyarakat yang beraktivitas dan melintas di jalan tersebut agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama.
  • Segera memperbaiki jalan dan menata saluran drainase dengan konstruksi yang kedap air agar akses warga kembali pulih.
  • Waspada saat melakukan perbaikan pada saluran irigasi, jalan yang longsor saat terjadinya hujan.
  • Membuat dinding penahan erosi pada bagian bawah jalan agar badan jalan tidak mudah tererosi dan kestabilan lereng meningkat.
  • Segera memberi dinding penahan erosi pada tebing sungai agar tidak mudah tererosi.
  • Menghindari aktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah hingga ada perkuata pada lereng dan dinyatakan aman oleh pemerintah setempat.
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.