Laporan Kebencanaan Geologi 14 Februari 2018 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Rabu 14 Februari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah dapat teramati setinggi 500 m di atas puncak. Terekam 7 kali guguran lava. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan. Melalui rekaman seismograf pada 13 Februari 2018 tercatat:

  • 7 kali Gempa Guguran
  • 6 kali Gempa Low-Frequency
  • 3 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali Gempa Tektonik Lokal

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Februari 2018 pukul 14:59 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 14:48 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke Selatan.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Teramati 1 kali letusan berwarna kelabu tebal setinggi 1500 m di atas puncak. Angin bertiup ke arah ke Timur. Rekaman seismograf tanggal 13 Februari 2018 tercatat:- 1 kali Gempa Letusan- 3 kali Gempa Hembusan- 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)- 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
Tanggal 14 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati.  Asap kawah teramati berwarna putih kelabu tebal dengan ketinggian 100-200 m di atas puncak condong ke Timur. Melalui seismograf tanggal 13 Februari 2018 tercatat:Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-18 mm (dominan 2 mm).
Tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 9 Februari 2018 pukul 08:04 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1329 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah Tenggara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung dapat teramati hingga tertutup kabut. Saat jelas, asap kawah berwarna putih dan kelabu teramati setinggi 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah Selatan dan Barat. Melalui seismograf tanggal 13 Februari 2018 tercatat:

  • 60 kali Gempa Letusan
  • 54 kali Gempa Hembusan
  • 20 kali Gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tertutup Kabut. Tidak teramati asap kawah karena tertutup kabut. Melalui rekaman seismograf pada 13 Februari 2018 tercatat:

  • 22 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali Gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018, realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wiilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten  Magelang, Provinsi Jawa Tengah
  2. Kabupaten  Kebumen, Provinsi Jawa Tengah
  3. Kabupaten  Kulonprogo, Provinsi D.I.Yogyakarta
  4. Kabupaten  Pasuruan, Provinsi Jawa Timur

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan  akibat kelerengan, tanah lapukan/ tanah urugan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap  air dan tanah pelapukan yang mudah tererosi, kurang berfungsinya drainase/saluran air menyebabkan air melimpas pada tebing di dekat pemukiman dan jalur jalan, serta di picu  oleh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah
Dampak: Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan   lalu lintas alternatif terganggu dan 150 orang warga Kecamatan Borobudur dan Kecamatan Salaman mengungsi. di Kabupaten  Magelang (Provinsi Jawa Tengah); lalu lintas terganggu di  Kabupaten  Kebumen (Provinsi Jawa Tengah) dan di  Kabupaten  Pasuruan (Provinsi Jawa) Timur ; satu keluarga diungsikan di  Kabupaten  Kulonprogo  (Provinsi D.I.Yogyakarta)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Laporan Harian TIm Tanggap Darurat PVMBG -Badan Geologi Gempa bumi Pidie
Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 8 Februari 2018, pukul 16.52.47 WIB. Berdasarkan informasi BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 4,66 LU dan 96,27 BT, dengan magnitudo 5,3 SR pada kedalaman 10 km, berlokasi di darat pada jarak 26 km timur laut kabupaten Aceh Barat. Berikut hasil pemeriksaan Tim Tanggap Darurat di lapangan pada 13 Februari 2018.

  1. Tim Tanggap Darurat PVMBG-BG menyerahkan peta KRB Gempa bumi daerah Aceh ke Camat Geumpang yg diwakili oleh Sekretaris Camat.
  2. Melanjutkan pemeriksaan dampak gempa bumi di Gampoung Pucok, Pulolhoih, SMP N 1 Geumpang dan di Kecamatan Mane.
  3. Melakukan pengukuran mikrotremor di Kec.Mane, Gampoung Pucok dan Pulolhoih.
  4. Melakukan sosialisasi secara langsung kepada masyarakat, guru SMP 1 Geumpang, guru SMP 1 Mane.
  5. Mengidentifikasi beberapa lokasi gerakan tanah di jalan antara Kecamatan Geumpang dan Mane.
  6. Besok Tim Tanggap Darurat PVMBG - BG akan ke BPBD Pidie untuk diskusi dampak dan melakukan wawancara dengan beberapa media massa perwakilan Sigli.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 2 gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung sejak 2 Juni 2015, Sumut; serta G. Agung sejak 27 November 2017.
  2. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  3. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah dapat teramati setinggi 500 m di atas puncak. Terekam 7 kali guguran lava. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan. Melalui rekaman seismograf pada 13 Februari 2018 tercatat:

  • 7 kali Gempa Guguran
  • 6 kali Gempa Low-Frequency
  • 3 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali Gempa Tektonik Lokal

Hasil pengukuran volume kubah lava yang dilakukan terakhir kali pada tanggal 3 Januari 2018 dan yang berpotensi menjadi awan panas guguran dan guguran lava adalah sekitar 1,60 juta m3.
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Teramati 1 kali letusan berwarna kelabu tebal setinggi 1500 m di atas puncak. Angin bertiup ke arah ke Timur. Rekaman seismograf tanggal 13 Februari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

Tanggal 14 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya di sekitar kawah puncak dan sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati.  Asap kawah teramati berwarna putih kelabu tebal dengan ketinggian 100-200 m di atas puncak condong ke Timur. Melalui seismograf tanggal 13 Februari 2018 tercatat:Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-18 mm (dominan 2 mm).
Tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunung dapat teramati hingga tertutup kabut. Saat jelas, asap kawah berwarna putih dan kelabu teramati setinggi 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup pelan hingga sedang ke arah Selatan dan Barat. Melalui seismograf tanggal 13 Februari 2018 tercatat:

  • 60 kali Gempa Letusan
  • 54 kali Gempa Hembusan
  • 20 kali Gempa Tremor Harmonik.  

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi tertutup Kabut. Tidak teramati asap kawah karena tertutup kabut. Melalui rekaman seismograf pada 13 Februari 2018 tercatat:

  • 22 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali Gempa Tektonik Lokal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,- BMKG, 
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll


VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Februari 2018 pukul 14:59 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 14:48 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke Selatan.
  2. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.Terakhir tercatat kode warna ORANGE, terbit tanggal 9 Februari 2018 pukul 08:04 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1329 m di atas permukaan laut atau 100 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah Tenggara.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wulayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

  1. Kabupaten  Magelang, Provinsi Jawa Tengah
  2. Kabupaten  Kebumen, Provinsi Jawa Tengah
  3. Kabupaten  Kulonprogo, Provinsi D.I.Yogyakarta
  4. Kabupaten  Pasuruan, Provinsi Jawa Timur
  5. Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah
  6. Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur
  7. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
  8. Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
  9. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
  10. Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah
  11. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  12. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur
  13. Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat
  14. Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara
  15. Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan
  16. Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan
  17. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  18. Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur
  19. Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah
  20. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
  21. Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan
  22. Kabupaten Gunung Mas,  Provinsi Kalimantan Tengah
  23. Kabupaten. Mojokerto, Provinsi Jawa Timur
  24. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  25. Kabupaten  Banyumas,  Provinsi Jawa Tengah
  26. Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
  27. Kabupaten Sragen, Provinsi  Jawa Tengah
  28. Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah
  29. Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara
  30. Kabupaten Jember , Provinsi Jawa Timur
  31. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara
  32. Kabupaten Kampar, Provinsi Riau
  33. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah
  34. Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
  35. Kabupaten Jepara, Provinsi  Jawa Tengah
  36. Kabupaten Brebes, Provinsi  Jawa Tengah
  37. Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  38. Kabupaten Minahasa Selatan , Provinsi Sulawesi Utara
  39. Kota Menado, Provinsi Sulawesi Utara
  40. Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1. Kabupaten  Magelang, Provinsi Jawa Tengah
Longsor terjadi di Dusun Selorejo, Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kab. Magelang, pada Minggu (11/2) malam. Mengakibatkan terputusnya jalur alternatif wisata penghubung Candi Borobudur di Kecamatan Borobudur dan Museum Marmer di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. 50 orang warga Kecamatan Borobudur dan Kecamatan Salaman yang juga mengungsi.
Sumber: https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3864225/jalur-alternatif-wisata-borobudur-salaman-putus-akibat-longsor
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

 

2. Kabupaten  Kebumen, Provinsi Jawa Tengah

 Longsor terjadi di Dukuh Selorondo, Desa Langse, Kecamatan Karangsambung pada Selasa (13/2/2018) dini hari. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut mengakibatkan tebing setinggi sekitar 25 meter ambrol dan menutup akses jalan Kecamatan Karangsambung menuju Kecamatan Sadang.
Sumber: https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3864156/longsor-tutup-jalan-antar-kecamatan-di-kebumen
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

 

3. Kabupaten  Kulonprogo, Provinsi D.I.Yogyakarta
Longsor terjadi di di Pedukuhan Menggermalang, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, Minggu (11/2) pukul pukul 19.45. Senin dinihari (12/2) pukul 01.30 longsor susulan terjadi. Bangket jalan sisi barat rumah amblas dan longsor, menghantam samping dan belakang rumah. Satu keluarga harus diungsikan karena rumahnya terkena terjangan longsor.
Sumber: https://www.radarjogja.co.id/diguyur-hujan-tebing-menggermalang-longsor/

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

 

4. Kabupaten  Pasuruan, Provinsi Jawa Timur
Longsor di Jalan Raya Purwodadi – Nongkojajar, Dusun Mesagi Kecamatan Tutur, Selasa (13/2/2018) dinihari. Longsor menggerus hamper sebagian lebar jalan raya.  
Sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2018/02/13/waspada-jalur-bromo-via-nongkojajar-ada-yang-longsor-pengguna-jalan-harus-waspada

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.
Rekomendasi 

  • Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan;
  • Bagi yang bermukim dekat dengan tebing atau lereng yang terjal agar meningkatkan kewaspadaannya terutama saat terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama;
  • Segera membersihkan material longsoran yang menutup badan jalan dengan mengutamakan faktor keselamatan karena masih berpotensi gerakan tanah susulan;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut;
  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah;
  • Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;
  • Tidak membangun pemukiman di dekat  tebing / lereng;
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi yang mengikuti kaidah – kaidah geologi teknik;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.