Laporan Kebencanaan Geologi 14 Juni 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Kamis 14 Juni 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 50-200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah tenggara dan timur. Melalui rekaman seismograf pada 13 Juni 2018 tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frekuensi
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih sedang - kelabu setinggi 2000 m dari puncak. Terjadi erupsi pada pukul 11:05 WITA dengan tinggi kolom abu 2000 m diatas puncak, kolom abu condong dan terbawa angin ke arah barat - baratdaya. Angin bertiup lemah ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 13 Juni 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 14 Juni 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan
  • mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2018 pukul 11:17 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat - baratdaya.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putihtipis- sedang dengan ketinggian 10-50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah baratdaya, barat, timur, timurlaut dan tenggara. Melalui rekaman seismograf pada 13 Juni 2018 tercatat:

  • 6 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Low Frekuensi
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tebal dengan ketinggian 200-700 m di atas puncak. Letusan teramati dengan tinggi 700 m di atas puncak dengan warna asap putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah timur dan tenggara. Melalui seismograf tanggal 13 Juni 2018 tercatat:

  • 5 kali gempa Letusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-10 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2018 pukul 08:58 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. Melalui seismograf tanggal 13 Juni 2018 tercatat:

  • 56 kali gempa Letusan
  • 64 kali gempa Hembusan
  • 29 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Juni 2018 pukul 18:01 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gempa Bumi

1) Gempa bumi di Baratdaya Kepulauan Mentawai, Sumatera barat

Informasi gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Rabu, 13 Juni 2018 pukul 06:08:30 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 2,06°LS dan 98,61°BT (105 km BaratDaya Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat), dengan magnitudo 5,9 SR pada kedalaman 41 km. Berdasarkan informasi dari USGS, Amerika Serikat pusat gempa bumi berada pada koordinat 2,100°LS dan 98,520°BT (94 km BaratBaratDaya Muara Siberut, Sumatera Barat), dengan magnitudo M 5,8 pada kedalaman 10 km. Gempa bumi ini diikuti oleh gempa susulan:

  • Pada pukul 06:46 WIB; koordinat: 2,01° LS, 98,64° BT; kedalaman: 10 km; magnitudo: 5,5 SR (BMKG).
  • Pada pukul 09:07 WIB; koordinat: 2,05° LS, 98,57° BT; kedalaman: 10 km; magnitudo: 5,6 SR (BMKG).
  • Pada pukul 13:59 WIB; koordinat: 1,97° LS, 98,60° BT; kedalaman: 11 km; magnitudo: 5,6 SR (BMKG).

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:

Berdasarkan tataan tektoniknya, Pantai Barat Sumatera dipengaruhi oleh zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. Kondisi geologi di sekitar pusat gempa bumi, pada umumnya tersusun oleh alluvium dan endapan pantai, batuan sedimen berumur Tersier serta batuan Pra-Tersier. Jenis batuan berumur muda seperti alluvium dan batuan Kuarter biasanya bersifat urai dan mengamplifikasi guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Diperkirakan berasosiasi aktivitas pada zona penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia di Pantai barat Sumatera.

Dampak gempa bumi:

Gempa bumi ini tidak memicu tsunami. Belum ada laporan kerusakan bangunan maupun korban jiwa atau luka akibat gempa bumi.

2). Gempa bumi di Madura, Jawa Timur

Informasi gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Rabu, 13 Juni 2018, pukul 20:06 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat  6,88°LS dan 113,94°BT (6 km sebelah TimurLaut Sumenep, Madura, Jawa Timur), dengan magnitudo 4,8 SR pada kedalaman 12 km. GFZ, Jerman melaporkan pusat gempa bumi berada pada koordinat 6,92°LS dan 113,93°BT, pada kedalaman 10 km dengan magnitudo 4,6 mb.

Kondisi geologi daerah terdampak gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di darat, di sebelah timur laut Pulau Madura. Wilayah sekitar pusat gempa bumi disusun oleh  batuan karbonat dan batuan sedimen berumur Tersier. Batuan berumur Tersier yang telah terlapukan pada umumnya bersifat urai dan dapat memperkuat efek guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Diperkirakan berasosiasi dengan pergerakan sesar aktif di lokasi tersebut.

Dampak gempa bumi:

Berdasarkan informasi BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Sumenep dengan intensitas III-IV  MMI. Berdasarkan laporan beberapa media online, kejadian gempa bumi ini menyebabkan kepanikan masyarakat di wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur serta menyebabkan kerusakan pada beberapa bangunan di Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena berpusat di darat. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi adanya korban jiwa atau luka-luka yang diakibatkan gempa bumi ini.

Rekomendasi:

(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.

b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.

c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);

d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 50-200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah tenggara dan timur. Melalui rekaman seismograf pada 13 Juni 2018 tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frekuensi
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA dengan ketinggian kolom abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali berfluktuasi dalam tingkatan rendah. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaan secara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih sedang - kelabu setinggi 2000 m dari puncak. Terjadi erupsi pada pukul 11:05 WITA dengan tinggi kolom abu 2000 m diatas puncak, kolom abu condong dan terbawa angin ke arah barat - baratdaya. Angin bertiup lemah ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 13 Juni 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 14 Juni 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putihtipis- sedang dengan ketinggian 10-50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah baratdaya, barat, timur, timurlaut dan tenggara. Melalui rekaman seismograf pada 13 Juni 2018 tercatat:

  • 6 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Low Frekuensi
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tebal dengan ketinggian 200-700 m di atas puncak. Letusan teramati dengan tinggi 700 m di atas puncak dengan warna asap putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah timur dan tenggara. Melalui seismograf tanggal 13 Juni 2018 tercatat:

  • 5 kali gempa Letusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-10 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. Melalui seismograf tanggal 13 Juni 2018 tercatat:

  • 56 kali gempa Letusan
  • 64 kali gempa Hembusan
  • 29 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

 

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2018 pukul 11:17 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat - baratdaya.

(3) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(4) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2018 pukul 08:58 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

(5) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 12 Juni 2018 pukul 18:01 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.