Peningkatan Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Bencana Gerakan Tanah/ Longsor

Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng aktif dunia, yaitu Indo-Australia, Pasifik dan Eurasia. Sebagai konsekuesinya Indonesia  rawan terjadi bencana geologi yaitu gempa bumi, tsunami, gerakan tanah dan letusan gunung api, yang memerlukan perhatian serius. Namun demikian ibarat sisi mata uang disamping sisi negatif berupa ancaman bencana geologi, sisi positifnya menjadikan Indonesia memiliki tanah yang subur, 128 cekungan sedimen, 329 tempat manifestasi panas bumi, 421 cekungan air tanah, dan memiliki jalur metallogenik sehingga Indonesia banyak memiliki sumber daya mineral dan energi yang tentunya harus dikelola secara bijak dan berkeadilan.

Rabu, 11 Oktober 2017 bertempat di Auditorium Geologi Bandung, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengadakan sosialisasi kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana gerakan tanah / longsor dengan tema “Peningkatan Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Bencana Gerakan Tanah/ Longsor”

Acara yang dibuka oleh Plt. Ka. Badan Geologi Rida Mulyana, dihadiri oleh Dinas ESDM Provinsi, BPBD Provinsi/Kabupaten/Kota, perwakilan Universitas ITB dan UPI, dalam acara ini ditampilan 2 (dua) pembicara yaitu Ir. Agus Budianto yang membawakan materi presentasi Peningkatan Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Bencana Gerakan Tanah/ Longsor kemudian dilanjutkan oleh Ir. Martanto yang mengetengahkan tentang Aplikasi MAGMA INDONESIA

Dalam sambutannya Plt. Ka. Badan Geologi lebih banyak menyoroti tentang bagaimana seharusnya peran pemerintah dalam hal ini pemangkukebijakan kebencanaan untuk lebih banyak melakukan kegiatan yang menyentuh masyarakat yang menjadi layer terbawah dalam kebencaaan geologi.

“Berdasarkan data-data yang ada, hingga Oktober 2017 telah terjadi 845 kejadian gerakan tanah di seluruh wilayah Indonesia. Kejadian gerakan tanah paling banyak terjadi di Provinsi Jawa Barat dengan total 154 kejadian, dan korban jiwa terbanyak di daerah Jawa Timur dengan jumlah korban meninggal mencapai 41 orang” demikian Plt. Ka. Badan Geologi. Rida Mulyana dalam awal sambutannya.

Plt. Ka. Badan Geologi dalam sambutan lainnya “meminta kepada para peserta yang hadir untuk memprioritaskan penanggulangan bencana kepada upaya-upaya sebelum terjadinya bencana, seperti misalnya sebelum terjadi bencana dilakukan penelitian dan pemetaan potensi bahaya yang ditindaklanjuti dengan pemantauan untuk dapat memberikan peringatan dini”,  Plt. Ka. Badan Geologi selanjutnya menerangkan bahwa Badan Geologi Kementerian ESDM, pada saat ini juga berperan aktif dalam pengurangan risiko bencana sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawabnya. Pembuatan peta-peta kebencanaan geologi seperti peta kawasan rawan bencana gempa bumi, tsunami, gunungapi dan gerakan tanah yang disertai rekomendasi teknis, serta mensosialisasikan ke masyarakat di kawasan rawan bencana.

Diakhir sambutannya Plt. Ka. Badan Geologi mengajak para Pemerintah Daerah untuk mewaspadai potensi longsor yang senantiasa bisa terjadi baik skala kecil maupun besar terutama memasuki awal musim penghujan sekarang ini.

Acara ditutup oleh Ka. Bidang Mitigasi Gerakan Tanah Ir. Agus Budianto, dan dalam sambutan penutupan meminta kepada peserta untuk meneruskan informasi kepada masyarakat.

 

sosialisasi gerakan tanah

Plt. Ka. Badan Geologi Rida Mulyana, membuka dan sekaligus memberikan sambutan dalam acara sosialisasi

 

sosialisasi gerakan tanah 2

Ir. Agus Budianto, Ka. Bidang Mitigasi Gerakan Tanah memberikan paparan tentang Peningkatan Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Bencana Gerakan  Tanah/ Longsor

 

sosialisasi gerakan tanah 3

Martanto,S.T.  memberikan presentasi tentang Aplikasi MAGMA Indonesia

 

 

Yana Karyana 
#HUMAS_pvmbg