Laporan Kebencanaan Geologi 4 Juli 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Rabu 4 Juli 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal dan ketinggian sekitar 300 m di atas puncak.Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 3 Juli 2018 tercatat:

  • 12 kali gempa Hembusan
  • kali gempa Tektonik Jauh
  • kali gempa Tremor

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu-waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati emisi gas berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal. Tinggi kolom asap sekitar 2000 meter dari atas puncak kawah. Terjadi Letusan dengan tinggi sekitar 500 - 2000 meter diatas puncak kawah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.

 

Rekaman seismograf tanggal 3 Juli 2018 tercatat :

  • 3 kali gempa Letusan
  • 33 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Terasa skala II MMI

Tanggal 4 Juli 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali gempa letusan
  • 6 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 Juli 2018 pukul 05:06 WITA, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom abu maksimal sekitar 4142 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m dari atas puncak. Angin bertiup ke arah barat.

G. Krakatau (Lampung):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Anak Krakatau (2968 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas sejak 18 Juni 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara, barat dan barat laut.

Rekaman seismograf tanggal 3 Juli 2018 tercatat:

  • 83 kali gempa Letusan
  • 183 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • kali gempa Vulkanik Dalam
  • 5 kali gempa Tremor

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 1 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 3 Juli 2018 pukul 18:21 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap tidak terlihat dengan jelas.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih intensitas tipis dengan tinggi sekitar 50 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah utara dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 3 Juli 2018 tercatat:

  • 6 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 3 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama

berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 600 meter dari puncak.

Melalui seismograf tanggal 3 Juli 2018 tercatat :

  • 3 kali Gempa Letusan
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-20 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 3 Juli 2018 pukul 18:29 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah utara dan barat.

Melalui seismograf tanggal 3 Juli 2018 tercatat:

  • 69 kali gempa Letusan
  • 81 kali gempa Hembusan
  • 34 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 Juni 2018 pukul 09:44 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juli 2018 yang dibandingkan bulan Juni 2018,   umumnya potensinya cenderung menurun di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera sementara di wilayah Sulawesi Maluku dan Papua perlu waspada terhadap potensi kejadian gerakan tanah .

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1.Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan

2.Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan

3.Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan

Penyebab: Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air serta dipicu curah hujan yang tinggi.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   mengakibatkan akses jalan terhambat di Kabupaten Gowa (Provinsi Sulawesi Selatan) dan di Kabupaten Bulukumba (Provinsi Sulawesi Selatan); jalan terhambat dan rumah warga terancam longsor di Kabupaten Toraja Utara (Provinsi Sulawesi Selatan).

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di barat laut Kep. Sangihe, Sulawesi Utara

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, 3 Juli 2018. Berdasarkan informasi dari BMKG gempa bumi terjadi pada pukul 16:59:55 WIB, pusat gempa berada pada koordinat 5,77°LU dan 125,22°BT dengan magnituda 6,0 SR pada kedalaman 77 km berjarak 240 km barat laut Kep. Sangihe, Sulawesi Utara.

Kondisi geologi daerah terdekat:

Pusat gempa bumi ini berada di darat negara Filipina, daerah terdekat pusat gempa bumi tersusun oleh batuan sedimen, batuan gunungapi dan batuan malihan berumur Tersier dan batuan gunungapi berumur Kuarter. Pada batuan yang telah mengalami pelapukan, belum kompak dan bersifat lepas akan memperkuat efek goncangan gempa sehingga akan lebih dirasakan.

Penyebab Gempa bumi;

Berdasarkan data kedalaman pusat gempa bumi, diperkirakan gempa bumi ini berasosiasi subduksi di selatan Filipina.

Dampak Gempa bumi:

Belum ada laporan mengenai kerusakan dan korban yang ditimbulkan oleh gempa bumi ini. Pos Pengamatan Gunung api Awu terasa II MMI. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami karena energinya tidak cukup kuat untuk memicu gelombang tsunami.

Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPPD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang energinya diharapkan lebih kecil dari gempa utama.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.

b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.

c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*,

Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);

d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV

(Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal dan ketinggian sekitar 300 m di atas puncak.Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 3 Juli 2018 tercatat:

  • 12 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • 2 kali gempa Tremor

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar.Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaan secara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan

Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati emisi gas berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal. Tinggi kolom asap sekitar 2000 meter dari atas puncak kawah. Terjadi Letusan dengan tinggi sekitar 500 - 2000 meter diatas puncak kawah. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.

Rekaman seismograf tanggal 3 Juli 2018 tercatat :

  • 3 kali gempa Letusan
  • 33 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Low Frequency
  • kali gempa Vulkanik Dangkal
  • kali gempa Vulkanik Dalam
  • kali gempa Terasa skala II MMI

Tanggal 4 Juli 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali gempa letusan
  • 6 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

G. Krakatau (Lampung):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Anak Krakatau (2968 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas sejak 18 Juni 2018.Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Anak Krakatau secara visual sering tertutup kabut, apabila cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).

Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.Pengamatan Visual G. Anak Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 100 – 200 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau. Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara, barat dan barat laut.

Rekaman seismograf tanggal 3 Juli 2018 tercatat:

  • 83 kali gempa Letusan
  • 183 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • kali gempa Vulkanik Dalam
  • 5 kali gempa Tremor

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih intensitas tipis dengan tinggi sekitar 50 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah utara dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 3 Juli 2018 tercatat:

  • 6 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 3 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual cuaca berawan hingga hujan , angin lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 600 meter dari puncak.

Melalui seismograf tanggal 3 Juli 2018 tercatat :

  • 3 kali Gempa Letusan
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0,5-20 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah utara dan barat.

Melalui seismograf tanggal 3 Juli 2018 tercatat:

  • 69 kali gempa Letusan
  • 81 kali gempa Hembusan
  • 34 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yang berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id)

ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 Juli 2018 pukul 05:06 WITA, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom abu maksimal sekitar 4142 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m dari atas puncak. Angin bertiup ke arah barat.

(3) G. Anak Krakatau, Lampung.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 3 Juli 2018 pukul 18:21 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap tidak terlihat dengan jelas.

(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(5) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 3 Juli 2018 pukul 18:29 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah barat.

(6) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 21 Juni 2018 pukul 00:44 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara. Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juli 2018 yang dibandingkan bulan Juni 2018 akan cenderung tetap potensinya di sebagian besar wilayah indonesia mulai dari sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi ,Nusa Tenggara, Maluku dan Papua yang masih relatif tinggi. Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan, Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku , dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

1.Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan*,

2.Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan*,

3.Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan*,

4. Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur,

5. Kota Palopo,Provinsi Sulawesi Selatan,

6. Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan,

7.Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat,

8.Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,

9.Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat,

10.Kabupaten Solok, Provinsi Sumatra Barat,

11. Kabupaten Enrekang , Provinsi Sulawesi Selatan,

12. Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan,

13. Kota Ambon, Provinsi Maluku,

14. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah,

15.Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan

Bencana longsor terjadi di Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa, Sulsel, Selasa (3/7/2018). Akibatnya jalur penghubung dari Gowa ke Sinjai sempat terputus sementara. Material longsor tutupi badan jalan yang menghubungkan antara Kabupaten Gowa dan Kabupaten Sinjai Barat. Longsor terjadi sekitar jam 14.30 siang, sedangkan pembersihan material sampai saat ini masih terus dilakukan. Badan jalan yang tertimbun oleh material kurang lebih dua puluh meter.

Sumber:http://makassar.tribunnews.com/2018/07/03/longsor-tutup-jalan-penghubung-gowa-sinjai-barat

Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran tanah. Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air serta dipicu curah hujan yang tinggi.

2.Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan

Hujan deras yang mengguyur sebagian wilayah di Sulsel sejak dua hari terakhir mengakibatkan banjir dan longsor. Seperti terjadi di Kahayya, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Selasa (3/7/2018). Longsor menimpa jembatan yang menghubungkan Desa Kahayya dan ibu kota Kecamatan Kindang, Bulukumba. Penyebab longsor itu karena daerah tersebut memang diguyur hujan deras dan konstruksi tanah di Kahayya sangat labil. Longsor menutupi jembatan, tetapi jembatannya tidak runtuh dan membuat akses jalan tertutup.

Sumber:http://news.rakyatku.com/read/108281/2018/07/03/material-longsor-tutup-jembatan-kahayya-bulukumba-akses-menuju-ibu-kota-terputus

Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air serta dipicu curah hujan yang tinggi.

3.Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan

Hujan lebat yang terus mengguyur wilayah kabupaten Toraja Utara dalam beberapa hari terakhir menyebabkan tanah longsor di Lembang Sangkaropi, kecamatan Sa’dan, Senin, 2 Juli 2018. Tanah longsor itu menyebabkan jalan penghubung antar kampung di Lembang Sangkaropi, putus. Sebagian badan jalan yang menghubungkan kampung Tanete dan To’tallang, ambruk. Lokasi longsor di Dusun 4 Sangkaropi (Lale). Selain menyebabkan jalan putus, beberapa rumah warga juga terancam longsor.

Sumber:https://www.karebatoraja.com/longsor-di-sangkaropi-jalan-putus-rumah-warga-dalam-bahaya/

Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air serta dipicu curah hujan yang tinggi.

*Rekomendasi:

  • Masyarakat yang beraktifitas dan pengguna jalan di sekitar lokasi bencana agar meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan tanah susulan terutama saat hujan deras dalam waktu lama.
  • Saat dan setelah hujan deras, masyarakat agar sementara menggunakan jalur alternatif lain hingga jalan dibersihkan dan dinyatakan aman oleh pemerintah setempat.
  • Segera membersihkan material longsor yang menimbun jalan agar akses jalan dapat pulih kembali. Proses pembersihan agar selalu mengutamakan keselamatan dan waspada terhadap gerakan tanah susulan.
  • Masyarakat yang terdampak agar mengungsi ke tempat yang aman.
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan memasang rambu-rambu peringatan mengenai lokasi gerakan tanah beserta gejala yang menyertainya.
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.