Laporan Kebencanaan Geologi, 5 Juni 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Selasa 5 Juni 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 100-300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat, tenggara, dan timur.

Melalui rekaman seismograf pada 4 Juni 2018 tercatat :

  • 27 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi : 

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA : 

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 200 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat.

Rekaman seismograf tanggal 4 Juni 2018 tercatat :

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 5 Juni 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA :

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Mei 2018 pukul 07:07 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat daya.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis-tebal dengan ketinggian 800-1000 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat, timur, dan timurlaut.

Melalui rekaman seismograf pada 4 Juni 2018 tercatat :

  • 3 kali gempa Guguran
  • 11 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali gempa Fase Banyak

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA : 

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi  3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tebal dengan ketinggian 100-200 m di atas puncak. Letusan teramati dengan tinggi 200 m di atas puncak dengan warna asap putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah timur.

Melalui seismograf tanggal 4 Juni 2018 tercatat :

  • 1 kali gempa Letusan
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-20 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi :

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA : 

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 4 Juni 2018 pukul 10:18 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1429 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara.

Melalui seismograf tanggal 4 Juni 2018 tercatat :

  • 41 kali gempa Letusan
  • 112 kali gempa Hembusan
  • 36 kali gempa Guguran

Rekomendasi :

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA : 

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Untuk Gunungapi status Normal : Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juni 2018 yang dibandingkan bulan Mei 2018, umumnya potensinya cenderung menurun di sebagian besar wilayah Indonesia kecuali di wilayah Sulawesi dan Maluku. Kewaspadaan tetap terhadap potensi kejadian gerakan tanah masih berpeluang  utamanya di wilayah jawa mengingat pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara
  2. Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur
  3. Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau 

Penyebab :

Penyebab gerakan tanah diperkirakan lereng yang curam,adanya penambangan tradisional yang belum mengikuti aturan sistem penambangan yang benar ,tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air,tidak adanya sistem drainase/saluran air di area penambangan serta dipicu curah hujan yang tinggi

Dampak :

Gerakan tanah /tanah longsor mengakibatkan 5 orang penambang meninggal dan 1 penambang masih dalam pencarian pada kawasan pertambangan di Kabupaten Bolaang Mongondow (Provinsi Sulawesi Utara); beberapa makam rusak di Kota Samarind (Provinsi Kalimantar Timur); 1 rumah dan 2 bangunan gudang rusak terseret air sungai Indragiri dan  4 rumah/KK (yang terdiri dari 8 jiwa) rusak terseret sungai Tanjung Baru di Kabupaten Indragiri Hilir (Provinsi Riau)

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.

Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung  (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung  (Bali) sejak 10 Februari 2018
  3. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api);
  4. Sisanya 48 gunung api :  Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 100-300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat, tenggara, dan timur.

Melalui rekaman seismograf pada 4 Juni 2018 tercatat :

  • 27 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA dengan ketinggian kolom abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali berfluktuasi dalam tingkatan rendah. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaan secara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 200 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat.

Rekaman seismograf tanggal 4 Juni 2018 tercatat :

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 5 Juni 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis-tebal dengan ketinggian 800-1000 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat, timur, dan timurlaut.

Melalui rekaman seismograf pada 4 Juni 2018 tercatat :

  • 3 kali gempa Guguran
  • 11 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali gempa Fase Banyak

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tebal dengan ketinggian 100-200 m di atas puncak. Letusan teramati dengan tinggi 200 m di atas puncak dengan warna asap putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah timur.

Melalui seismograf tanggal 4 Juni 2018 tercatat :

  • 1 kali gempa Letusan
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-20 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara.

Melalui seismograf tanggal 4 Juni 2018 tercatat :

  • 41 kali gempa Letusan
  • 112 kali gempa Hembusan
  • 36 kali gempa Guguran

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional :

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.


2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juni 2018 yang dibandingkan bulan Mei 2018 akan cenderung menurun potensinya di sebagian besar wilayah indonesia mulai dari sebagian pulau Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua yang masih relatif tinggi. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali, Kalimantan bagian Barat, Selatan, Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat, Utara, dan Tengah, Nusa Tenggara, Selatan dan Tengah, Maluku , dan wilayah Papua. 

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 

  1. Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara,
  2. Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur,
  3. Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau,
  4. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan,
  5. Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara,
  6. Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara,
  7. Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau,
  8. Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur,
  9. Kota Ambon, Provinsi Maluku,
  10. Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah,
  11. Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo,
  12. Kota Ambon, Provinsi Maluku,
  13. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat,
  14. Kota Bukittinggi, Provinsi  Sumatera Barat,
  15. Kota Ambon, Provinsi Maluku,
  16. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur,  Provinsi Sulawesi Utara.

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara 
Gerakan tanah terjadi pada kawasan pertambangan di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, pada hari Minggu 3 Juni 2018 pukul 15.00 WITA, setelah sebelumnya terjadi hujan besar. Gerakan tanah berasal dari perbukitan dengan kemiringan lereng yang cukup curam dan merupakan area penambangan secara tradisional. Gerakan tanah yang diperkirakan berupa Longsoran bahan rombakan ini mengakibatkan 5 orang penambang meninggal dan 1 penambang masih dalam pencarian oleh tim BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow, Basarnas Kota Mobagu, TNI, Polri, relawan dan masyarakat. 

Sumber :

https://www.suara.com/news/2018/06/04/084750/longsor-timbun-6-penambang-emas-di-sulawesi-utara-5-orang-tewas;

https://www.gatra.com/rubrik/nasional/pemerintahan-daerah/325590-Tertimbun-Longsor-di-Bolaang-Mongondow-lima-dari-enam-korban-ditemukan-meninggal

Penyebab gerakan tanah diperkirakan lereng yang curam,adanya penambangan tradisional yang belum mengikuti aturan sistem penambangan yang benar ,tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air,tidak adanya sistem drainase/saluran air di area penambangan serta dipicu curah hujan yang tinggi

2. Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur 
Gerakan tanah terjadi di sekitar Pemakaman Muslimin, Jalan Damai RT 27 Kelurahan Sidodamai,  Kota Samarinda, Provinsi Kalimantar Timur pada hari Minggu 3 Juni 2018, akibat hujan yang turun seminggu terakhir. Gerakan tanah yang diperkirakan berupa Longsoran tanah mengakibatkan makam di beberapa titik rusak. Sementara 6 makam sudah dipindahkan dan 17 makam lainnya masih terancam.

Sumber :

http://kaltim.tribunnews.com/2018/06/03/kuburan-rusak-karena-longsor-bidang-pemakaman-mengaku-tak-bisa-berbuat-banyak

Penyebab gerakan tanah diperkirakan lereng yang agak terjal,minimnya pepohonan penahan lereng ,tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air,kurang berfungsinya drainase/saluran air,dipicu curah hujan yang tinggi

3. Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau 
A. Gerakan tanah pertama terjadi di Jalan Gerilya Parit 6 Kota Tembilahan Dukuh Gentan RT 04 RW 02, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, pada hari Minggu 3 Juni 2018 sekitar pukul 14.10 WIB, Gerakan tanah yang diperkirakan berupa Longsoran bahan rombakan ini terjadi di dekat  sungai Indragiri dan mengakibatkan 1 rumah dan 2 bangunan gudang rusak terseret air sungai Indragiri

Sumber :

https://www.antaranews.com/berita/715667/longsor-kembali-rusak-rumah-dan-gudang-milik-warga

B. Gerakan tanah kedua terjadi di Jalan Kenangan RT. 02 RW. 01 Desa Tanjung Baru, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Sabtu 2 Juni 2018 sekira pukul 12.00 WIB.  Gerakan tanah yang juga diperkirakan berupa Longsoran bahan rombakan terjadi di dekat sungai Tanjung Baru dan mengakibatkan 4 rumah/KK (yang terdiri dari 8 jiwa) rusak terseret sungai Tanjung Baru.

Sumber :

http://pekanbaru.tribunnews.com/2018/06/03/terdengar-suara-papan-retak-disusul-tanah-bergerak-gerak-rumah-irwan-roboh-akibat-longsor

Penyebab gerakan tanah diperkirakan rumah dan bangunan gudang yang berdekatan dengan tepi sungai,kuatnya arus sungai yang menyeret rumah diatasnya minimnya pepohonan dan bangunan penahan arus air di tepi sungai ,tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap dan terbawa arus air

Rekomendasi :

  • Material segera dibersihkan dari area yang terkena longsoran
  • Sementara penambangan dihentikan
  • Perlu penerapan aturan teknis penambangan yang direkomendasikan Kementrian ESDM atau Dinas ESDM
  • Perlu penataan air beserta drainasenya
  • Area pemakaman segera diperbaiki dan diberi perkuatan tebing penahan makam dengan fondasi mencapai tanah yang keras
  • Perlu dibuat bangunan permanen penahan arus air di tepi sungai
  • Bangunan digeser menjauh tepi sungai
  • Fungsikan bantaran sungai
  • Perlu penanaman pohon dan penataan lingkungan di sekitar lokasi bencana
  • Perlu kewaspadaan bagi warga yang bermukim di sekitar sungai Indragiri dan sungai Tanjung Baru, bila perlu mengungsi jika terjadi hujan lebat
  • Perlu sosialisasi kepada warga terkait ancaman gerakan tanah ataupun erosi/abrasi sungai dan upaya mitigasinya.